
HAPPY READING
Nadhif sampai di kantornya setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan. Kemeja dan jas yang dia gunakan pun sudah berganti dengan yang baru. Tidak sulit bagi Nadhif untuk meminta anak buahnya membeli kemeja dan jas yang baru.
Dengan langkah tegasnya, Nadhif berjalan memasuki kantor.
Ting
Lift berbunyi, Nadhif sampai di lantai tiga puluh lima dan segera memasuki ruangan yang satu-satunya ada di lantai tersebut.
"Selamat datang, Tuan," ucap Mark menyambut kedatangan Nadhif.
Nadhif mengangguk. "Ikut aku masuk, Mark," ucap Nadhif tegas yang langsung di turuti oleh Mark.
"Hentikan pencariannya, Mark," ucap Nadhif saat mereka sudah berada di dalam ruangan Nadhif.
Nadhif berdiri di depan kaca tembus pandang yang melihatkan suasana kota yang sangat padat. Sedangkan Mark berdiri di balik meja kerja Nadhif.
"Maksud anda, Tuan?" tanya Mark memastikan lagi.
"Hentikan mencari gadis itu," ulang Nadhif.
"Tapi Tuan-"
"Hentikan, Mark!" potong Nadhif tegas.
"Bisakah saya tahu alasannya, Tuan?" tanya Mark dengan suara yang sama dinginnya dengan Nadhif.
"Aku menemukan penggantinya," ucap Nadhif mengingat Mira.
"Tapi bukankah kita harus memastikan nasib wanita itu baik, Tuan? Jangan hanya mementingkan kepuasan mu, Tuan," tanya Mark lagi. Dia tahu apa yang terjadi dengan Tuannya ini. Jadi Mark tidak mau jika Nadhif menyesal nantinya.
Nadhif terdiam. Dia mengusap rambutnya ke belakang dan menghela nafas pelan. "Aku selalu berdoa agar dia selalu baik-baik saja, Mark," jawab Nadhif pelan.
Berdoa? Bahkan kau selalu berzina, Tuan. Batin Mark mengumpat mendengar perkataan Nadhif yang sangat yakin jika doanya saja mampu menyelamatkan hidup seseorang.
"Jangan mengumpat, Mark," ucap Nadhif santai sambil berjalan untuk duduk di kursinya.
Mark gelagapan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Saya akan tetap mencarinya, Tuan," ucap Mark yakin.
"Akan sia-sia, Mark," ucap Nadhif sambil membuka salah satu file yang ada di meja kerjanya.
"Tidak akan ada yang sia-sia, Tuan. Percayalah, merusak kehidupan orang adalah dosa dari segala dosa, Tuan. Jangan sampai semua ini berdampak dalam kehidupan Tuan nantinya," ucap Mark memberi nasihat kepada Nadhif.
Nadhif terdiam mendengar perkataan Mark. Benar, sejak kejadian empat tahu lalu, wanita adalah permainan sehari-hari Nadhif untuk mengalihkan pikirannya.
__ADS_1
"Tapi ini sudah empat tahun, Mark," ucap Nadhif lemah.
"Semuanya akan percum-"
"Tidak ada yang percuma, Tuan," potong Mark cepat.
Nadhif mengangkat kepalanya menghentikan kegiatannya memberi tanda tangan pada kertas tersebut.
"Apa maksudmu?" tanya Nadhif serius.
"Aku menemukan petunjuk, Tuan."
Nadhif menatap Mark lekat. "Kau serius?" tanya Nadhif menatap serius Mark.
Mark mengangguk yakin. "Sekolah Berlian Negeri. Dia dulu sekolah di Berlian Negeri, Tuan," ucap Mark memberitahu Nadhif.
"Berlian Negeri? Sekolah kita?" tanya Nadhif. Pasalnya, sekolah itu adalah salah satu sekolah miliknya.
"Kau mendapat biodatanya?" tanya Nadhif lagi.
Mark menggeleng. "Aku akan menelusuri lebih jauh nanti, Tuan. Untuk sekarang ini, hanya itu yang bisa aku sampaikan. Karena aku harus memastikan sesuatu, Tuan," lanjut Mark dalam hati di akhir kalimatnya.
Nadhif mengangguk. "Beritahu aku mengenai setiap informasi yang kau dapatkan," ucap Nadhif yang menerbitkan senyum di bibir Mark.
Mark mengangguk yakin menjawab perkataan Nadhif. Setelah itu, dia berlanjut membacakan kegiatan Nadhif hari ini.
Mark menggeleng. "Dari jam makan siang hingga waktu pulang kantor, anda tidak ada jadwal apa-apa, Tuan. Hanya saja, anda ada janji makan malam bersama kolega bisnis kita dari Malaysia," ucap Mark memberitahu Nadhif.
Nadhif mengangguk-nganggukan kepalanya. Bibirnya tersenyum mengenai rencana yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Kali ini aki akan pergi bersama seseorang, Mark. Kau tidak perlu menemaniku. Cukup beritahu aku tempat dan waktunya," ucap Nadhif yakin.
"Baik, Tuan. Nanti akan saya konfirmasi lagi," jawab Mark patuh.
"Kalau begitu, kau boleh keluar, Mark," ucap Nadhif yang langsung dianggukki oleh Mark.
Setelah kepergian Mark, senyum lebar terbit di bibir Nadhif. Bayangan dia akan mengajak Mira terlintas jelas di pikirannya. Saat ingat sesuatu, Nadhif mengeluarkan ponselnya dan mengubungi seseorang.
"Halo, Mami Flora," ucap Nadhif saat panggilannya terhubung.
"..."
"Beri aku nomor ponsel Mira," ucap Nadhif tanpa basa-basi.
"..."
__ADS_1
"Baiklah," ucap Nadhif dan memutuskan sambungan teleponnya.
Ting.
Bunyi ponsel tersebut menandakan pesan masuk dari ponsel Nadhif. Sudut bibir Nadhif terangkat melihat nomor ponsel yang dikirimkan oleh Mami Flora. Ya, tadi Nadhif meminta nomor ponsel Mira kepada Mami Flora Dia ingin segera berinteraksi langsung dengan wanita yang sudah dia klaim sebagai miliknya itu.
Nadhif bodoh, bukan? Menyia-nyiakan berlian yang tidak dianggap di rumahnya dan memilih memberikan hati kepada wanita pemuas nafsunya. Walaupun kebenaranya, wanita itu adalah istrinya sendiri. Tapi malang nasib Una, dia harus dicintai sebagai teman ranjang dan bukan sebagai istri.
.....
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sebuah lorong rumah sakit, Una sedang duduk cemas menantikan Dokter keluar dari ruang UGD.
"Hanum harus bertahan, Nak," ucap Una dengan mata berkaca-kaca.
Saat dia sarapan bersama Hanum, tiba-tiba anak itu mengalami batuk disertai dengan darah. Tidak hanya itu, cairan kental nan merah itu juga keluar dari hidung Hanum.
Tiga puluh menit, Dokter keluar dari UGD.
"Bagaimana anak saya, Dokter?" tanya Ibu muda itu tergesa ketika melihat Dokter.
Dokter membuka maskernya dan menghela nafas pelan. "Apakah Hanum tidak meminum obat rutinnya, Una?" tanya Dokter menatap Una. Dokter tersebut memang sudah mengenal Una dan Hanum, karena beliaulah yang selama ini menangani penyakit Hanum.
Una menelan ludahnya. Dia salah, saat itu dia hanya membelikan obat di apotik untuk meredakan sedikit sakit anaknya, namun tidak melanjutkan obat yang sudah dianjurkan resepnya oleh Dokter.
"Maaf, Dokter," ucap Una menyesal.
Dokter tersebut menghela nafas pelan. Dia sudah menganggap Hanum sebagai cucunya sendiri. Karena Dokter Rizal sudah berumur setengah abad, maka dia menganggap Una sebagai anaknya sendiri.
"Biar aku yang memberikan obat kepada Hanum, Una. Aku sudah menganggapnya sebagai cucuku sendiri," ucap Dokter Rizal.
Una menggeleng. "Jangan Dokter, Una ada uangnya. Dan jangan paksa Una," ucap Una menegaskan kepada Dokter Rizal. Bukannya sombong atau menolak, namun Una merasa dia masih bisa berusaha untuk kesembuhan Hanum. Hanum adalah tanggung jawabnya, dia tidak mau memberikan itu kepada orang lain.
Dokter Rizal menghela nafas pasrah. "Baiklah. Tapi jika kau ada kesulitan, jangan lupa untuk menghubungiku. Dan satu lagi, Una," ucap Dokter tersebut menghentikan sebentar perkataanya.
"Hanum harus dirawat beberapa hari hingga kondisinya sedikit lebih baik," lanjut Dokter Rizal.
.....
Kini Hanum sudah berada di ruang perawatan. Una dengan senantiasa mengelus rambut lembut Ma. Tangannya memang bekerja mengelus rambut Hanum, namun pandangannya kosong entah kemana.
Saat asik dengan lamunannya. Ponsel Una yang penuh dengan tombol itu berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.
Nanti malam jam tujuh malam bersiaplah. Kau akan keluar bersamaku.
~Nadhif
__ADS_1
Una tersenyum lirih. Bahkan ini adalah pesan pertama yang Nadhif kirim untuknya. "Jika menjadi ****** mu aku bisa dicintai, maka akan aku lakukan, Tuan. Aku akan mengubah dosa yang biasa kau lakukan menjadi pahala, Tuan," gumam Una sendu.
...****************...