
HAPPY READING
"Penyakit jantung rematik atau rheumatic heart disease (RHD) ini adalah kondisi ketika katup jantung rusak dalam jangka panjang karena demam reumatik. Yang terjadi karena akibat reaksi peradangan autoimun terhadap infeksi tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus A. Penyakit ini paling rentan terjadi pada anak-anak, Nadhif. Termasuk Hanum salah satu penderitanya," ucap Dokter Rizal.
"Apa penyakit ini menyebabkan kematian, Uncle?" tanya Nadhif hati-hati.
DEG
Anggukan kepala dari Dokter Rizal membuat jantung Nadhif berdetak kencang. Kecemasan begitu saja menjalar ke hatinya.
"Te-termasuk Hanum?" tanya Nadhif pelan.
"Hanya Tuhan yang berkuasa atas nyawa seseorang, Nadhif. Termasuk nyawa Hanum. Tidak menutup kemungkinan Hanum untuk sembuh. Tapi, kemungkinan lain bisa terjadi, termasuk kematian. Penyakit jantung rematik ini perlu mendapat penanganan segera dan penanganannya akan disesuaikan dengan kerusakan yang terjadi. Bila tidak segera ditangani, penyakit jantung rematik berpotensi menimbulkan gagal jantung hingga kematian," jawab Dokter Rizal memberi oleh jelasan kepada Nadhif.
"Lalu Hanum?" tanya Nadhif dengan cemas dan khawatir.
Dokter Rizal menghela nafas pelan dan beralih menatap Nadhif. "Hanum sekarang sudah menderita gagal jantung, Nadhif," jawab Dokter Rizal lirih.
"Separah itu, Uncle?" tanya Nadhif.
Dokter Rizal mengangguk. "Itu karena Hanum sempat menghentikan pengobatannya selama enam bulan," jawab Dokter Rizal.
Tangan Nadhif mengepal erat dibawah meja.
Kau mengobati anakmu dengan uang haram, Una. Batin Nadhif geram ketika pikirannya mengingat Una yang dia anggap bekerja memuaskan nafsu para lelaki di luaran sana.
"Apa penyakit ini bisa sembuh total, Uncle?" tanya Nadhif lagi.
"Pada sebagian besar kasus, gagal jantung merupakan kondisi seumur hidup yang tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, Nadhif. Sehingga pengobatan yang dilakukan hanya untuk mencegah kondisi penyakit memburuk serta mengontrol gejala selama mungkin. Tapi kembali lagi, Tuhan yang maha mengatur semuanya. Kita hanya perlu berdoa dan berusaha untuk kesembuhan dan kesehatan Hanum," ucap Dokter Rizal.
Nadhif menghela nafas pelan. Entahlah, dia tidak tahu mengapa dia se panik ini ketika mendengar mengenai penyakit Hanum. Hatinya ikut teriris mendengar betapa kuatnya anak itu menahan dan menanggung penyakitnya.
"Lakukan yang terbaik untuk Hanum, Dokter," ucap Nadhif sedikit memohon menatap Dokter Rizal.
Dokter Rizal mengangguk yakin. "Tanpa kau minta, aku akan melakukannya, Nadhif. Dia adalah anak sambung mu, jadi dia juga cucuku," jawab Dokter Rizal.
__ADS_1
"Jangan sampai orang tahu jika aku mengetahui semua ini, Uncle. Cukup sampaikan pada Ibunya jika pengobatan Hanum harus tetap dilanjutkan, dan jangan sampai berhenti," ucap Nadhif tegas.
"Ibu Hanum?" tanya Dokter Rizal dengan tatapan jahil menggoda Nadhif.
"Istriku," jawab Nadhif sambil mengalihkan pandangannya. Nadhif tidak mau jika Dokter Rizal mengetahui bagaimana hubungannya dengan Una yang sebenarnya. Jika Dokter Rizal tahu, maka sudah dipastikan Elara, Mama Nadhif juga akan mengetahuinya. Dan itu akan berakibat buruk nantinya.
Nadhif tersenyum kecut dalam hatinya. Istri? Bahkan Tuhan seolah mengutukku memberi istri hina sepertinya. Batin Nadhif lirih.
…..
Setelah mendengar penjelasan dari Dokter Rizal, Nadhif duduk merenung di kursinya. Bahkan, file mengenai keuangan dan kinerja rumah sakit tidak dia sentuh sedikitpun.
Lagi dan lagi, Nadhif menghela nafas pelan. Seharusnya dia peka, seharusnya dia tahu saat Hanum sering menunduk saat bicara dengannya dan saat dia marah, selain karena takut, itu juga karena Hanum menyembunyikan darah yang mengalir di hidungnya.
Nadhif kesal. Entah mengapa mendapat berita seperti ini mengenai Hanum membuat dia sesak dan ingin sekali memeluk anak itu. Tidak bisa diam, akhirnya Nadhif bangun dari duduknya dan keluar ruangan.
"Mark," panggil Nadhif pada Mark yang duduk di kursi depan ruangannya.
"Iya, Tuan," jawab Mark.
"Tapi ada hal lain yang ingin saya sampaikan, Tuan," ucap Mark yakin.
"Tunggu nanti setelah aku kembali ke perusahaan, mark. Aku pergi dulu," ucap Nadhif langsung pergi tanpa menunggu jawaban Mark.
"Ini berhubungan dengan wanita itu, Tuan," gumam Mark melihat punggung Nadhif yang sudah hilang dibalik lift rumah sakit.
.....
Di ruangannya, Hanum meminta Una untuk mengajaknya jalan-jalan ke taman rumah sakit. Sungguh, dua bari ini disini sudah membuat Hanum merasa bosan.
"Ibu kita jalan-jalan, ya," pinta Hanum dengan wajah memelasnya.
"Tapi Hanum masih lemas, Sayang," jawab Una tak mengizinkan. Dia khawatir dengan kondisi Hanum yang masih sangat lemas, bahkan untuk berdiri ke kamar mandi saja gadis kecil itu sangat kesusahan.
"Hanum akan merasa segar jika keluar, Bu. Ayo kita keluar," ucap Hanum meyakinkan Una.
__ADS_1
Una menghela nafas pelan. "Tapi Hanum pakai kursi roda, Oke!" final Una.
Hanum mengangguk senang dengan senyum terpatri di wajahnya. "Oke, Ibu," jawab Hanum semangat.
Una tersenyum dan mengambil kursi roda yang ada di sudut ruangan. Dengan telaten dan pelan, Una membantu Hanum untuk turun dari ranjang dan naik ke kursi roda.
Setelah dipastikan Hanum duduk dengan aman dan tenang, Una mendorong kursi roda Hanum keluar ruangan. "Kita mau kemana, Nak?" tanya Una.
"Taman," jawab Hanum semangat. Karena di taman, banyak anak-anak yang bisa dia temui. Meskipun tidak ikut bermain, tapi setidaknya dia bisa ikut tertawa melihat kelucuan anak sebayanya.
.....
Nadhif berjalan menyusuri koridor ruangan Hanum. Saat sampai di depan ruangan Hanum, Nadhif sedikit melihat dari kaca yang ada di pintu, dan ternyata kosong. Untuk memastikan, Nadhif membuka pintu dan menyembulkan kepalanya ke dalam.
"Kemana mereka?" gumam Nadhif. Dia juga sedikit melihat ke kamar mandi, namun tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan seseorang disana.
Nadhif kembali menutup pintu. "Em ... Suster," panggil Nadhif pada seorang suster yang lewat.
"Iya, Pak," jawab Suster tersebut ramah. Andai dia tahu bahwa yang menyapanya adalah pemilik rumah sakit, maka dia pasti akan menunduk dalam saat ini.
Bapak? Gue belum se tua itu kali. Gerutu Nadhif dalam hati ketika Suster itu memanggilnya dengan panggilan 'Bapak'.
"Pasien di ruangan ini kemana, ya?" tanya Nadhif rumah meskipun jiwanya sedang kesal saat ini.
"Oh, Hanum. Tadi dia izin pergi ke taman, Pak," jawab Suster tersebut.
"Bukankah dia tidak boleh kelelahan?" tanya Nadhif sedikit kesal.
"Hanum tidak akan kelelahan, Pak. Justru itu baik untuk kesehatannya agar menyegarkan badan dan pikirannya," jawab Suster tersebut yang membuat Nadhif sedikit lega.
Tanpa mengucap terimakasih atau apapun, Nadhif pergi meninggalkan Suster tersebut. Dia berjalan tergesa menuju taman rumah sakit.
...………....
Semoga menikmati, ya teman-teman. Jangan lupa kasih like dan komentar kalian, biar aku makin semangat, yaa.
__ADS_1
Jangan lupa mampir di Instagram aku ya, @nonamarwa_ Kalian bisa melihat postingan-postingan bermanfaat disana dan juga mengenai semua karya-karya ku. Terimakasih ,,,,,,,