
HAPPY READING
"Dia siapa Tuan?" tanya Mark ketika selesai menghubungi staf rumah sakit. Lelaki itu ikut melihat sedikit ke dalam ruangan dan pandanganya menatap sosok anak kecil yang sedang asik menonton televisi di ruang tersebut.
Nadhif menggeleng. "Bukan siapa-siapa, Mark," ucap Nadhif dengan pandangan tak lepas dari Hanum.
Mark mengangguk, meskipun dia ragu akan jawaban Tuannya itu. Mark memang tidak mengetahui bagaimana rupa Hanum. Karena yang dia tahu hanya wajah Una dan Una telah memiliki anak. Namun, Mark tidak pernah melihat wajah anak Una karena memang saat pernikahan itu Mark tidak ada. Mark mengetahui pernikahan Nadhif hanya karena Nadhif bercerita kepadanya.
"Ayo Mark!" ucap Nadhif dan berlalu pergi dari depan ruangan Hanum diikuti Mark di belakang.
Nadhif sampai di ruangannya. Lelaki itu langsung mendudukkan tubuhnya di kursi dengan tenang. Tidak berselang lama setelah kedatangan Nadhif, seorang karyawan rumah sakit datang dengan sebuah file ditangannya.
"Maaf, Tuan. Ini adalah data yang Tuan inginkan," ucap Karyawan tersebut.
"Kau boleh keluar," ucap Nadhif setelah menerima file tersebut.
"Kau juga keluarlah, Mark. Aku ingin sendiri," ucap Nadhif yang langsung dianggukki eh Mark.
Setelah memastikan Mark keluar dari ruangannya. Mark membuka File tersebut. Matanya dengan lihai bergerak mencari nama seseorang yang dia butuhkan untuk menjawab rasa penasarannya saat ini juga.
Tepat pada nomor enam puluh tujuh, mata Nadhif berhenti bergerak dan memfokuskan pandanganya pada data nomor tersebut.
Haisya Hanum Hanania. Batin Nadhif mengeja nama tersebut.
Mata Nadhif kembali bergerak melihat semua data Hanum. Sehingga keyakinan Nadhif semakin besar ketika melihat nama orang tua yang tertera disana adalah Lubna Azizah.
Nadhif menjatuhkan file tersebut di meja. Badannya dua sandarkan di punggung kursi seolah menopang kekuatan tubuhnya. Tubuh Nadhif seakan kehilangan tenaga ketika melihat penyakit apa yang di derita oleh Hanum. Entah mengapa, tubuh Nadhif terasa kaku dan panas dingin karena mendapat kenyataan ini. Pantas saja, Nadhif sering melihat Hanum mimisan. Namun, karena keegoisannya, Nadhif mengabaikan dan tidak peduli dengan anak itu. Anak yang dia ketahui berstatus sebagai anak tirinya saat ini. Anak tiri yang tidak pernah dia anggap keberadaanya setelah menikah dengan Una.
Rheumatic Heart Disease (RHD). Itu lah nama penyakit yang Nadhif baca pada data Hanum.
Nadhif mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Mark.
"Halo Mark," ucap Nadhif ketika panggilannya terhubung.
"Iya Tuan," jawab Mark dari balik panggilan.
__ADS_1
"Panggilan Dokter Rizal untuk segera ke ruangan ku, Mark. Aku menunggu dalam sepuluh menit," ucap Nadhif tanpa ada bantahan dan langsung memutus sambungan teleponnya.
Nadhif tahu, satu-satunya dokter ahli jantung hebat di rumah sakitnya hanya Dokter Rizal. Oleh karena itu, tanpa pikir panjang, Nadhif langsung meminta Dokter Rizal untuk datang.
Nadhif menghela nafas pelan. Perkataanya kemarin kepada Una yang mengatakan bahwa anak haramnya itu ikut menjadi pelacur membuat penyesalan di hati Nadhif.
Maaf. Batin Nadhif mengucap maaf dengan wajah Hanum yang selalu berputar di pikirannya.
.....
Diruang rawat Hanum, Una keluar dari kamar mandi dengan wajah leganya karena selesai membuang kotoran yang ada dalam perutnya. Una melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi sebelah ranjang.
Una tersenyum melihat Hanum yang sesekali tertawa saat menonton kartun yang menampilkan anak kembar yang tidak kunjung dewasa itu dari televisi. Tangannya tidak henti memakan buah yang sudah dipotong kecil oleh Una sebelumnya.
Ibu senang kamu tertawa lepas seperti ini, Nak. Kadang, Ibu berfikir bahwa kamu lebih bahagia di rumah sakit ini daripada di rumah. Setidaknya, di rumah sakit ini kamu tidak ketakutan akan kemarahan Tuan Nadhif. Hatimu juga tidak akan sedih karena mendengar cacian dan omong kasarnya, Nak. Batin Una sendu menatap Hanum.
"Ibu," suara kecil Hanum yang memanggilnya memutus pikiran Una.
"Iya Sayang," jawab Una.
"Em ... boleh Hanum bertanya sesuatu?" ucap Hanum ragu.
"Apa Tuan tahu jika Hanum disini, Ibu?" tanya Hanum menunduk menatap jari-jari tangannya yang saling memilin.
"Tuan titip salam untuk, Hanum. Tuan minta maaf karena tidak disini. Ada banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan, Nak," jawab Una.
Terpaksa, Una terpaksa harus berbohong. Tidak mungkin dalam keadaan Hanum yang sekarang Una mengatakan bahwa Nadhif tidak akan pernah peduli padanya.
"Apa Hanum bisa memanggil Tuan dengan sebutan Papi lagi, Bu?" tanya Hanum menatap Una sendu.
Una tersenyum. "Insyaallah, bisa Nak. Tidak ada yang mustahil. Dan Ibu sedang mengusahakannya, Nak," lanjut Una dalam hati di akhir kalimatnya.
"Ibu," panggil Hanum lagi.
"Iya Sayang," jawab Una.
__ADS_1
"Ini, kulit Hanum kayak gini lagi," ucap Hanum menunjuk bercak-bercak hitam di kulit kakinya. Ini sudah kesekian kalinya kulit Hanum memunculkan bercak hitam. Dokter Rizal mengatakan bahwa itu adalah efek dari penyakit yang diderita oleh Hanum.
"Tapi tidak sakit kan, Nak?" tanya Una hati-hati.
Hanum tersenyum dan menggeleng. "Tidak sakit, Bu. Tapi kulit Hanum kayak macan tutul," ucap Hanum terkekeh seakan apa yang ada di kulitnya adalah hal yang lucu dan unik.
.....
Disaat asik dengan lamunannya, pintu ruangan Nadhif diketuk dari luar.
"Masuk," titah Nadhif.
Orang yang ditunggu oleh Nadhif datang. Dokter Rizal melangkahkan kakinya memasuki ruangan Nadhif.
"Apa Tuan memanggil saya?" tanya Dokter Rizal setelah mendudukkan tubuhnya di kursi.
Nadhif mendengus. "Jangan membuatku tidak enak, Uncle," ucap Nadhif.
Dokter Rizal terkekeh kecil mendengar perkataan Nadhif. Ya, Dokter Rizal adalah Paman dari Nadhif yang merupakan adik dari Ibu Nadhif, Elara.
"Kenapa kau memanggil Uncle? Apa ada sesuatu yang tidak beres?" tanya Dokter Rizal.
"Kenapa Uncle tidak bilang jika Hanum memiliki penyakit seserius ini?" tanya Nadhif to the point' menatap Dokter Rizal.
"Apa kau pernah bertanya pada Uncle, Nadhif?" jawab Dokter Rizal dengan berbalik memberi pertanyaan pada Nadhif.
Iya juga. Batin Nadhif membenarkan apa yang dikatakan oleh Dokter Rizal. Dia memang tidak pernah bertanya apapun dan tidak pernah peduli. Lagian, hari-harinya sudah disibukkan oleh semua pekerjaan. Lagian, rasa benci yang ada di hatinya menutup semua kasih sayang hingga Nadhif tidak peduli dan tidak mau tahu atas apa yang terjadi pada Hanum dan Una.
"Sekarang jelaskan padaku, Uncle," ucap Nadhif.
Dokter Rizal menghela nafas pelan sebelum memulai ceritanya. "Hanum adalah pasienku sejak tiga tahun lalu, saat dia berusia dua tahun. Awalnya dia baik-baik saja, tapi karena pengobatan yang terputus, akhirnya dia menderita penyakit jantung rematik ini, Nadhif," ucap Dokter Rizal menjelaskan.
"Bagaimana gejalanya?" tanya Nadhif.
"Penyakit jantung rematik atau rheumatic heart disease (RHD) ini adalah kondisi ketika katup jantung rusak dalam jangka panjang karena demam reumatik. Yang terjadi karena akibat reaksi peradangan autoimun terhadap infeksi tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus A. Penyakit ini paling rentan terjadi pada anak-anak, Nadhif. Termasuk Hanum salah satu penderitanya," ucap Dokter Rizal.
__ADS_1
"Apa penyakit ini menyebabkan kematian, Uncle?"
...****************...