
HAPPY READING
Una mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Salam dulu, Tuan. Sebelum pergi kerja, Una harus salam dengan suami dulu," ucap Una.
"Tanganku sudah bersih, tidak perlu bersentuhan dengan tangan kotor mu," jawab Nadhif dingin.
Una tersenyum dan menarik kembali tangannya. "Hati-hati, Tuan. Semangat lah dalam bekerja, mulai dengan bismillah agar semuanya berjalan lancar," ucap Una tulus untuk Nadhif.
"Sekarang aku tahu mengapa Tuhan menakdirkan aku menikah denganmu," ucap Nadhif menjeda sebentar ucapannya sambil menatap dingin Una. "Itu karena aku hina dan suka berzina, oleh karena itu aku mendapatkan istri yang juga hina dan suka berzina!" ucap Nadhif tajam dan segera pergi meninggalkan Una setelah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan itu.
"Itulah makanya ada pepatah yang mengatakan, jodoh adalah cerminan diri, Tuan. Aku hanya berusaha menjadi cerminan dirimu. Tidak kata hina zina saat aku berhubungan dengan suamiku sendiri, " ucap Una sendu menatap kepergian Nadhif.
.....
Una berjalan dengan rantang ditangannya menyusuri lorong rumah sakit.
Setelah tadi Nadhif pergi, Una memilih untuk memasak demi mengalihkan pikiran sendunya. Dia memilih untuk memasak makanan kesukaan anaknya dan juga makanan untuk Mami Flora.
"Assalamualaikum," ucap Una mengucap salam ketika memasuki ruang rawat Hanum.
Hanum dan Mami Flora tersenyum melihat kedatangan Una. "Ibu," ucap Hanum riang.
"Wah, Hanum sudah mandi?" tanya Una yang melihat Hanum sudah nampak lebih segar.
Hanum menggeleng. "Nenek Mami tadi lap badan Hanum, Bu. Jadi lebih segar," jawab Hanum senang.
"Sudah bilang terimakasih?" tanya Una sambil meletakkan rantang di meja sebelah bed.
Hanum mengangguk. "Sudah kan, Nenek Mami?" tanya Hanum kepada Mami Flora agar Una semakin percaya.
"Hanum anak yang baik. Jadi, dia tidak akan lupa mengucap terimakasih," jawab Mami Flora benar adanya.
Una tersenyum mendengarnya. Dia sangat bersyukur, anaknya tumbuh menjadi anak yang baik dan sopan. Una berharap, sikap Hanum akan bertahan hingga dia dewasa nanti.
"Oiya, Ibu bawa cemilan kesukaan Hanum. Dan Una juga bawa makanan buat Mami," ucap Una kembali mengambil rantang.
"risol Ayam?" tanya Hanum dengan wajah berbinar yang dianggukki oleh Una.
__ADS_1
Hanum tersenyum senang. Una meletakkan rantang berisi risol di depan Hanum. Una senang, ternyata kebahagiaan anaknya sesederhana ini. Hanya diberikan risol Ayam, Hanum sudah kegirangan seperti mendapat harta karun.
"Hanum makan ya. Ibu mau duduk di sofa bareng Nenek Mami," ucap Una yang langsung dianggukki eh Hanum.
Sebelum duduk di sofa menyusul Mami Flora, Una terlebih dahulu membukakan botol air mineral dan meletakkan di meja makan khusus pasien yang sudah terhubung langsung dengan bed nya.
"Ayo makan, Mami. Una sudah masak buat Mami," ucap Una.
"Kamu sudah makan Una?" tanya Mami Flora menatap Una.
Una mengangguk dengan senyumnya. Mata Mami Flora berhenti ketika melihat bibir Una yang sedikit terluka. "Bibir kamu kenapa, Una?" tanya Mami Flora khawatir.
"Ah .... ini ..."
Mami Flora tersenyum jahil menatap Una. "Apa Nadhif seganas itu," ucap Mami Flora menggoda Una.
Una hanya tersenyum. "Sudah, ayo makan Mami," ucap Una mengalihkan.
Mami Flora terkekeh kecil dan memakan makanan yang sudah ada di depannya.
.....
Nadhif duduk di kursi besarnya dengan tangan yang tak henti membubuhi coretan abstrak di beberapa halaman kertas.
"Bagaimana dengan keadaan rumah sakit kita, Mark?" tanya Nadhif pada Mark yang duduk di depannya.
"Sejauh ini, laporan rumah sakit selalu lancar dan berada dalam kondisi baik, Tuan," jawab Mark.
Selain mall dan sekolah, Nadhif juga memiliki rumah sakit besar yang berada dalam pengawasannya. Dalam urusan bisnis, Nadhif adalah rajanya. Namun dalam urusan hati, Nadhif adalah batunya.
"Apa jadwalku nanti siang Mark?" tanya Nadhif.
Degan cepat dan pasti Mark menggeleng. Karena sebelumnya, dia memang sudah memastikan bahwa hari ini jadwal penting bosnya itu hanya meeting pukul sepuluh pagi.
"Jam makan siang nanti, kau ikut aku untuk ke rumah sakit. Aku ingin lihat langsung keadaan disana," ucap Nadhif tegas.
"Baik, Tuan," ucap Mark sambil mengangguk patuh.
__ADS_1
.....
Sesuai dengan apa yang dia katakan, Nadhif pergi ke rumah sakit miliknya saat jam makan siang. Lelaki itu memilih untuk makan siang di mobil saja. Senyum tidak luntur dari bibirnya saat tangannya asik berbalas pesan dengan Mira, wanita pujaannya.
Sama halnya dengan Nadhif, Una juga tengah senyum sendiri sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
"Ibu kenapa senyum sendiri?" tanya Hanum. Kini mereka hanya berdua di ruangan Hanum, Mami Flora sudah pamit untuk pulang setelah menghabiskan makanannya. Karena masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan berkaitan dengan club' dan salonnya.
Una menggeleng menjawab perkataan Hanum. Dia meletakkan ponselnya di meja. "Ibu ke kamar mandi sebentar ya, Nak," ucap Una pamit yang dianggukki oleh Hanum.
Sedangkan disisi lain. Mobil Nadhif sampai di pekarangan rumah sakit. Mark yang membawa mobil memarkirkan mobil mereka di parkiran khusus para petinggi rumah sakit.
Nadhif dan Mark turun dari mobil. Banyak pasang mata yang menatap kerah mereka. Pesona dua lelaki ini memang tidak bisa dielakkan. Nadhif gagah dengan tubuh tegap dan wajah tampan nan dinginnya, dan begitu juga dengan Mark.
Lorong demi lorong Nadhif lewati untuk menuju ruangannya di rumah sakit ini. Hingga langkahnya terhenti ketika pandangannya tak sengaja menangkap siluet anak kecil yang sangat dia kenal.
Nadhif menoleh ke samping dan melihat dari kaca pintu. Dan benar saja, matanya membola melihat anak kecil itu duduk di bed rumah sakit dengan tenang dan sambil menonton televisi yang ada di ruangan.
Hanum. Batin Nadhif melihat anak tersebut.
Nadhif semakin mengedarkan pandangannya yang terbatas dari kaca pintu. Dia tidak melihat siapapun di dalam sana selain Hanum. Pandangan Nadhif juga menangkap infus yang tertanam di punggung tangan gadis kecil itu.
"Mark," panggil Nadhif pada Mark yang berdiri di belakangnya.
"Iya Tuan," jawab Mark.
"Aku meminta data pasien penyakit jantung di rumah sakit ini," ucap Nadhif pasti. Karena menurutnya, ruangan yang ditempati eh Hanum adalah khusus anak penyakit jantung.
"Aku mau data itu dalam sepuluh menit, Mark,” ucap Nadhif tegas tanpa mau dibantah.
Tanpa menjawab, Mark segera mengeluarkan ponselnya untuk mengubungi staf rumah sakit agar segera menyiapkan apa yang diinginkan oleh bos mereka.
"Dia siapa Tuan?" tanya Mark ketika selesai menghubungi staf rumah sakit. Lelaki itu ikut melihat sedikit ke dalam ruangan dan pandanganya menatap sosok anak kecil yang sedang asik menonton televisi di ruang tersebut.
Nadhif menggeleng. "Bukan siapa-siapa, Mark," ucap Nadhif dengan pandangan tak lepas dari Hanum.
...****************...
__ADS_1