Menjadi Gundik Suamiku

Menjadi Gundik Suamiku
BAB 24


__ADS_3

HAPPY READING


Una tersenyum sendu saat Nadhif menghilang dari pandangannya. "Bukannya tidak menemani anakku, Tuan. Ada pertanyaan Hanum yang berusaha aku elakkan," gumam Una dengan air mata yang tanpa aba-aba menetes dan membasahi pipi mulusnya.


Sangat sulit bagi una untuk berada diposisi ini. Melayani suami dengan menjadi seorang Wanita bayaran, atau merawat anaknya yang terus merundung dengan berbagai pertanyaan yang menyakitkan. “ibu memang tidak tahu ayah kamu, nak. Tapi percayalah kalau kamu punya ayah,” gumam una menghapus air matanya.


…..


Nadhif berjalan memasuki Lorong kamar inap hanum.


“nadhif,” panggil sebuah suara yang menghentikan Langkah kaki nadhif.


Nadhif berbalik. “paman,” panggil nadhif pelan.


“kau akan ke ruangan hanum?” tanya rizal yang juga akan ke ruangan hanum.


Nadhif mengangguk kaku.


“kalau begitu paman titip ini. Hanum akan sangat senang saat mendengarkan suara laki-laki dari speaker ini,” ucap rizal memberikan radio dengan bentuk kotak kepada nadhif.


“laki-laki?” tanya nadhif tak paham.


Rizal mengangguk. “ini adalah berbagai macam rekaman cerita pengantar tidur. Hanum selalu ingin diceritakan oleh ayahnya, makanya aku membelikan ini radio ini,” ucap rizal menjelaskan.


Nadhif mengangguk. Mungkin malam ini dia yang akan menggantikan tugas speaker ini. “baiklah. Akan aku bawa,” ucap nadhif mengambil speaker itu dan melanjutkan langkahnya memasuki ruangan hanum.


Dengan perlahan tangan nadhif membuka pintu kamar hanum. Nadhif takut akan membangun hanum jika anak itu sudah tidur.


Nadhif tersenyum. Gadis kecil yang kini kembali mencuri perhatiannya nampak sangat serius menonton televisi yang menamilkan kartun dua anak kembar botak yang tak kunjung besar itu.


“selamat malam,” ucap nadhif senang dan tentu saja disambut senyum manis oleh hanum dengan wajah terkejutnya menatap kedatangan nadhif.


“papi datang?” tanya hanum senang.

__ADS_1


Nadhif mengangguk. “papi datang untuk memenuhi janji papi dengan gadis kecil yang cantik,” ucap nadhif mencolek dagu hanum yang membuat anak itu merona malu. Sudah lama sekali dia tidak diperlakukan seperti ini oleh nadhif. Dan sekarang dia kembali mendapatkannya.


“papi,” panggil hanum lembut pada nadhif yang sudah duduk di kursi sebelah ranjang.


“iya,” jawab nadhif lembut mengusap rambut hanum. Pandangan anak itu kini benar-benar sudah teralihkan pada nadhif.


“terimakasih, papi. Terimakasih sudah datang kesini,” ucap hanum tulus dengan pandangan polosnya.


Nadhif mengangguk dan tersenyum. “tadi dokter rizal titip ini untuk hanum,” ucap nadhif memberikan speaker yang tadi diberikan rizal kepadanya.


Hanum menerimanya dengan pandangan berbinar. “akhirnya bisa dengar cerita lagi dari ayah,” ucap hanum senang yang membuat nadhif bingung.


“ayah?” beo nadhif bertanya.


Hanum mengangguk antusias. “iya ayah,” jawab hanum yakin.


“kenapa hanum panggil ayah? Bukannya sudah ada papi?” tanya nadhif lagi.


“ayah itukan laki-laki. Jadi jika hanum tidur di rumah sakit, dokter rizal selalu berikan ini sama hanum. Katanya ini bisa jadi ganti ayahnya hanum yang gak ada, papi,” ucap hanum polos yang sangat menyentil hati nadhif.


“malam ini, biarkan papi yang menggantikan speaker ini, ya,” ucap nadhif lembut.


“maksudnya?” tanya hanum tak paham.


“malam ini papi yang akan membacakan cerita tidur untuk hanum. Jadi, sekarang kita gak butuh speaker ini,” ucap nadhif mengambil lembut speaker itu dari tangan hanum dan meletakkannya di meja sebelah ranjang hanum.


“papi mau jadi ayah hanum?” tanya hanum dengan senyum penuh harapnya.


“kenapa hanum tanya seperti itu?” tanya nadhif.


“hanum lagi rayu papi. Jadi papi mau jadi ayah hanum?” tanya hanum lagi dengan mengulurkan tangan mungilnya mengajak nadhif bersalaman.


Nadhif tersenyum. Ternyata semenggemaskan ini anak kecil yang beberapa minggu ini dia diamkan dengan sikap dingin dan kasarnya. “baiklah, tuan putri. Aku menerima ajakanmu. Sekaranh aku adalah ayahmu, dan kau adalah anakku,” jawab nadhif ikut senang.

__ADS_1


Tawa kecil hanum terdengar kala tangan mungil itu hilang dibalik jabatan tangan besar nadhif. Setelahnya nadhif mulai mengajak hanum berbicara mengenai apapun yang dapat menghibur anak itu. Nadhif juga membacakan beberapa dongeng yang di acari lewat ponselnya untuk mengantar tidur hanum.


Setelah membaca dua cerita, nadhif menghela nafas pelan. Akhirnya hanum memejamkan mata karean cerita yang dia bacakan. Tangan nadhif mengusap lembut rambut hanum. Kini posisinya lelaki itu tidur miring diatas ranjang dengan hanum. Tentu itu atas permintaan hanum.


“kamu anak yang baik, hanum. Tapi sayang, kamu harus lahir dari tempat yang kotor,” ucap nadhif pelan dengan mata menatap lekat pada hanum.


Seseorang yang tadi melihat interaksi suaminya dengan sang anak kini menutup pintu. Mendengar perkataan nadhif sungguh membuat hati una sangat tersentil. “begitu mudah memberi penilaian kepada manusia,” gumam una duduk di kursi tunggu depan ruang rawat hanum.


…..


Nadhif turun dari ranjang hanum. Kakinya memakai sendal yang ada disana dan berjalan menuju pintu untuk keluar.


Senyum una menyambut pandangan nadhif saat dia membuka pintu kamar rawat hanum. “Hanum sudah tidur,” ucap nadhif memberitahu.


Una mengangguk. “terimakasih sudah menerima pinangan anakku, tuan. Terimakasih sudah bersedia menjadi ayahnya,” ucap una dengan senyumnya menatap nadhif.


“aku hanya menjaga perasaan hanum. Aku kasian padanya. Sudah jelas sakit, tapi ibunya memberikan nafkah yang tak halal,” ucap nadhif menatap rendah pada una.


Una tersenyum. Dia tidak akan terpengaruh dengan apa yang nadhif sampaikan. Tetap tersenyum seolah semuanya baik-baik saja adalah hal yang harus una lakukan saat ini.


“kalau begitu jadilah ayah yang baik untuk hanum, tuan. Jika saya bukan ibu yang baik, setidaknya hanum punya ayah yang baik yang bisa dia banggakan,” ucap una dengan senyum manisnya menatap nadhif.


Nadhif mendengus kesal. Melihat senyum una membuatnya tak nyaman. Entah karena apa, dia paling tidak suka saat una tidak terpengaruh dengan apa yang dia sampaikan.


“kau masuklah. Setidaknya kamu masih memikirkan anakmu daripada menemani pelangganmu,” ucap nadhif sarkas dan pergi meninggalkan una yang masih berdiri menatap punggung nadhif yang menjauh darinya.


Una memegang dadanya. Rasanya sangat sakit sekali mendengar setiap apa yang disampaikan oleh nadhif. Tapi tidak apa, yang penting sekarang nadhif sudah mau menemui anaknya.


“untuk apa aku pergi saat anak dan suamiku sudah disini. Andai tuan tahu jika pelanggan yang aku temani adalah tuan sendiri. Semoga nanti tuan bisa mencintaiku seperti tuan mencintai mira. Semoga nanti tuan bisa menginginkan aku seperti tuan sangat menginginkan mira. Semoga saja, tuan.”


.................................


Semoga menikmati, ya teman-teman. Jangan lupa kasih like dan komentar kalian, biar aku makin semangat, yaa.

__ADS_1


Jangan lupa mampir di Instagram aku ya, @nonamarwa_ Kalian bisa melihat postingan-postingan bermanfaat disana dan juga mengenai semua karya-karya ku. Terimakasih ,,,,,,,


__ADS_2