
HAPPY READING
Senyum cantik tak pernah luntur dari bibir mungil hanum sejak tadi. Anak itu terus melengkungkan bibirnya melihat nadhif yang sedang membereskan semua barang-barangnya. Hari ini hanum sudah diperbolehkan pulang oleh dokter rizal. Keadaan anak itu sudah mulai membaik sejak nadhif rutin mengunjunginya.
“apa ibu tidak datang, papi?” tanya hanum pada nadhif yang selesai memasukkan bajunya ke dalam tas jinjing.
Nadhif terdiam. Una memang pergi sejak tadi pagi dan entah kemana lelaki itu juga tidak tahu. Ini sudah pukul sebelas siang, namun una belum juga kembali. “mungkin ibu kamu masih ada keperluan,” jawab nadhif lembut.
“biasanya ibu temenin hanum terus,” ucap una sedikit pelan.
Nadhif tersenyum. Dia berjalan mendekati hanum dan mengusap lembut rambut anak itu. “mungkin ibu kamu ada keperluan. Sekarang hanum pulang dengan papi, ya,” ucap nadhif yang dibalas anggukkan oleh hanum.
“maaf jika hanum merepotkan papi, ya,” ucap hanum tak enak. Nadhif hanya mengangguk. Jika seperti ini kadang dia merasa canggung dengan apa yang harus dia lakukan. Entah sika papa yang harus dia lakukan untuk hanum.
…..
Sedangkan dari jendela luar ruangan hanum, una melihat anaknya dan nadhif yang sangat dekat. Jika orang yang tidak mengetahui kehidupan mereka maka akan mengganggap jika hanum adalah anak nadhif. Una sengaja meninggalkan nadhif berdua dengan hanum. Una tahu, jika ada dirinya maka nadhif tidak akan bersikap sehangat itu kepada hanum. Dan una tidak mungkin mengganggu apa yang menjadi kesenangan anaknya.
“ibu tunggu kamu di rumah saja ya, nak. Ibu percaya bahwa tuan nadhif bisa melindungi kamu,” ucap una lirih dan berjalan menjauh untuk segera meninggalkan rumah sakit. Una akan sampai di rumah lebih dulu untuk menyambut kedatangan una.
…..
Beberapa menit perjalanan, hanum dan nadhif sampai dirumah. Nadhif menggendong hanum memasuki rumah dan langsung mendudukkan anak itu di ruang tamu. Sedangkan barang-barangnya dibawa oleh sopir.
“hanum sudah pulang,” ucap una yang datang dari arah dapur sehingga mengagetkan nadhif dan hanum.
“ibu di rumah?” tanya hanum berbinar Bahagia. Dia pikir ibunya akan pergi lagi untuk bekerja dan akan pulang nanti malam sehingga tak bisa menjemputnya.
Nadhif yang melihat itu langsung berdiri dan menjauh.
“saya ke kamar dulu,” ucap nadhif dingin dan langsung berbalik hendak berjalan menuju kamarnya.
“terimakasih, tuan,” ucap una tulus yang hanya dibalas anggukkan kepala oleh nadhif.
__ADS_1
Una duduk di sebelah hanum setelah meletakkan nampan berisi kotak cemilan dan minum untuk hanum. “apa yang hanum rasakan?” tanya una lembut.
“hanum senang, bu,” jawab anak itu dengan pandangan penuh kejujuran.
“nampaknya ada yang lebih senang dengan tuan daripada dengan ibu, ya,” ucap una berpura-pura sedih untuk mengerjai sedikit anaknya.
“hanum memang senang tuan baik. Tapi hanum lebih tenang kalau selalu ada ibu,” jawab anak itu dengan lembut menatap penuh kasih sayang pada ibunya itu.
Una tersenyum. “apa hanum masih rasain sakitnya?” tanya una menyentuh dada hanum.
Hanum menggeleng. “tadi obatnya ada pada tuan, bu. Nanti ibu minta, ya. kakek rizal bilang hanum harus rajin minum obat biar sembuh,” ucap anak itu semangat dengan senyum mengembangnya.
Una mengangguk. “nanti ibu minta. Sekarang hanum mau apa? Mau istirahat atau mau makan dulu?” tanya una lembut.
“hanum mau tidur, ya, bu,” ucap hanum memelas untuk segera bisa bertemu dengan kasurnya. Sebelum pulang tadi, dokter rizal sempat menyuntikkan obat kepada hanum. Mungkin kantuknya ini menjadi efek dari obat tersebut hingga anak itu bisa beristirahat lebih dulu.
“yasudah. Ayo kita ke kamar, nak,” ucap una mengangkat hanum ke dalam gendongannya untuk dibawa ke kamar.
Setelah menidurkan hanum, una berjalan menaiki tangga menuju kamar nadhif. Wanita itu ingin mengucapkan terimakasih karena sudah membuat senang hanum hari ini.
Nadhif yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan tubuh yang setengah telanjang itu menolehkan pandangannya sebentar dari ponsel ditangannya. Dia hanya diam tanpa menjawab sapaan una.
Sepertinya saat masuk kamar nadhif langsung membuka pakaian atasnya hingga hanya menggunakan celana dasar yang tadi dia kenakan.
Una berjalan mendekat. “tuan,” panggil una lagi.
Terdengar helaan nafas dari nadhif. “kenapa?” tanya nadhif masih tetap pada ponselnya.
“terimakasih karena sudah membuat senang anak saya hari ini,” ucap una tulus.
“saya hanya tidak mau dipandang buruk oleh paman rizal,” ucap nadhif cuek.
“tidak apa-apa. Tetap terimakasih untuk senyum dan tawa anak saya beberapa hari ini, tuan,” ucap una lagi.
__ADS_1
Nadhif mengangkat kepalanya menatap una.
“sudahkan? Sekarang bisakah kau keluar? Mulutku sedang tidak ingin berdosa dengan mengataimu,” ucap nadhif malas.
Lelaki itu nampak sangat kusut sekali. Dan tentu una sangat tahu apa penyebabnya.
Ternyata aku berhasil membuatmu kacau walau dengan identitas lain, tuan. Batin una tersenyum senang. Una sengaja belum mengaktifkan ponselnya sampai sekarang. Terhitung sudah tiga hari ini dia menonaktifkan ponselnya. Dan ternyata itu sangat berefek besar untuk nadhif yang kini nampak uring-uringan.
“aku ingin meminta obat hanum, tuan,” ucap una lembut.
Nadhif menghela nafas kasar. Dia berdiri dan mengambil sesuatu dari tas kerjanya. “ini,” ucap nadhif memberikan kantong putih pada una.
“terimakasih, tuan,” ucap una yang tidak ditanggapi oleh nadhif.
Una berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, dia kembali berbalik dan menatap nadhif. “tuan,” panggil una. Sepertinya membuat nadhif kesal adalah hobi baru bagi una sekarang. Karena nanti dia bisa merayu nadhif meski sebagai mira.
“apa lagi?!” jawab nadhif kesal.
Una tersenyum. Dan senyum una adalah puncak kekesalan bagi nadhif. “terkadang, apa yang membuat kita kesal itu juga yang nanti akan menenagkan kita, tuan,” ucap una dan langsung pergi keluar kamar nadhif.
“kesal karena cinta mungkin iya. Tapi padamu, kesalku adalah karena sebuah kebencian!” ucap nadhif menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat.
…..
Sampainya di kamar una langsung mengaktifkan ponselnya. Getaran tak henti dari ponsel una menandakan adanya pesan masuk dari beberapa hari yang lalu. Dan hanya ada satu nama yang mengirim pesan itu hingga membuat senyum cantik di bibir una.
“seperhatian ini kamu sama mira, mas,” ucap una senang sekaligus sedih.
“akan dosa bagiku jika membuat suamiku lama-lama menahan rindu,” gumam una terkekeh kecil. Dia jadi geli sendiri membayangkan nadhif yang begitu pemarah padanya, tiba-tiba menjadi manja saat bersama mira.
“baiklah, kita akan bermain malam ini, tuan.”
...........................
__ADS_1
Semoga menikmati, ya teman-teman. Jangan lupa kasih like dan komentar kalian, biar aku makin semangat, yaa.
Jangan lupa mampir di Instagram aku ya, @nonamarwa_ Kalian bisa melihat postingan-postingan bermanfaat disana dan juga mengenai semua karya-karya ku. Terimakasih ,,,,,,,