Menjadi Gundik Suamiku

Menjadi Gundik Suamiku
BAB 8


__ADS_3

HAPPY READING


"Kenapa anda ingin tampil beda saat berhijab dan tidak, Nona?" tanya Hair stylist itu penasaran dengan apa yang akan Una lakukan.


Una tersenyum. "Berkorban, Mbak," jawab Una lembut.


"Berkorban?" beo hair stylist itu tidak mengerti.


"Semua ini untuk suami saya, Mbak," jawab Una terbuka.


"Padahal Nona sangat cantik dengan hijabnya," ucap Hair stylist itu jujur. Memang benar, rasanya melihat Una sungguh sangat cantik dengan hijabnya. Begitu pikir Hair stylist tersebut.


"Terkadang kita harus sedikit nakal untuk suami kita kan, Mbak," ucap Una tersenyum.


Hair stylist itu mengangguk dan tersenyum. "Kepuasan suami memang yang utama ya, Nona," ucap Hair stylist tersebut. "Suami Nona pasti bertambah sangat mencintai Nona setelah melihat kejutan ini," lanjut hair stylist tersebut.


"Saya sangat berharap untuk itu, Mbak," jawab Zahra yang membuat Hair stylist itu terdiam dan menatap Zahra.


"Lanjutkan, Mbak," ucap Una membuyarkan lamunan Hair stylist itu.


Hair stylist itu mengangguk kaku karena tak enak dengan apa yang dia tanyakan. Dia melanjutkan pekerjaannya dan memberikan yang terbaik untuk Una.


Sedangkan Mami Flora yang melihat dan mendengar itu hanya tersenyum. Gadis kecil dulu sudah dewasa saat ini. Batin Mami Flora mengenang Una kecil yang dulu sangat dekat dengannya.


Saat sedang asik memperhatikan Una, ponsel Mami Flora berdering. Dia menatap ponselnya dan melihat nama Nadhif tertera dilayar ponselnya. "Mami keluar sebentar, ya," ucapnya pamit pada Una yang langsung dianggukki oleh wanita itu.


"Ya, Nadhif," ucap Mami Flora setelah menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilannya.


"Aku akan datang sekitar pukul sepuluh. Siapkan pesanan ku, Mami Flo," ucap Nadhif lembut. Ya, Nadhif memang bersikap sopan kepada wanita yang sudah seumuran dengan Ibunya sendiri. Dia sangat menghormati akan hal itu. Karena menghormati wanita yang sepantaran Ibunya, sama saja dengan menghormati Ibunya sendiri.


Mami Flora terdiam sebentar dan menatap Una dari kaca pembatas. "Baiklah. Tapi, aku punya sesuatu yang baru untukmu. Ini dijamin beda dari yang lain," ucap Mami Flora sambil memandang Una yang sedang di make over.


"Baiklah. Yang penting dia bisa mengalihkan pikiranku," jawab Nadhif dari sebrang sana.


"Pasti. Bahkan yang ini akan membuatmu lupa akan segalanya," ucap Mami Flora.

__ADS_1


"Baiklah. Aku menunggu untuk itu," ucap Nadhif memutus panggilannya.


Mami Flora menatap Una setelah panggilannya dan Nadhif terputus. Mami memang bukan hamba yang baik, Una. Tapi sesama wanita, Mami iri melihat ketulusan dan pengorbanan mu. Dan Mami mendoakan kebaikan untuk kamu dan Nadhif. Batin Mami Flora sendu menatap Una.


….


Tidak terasa, Enam jam sudah Una di poles oleh hair stylist tersebut. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya nampak beda. Una seperti terlahir lagi dengan keadaan tubuh yang lebih segar.


Una menatap dirinya di depan cermin besar yang ada disana. Warna rambut yang berubah drastis, Ungu gelap dengan kilau abu-abu, lipstick merah menyala, bola mata yang dulunya coklat itu, kini sudah berubah menjadi abu-abu. Kuku kaki dan tangan yang dihiasi kutek peach dilapisi kutek bening. Wajah yang di make up natural membuat Una seperti Barbie hidup.


"Amazing," ucap Mami Flora kagum melihat penampilan baru Una.


"Mami yakin, Nadhif tidak akan mengenali kamu, Una," lanjutnya memandang kagum pada Una.


"Apa ini tidak berlebihan, Mami?" tanya Una yang merasa sedikit tak enak.


Mami Flora menggeleng keras. "Kamu mengalahkan semua wanita di dunia ini, Nak," ucap Maki Flora tulus.


"Sekarang kita akan langsung ke tempat Mami," ucap Maki Flora menggandeng tangan Una setelah melihat jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Nadhif pasti akan segera datang satu jam lagi, Una. Jangan sampai kita keduluan dan dia kembali berbuat dosa," ucap Mami Flora.


Una mengangguk dan menuruti setiap langkah kaki Mami Flora. Una hanya diam, dalam hatinya selalu berdoa untuk apa yang dia lakukan. Semoga ini jalan baik untuk menyelamatkan suami hamba, Ya Allah. Batin Una berharap untuk segala kebaikannya dan Nadhif


.....


"Apa harus memakai baju ini, Mami?" tanya Una mengangkat pakaian super tipis yang ada dalam genggamannya.


Saat ini mereka sudah berada di kamar super mewah yang ada di club' milik Mami Flora.


Mami Flora mengangguk yakin. "Ini adalah pakaian idaman setiap lelaki, Nak," ucap Mami Flora.


"Ini tipis sekali, Mami," ucap Una tak yakin.


"Percayalah, ini cocok. Sudah, pakai saja ini. Toh nanti kamu juga tidak akan mengunakan baju saat sudah bersama Nadhif," ucap Mami Flora menatap usul Una yang sudah malu mendengar perkataan Mami Flora.

__ADS_1


"Mami," rengek Una malu mendengar ucapan Mami Flora.


"Sudah, sana ganti," ucap Mami Flora mendorong Una untuk segera mengganti bajunya.


Una berlalu pergi ke kamar mandi super mewah yang ada di kamar tersebut. Una berdiri di depan cermin mematut dirinya sendiri yang nampak sangat berbeda jika sudah tidak menggunakan kerudung. "Ini tidak murahan kan? Aku bukan wanita murahan, bukan?" gumam Una sendu mengingat apa yang akan dia lakukan.


Una menghela nafas pelan, mencoba menenangkan hati dari rasa gugupnya. "Ini tidak salah, Una. Kamu hanya mencoba menyelamatkan suamimu dari dosa besar. Justru sebaliknya, kamu akan memberi kenikmatan," lanjut Una meyakinkan dirinya sendiri.


Una melepas gamis yang dia gunakan dan menggantinya dengan pakaian super tipis berwarna hitam itu.


"Waw, kamu seperti seorang wanita kelaparan, Una," ucap Una melihat dirinya sendiri setelah mengganti pakaiannya.


Una menyimpan baju gamis dan hijabnya di dalam lemari kecil yang menggantung di dinding kamar mandi. Setelah itu, dia keluar dari kamar mandi untuk menemui Mami Flora.


"Mami," panggil Una.


Mami Flora berbalik dan menatap Una dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. "Kamu wanita tercantik yang pernah mami temukan, Una," ucap Mami Flora kagum berjalan kecil mengelilingi tubuh Una.


"Tubuh ideal, pahatan wajah bak Barbie, sikap yang luar biasa. Sungguh, rasanya kamu bukan manusia, Una," lanjut Mami Flora masih dengan kekagumannya.


Una tersenyum mendengar perkataan Mami Flora. "Semuanya titipan, Mami. Dan satu lagi, Una dulu adalah seorang pendosa, mami," ucap Una sendu.


Una kembali merubah raut wajahnya dengan tersenyum. "Apa pakaian ini cocok untuk Una, Mami?" tanya Una memutar-mutar tubuhnya.


Mami Flora langsung mengangguk tanpa ragu. "Pilihan Mami tidak akan pernah salah," ucap Mami Flora percaya diri.


"Maaf, untuk masa lalu itu, Una," ucap Mami Flora menyesal.


Una menggeleng. "Semua sudah takdir, Mami. Una juga bersyukur, karena begitu, Una punya Hanum dalam hidup ini," ucap Una tulus.


Mami Flora mengangguk. "Yasudah, sekarang kamu duduk disini menunggu Nadhif. Dia akan datang sebentar lagi, Mami akan keluar lebih dulu," ucap Mami Flora pamit yang langsung dianggukki oleh Una.


Setelah Mami Flora keluar dari kamar, Una melihat sekelilingnya. "Ini adalah kamar yang sering digunakan suamiku bersama wanita lain. Dan kasur ini, ini adalah ranjangnya memadu nikmat bersama wanita lain," ucap Una lirih mengingat apa yang dilakukan Nadhif bersama wanita yang bukan muhrimnya. Hati Una sakit, tapi semoga dengan apa yang dia lakukan bisa mengobati sedikit luka itu.


"Mulai sekarang, aku yang akan menjadi teman ranjang mu, Tuan Nadhif. Tidak apa jika kamu mengenalku sebagai ******, asal ****** halal mu ini bisa menghindari mu dari dosa, Tuan," ucap Una yakin dengan apa yang akan dia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2