Menjadi Gundik Suamiku

Menjadi Gundik Suamiku
BAB 9


__ADS_3

Selamat Datang di kisah Nadhif dan una


HAPPY READING


"Dimana dia?" tanya Nadhif yang baru saja datang dan duduk di sofa depan Mami Flora. Suara dentuman musik memenuhi ruangan tersebut. Di setiap sudut ruangan terdapat sepasang manusia yang bercumbu rayu. Dan ada yang meliuk-liukan tubuhnya di lantai dansa mengikuti irama musik dan DJ.


"Kamar biasa," jawab Mami Flora cuek dengan sebatang rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan tengahnya.


"Tumben sekali kamu menawariku, Mami Flo?" tanya Nadhif. Karena biasanya, Nadhif hanya akan menyewa wanita yang sudah biasa dia gunakan. Nadhif tidak mau, akibat dari perbuatan kejinya ini akan memberi penyakit bahaya untuk dirinya.


"Karena aku tahu kualitasnya. Dia ini sangat berkelas. Aku pastikan, dia bersih dan tentunya sangat sesuai selera mu. Wanita sebelumnya, kalah dengan ini," ucap Mami Flora yakin kepada Nadhif.


"Ini tidak akan memberiku penyakit, bukan?" tanya Nadhif.


"Sudah aku katakan, dia sehat, bahkan sangat sehat dan suci," lanjut Mami Flora dalam hati.


"Baiklah, aku tidak sabar menjawab rasa penasaranku," ucap Nadhif berdiri dan segera pergi meninggalkan Mami Flora bersama dengan beberapa lelaki dan wanita yang merupakan anak buah Mami Flora.


"Aku pergi sebentar, ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Aku serahkan club' kepadamu," ucap Mami Flora pada salah satu bodyguard kepercayaannya yang ada disana.


"Saya tidak akan mengecewakan anda, Mami," ucap Bodyguard itu patuh.


Mami Flora mengangguk dan berdiri. Dia mengambil tas yang ada di sofa dan segera pergi meninggalkan Club'.


.....


Nadhif berdiri di depan kamar yang sudah biasa dia gunakan. "Kenapa jadi nerves begini, ya," gumam Nadhif mengambil nafas sejenak menetralkan detak jantungnya.


"Huft, jantung kencang banget lagi. Kayak abis maraton," gumam Nadhif memegang dadanya yang terasa berdetak begitu cepat.


Tangan Nadhif terulur membuka pintu. Bismillah. Batin Nadhif mengucap nama Allah. Yang benar saja, Nadhif itu sebenarnya baik, buktinya dia mengucap nama Allah sebelum berbuat dosa. Hanya saja dia terlalu sering khilaf hingga berbuat dosa.


"Ekhem," Nadhif berdeham untuk menyapa seorang wanita yang dia lihat duduk sambil memunggunginya.

__ADS_1


Una, jantung wanita itu berdetak kencang. Dia yakin, pasti Nadhif yang datang saat ini. Dengan perlahan Una berdiri dan berbalik.


Menakjubkan. Batin Nadhif ketika melihat wajah wanita didepannya yang sangat cantik sekali.


"Selamat malam, Tuan," ucap Una menyapa Nadhif dengan suara lembutnya.


Una berjalan mendekati Nadhif yang masih berdiri diambang pintu. Setelah berjarak satu meter, Una membuka jubah yang tadi menutupi tubuhnya.


Mata Nadhif tidak berkedip sedikitpun melihat pemandangan indah didepannya. Tubuh yang sangat sempurna. Batin Nadhif melihat lekuk tubuh wanita yang akan melayaninya malam ini.


Nadhif berjalan mendekati Una. Tanpa aba-aba, tangan Nadhif terulur mengusap pipi lembut nan mulus milik Una.


"Siapa namamu?" tanya Nadhif menatap intens wanita didepannya itu.


"Mira. Nama saya Almira," jawab Una reflek memberikan nama belakangnya sebagai nama samaran kepada Nadhif. Una sungguh lupa menanyakan kepada Mami Flora mengenai nama yang akan dia gunakan sebagai identitas wanita malamnya.


Nadhif tersenyum dan semakin mendekatkan wajahnya pada Mira (Nama yang diketahui Nadhif). "Kamu cantik," ucap Nadhif meniup daun telinga Una.


"Bisakah bersihkan dulu dirimu, Tuan?" ucap Una mendorong pelan dada Nadhif.


Una memegang dadanya yang terasa bergemuruh. "Ini sangat mendebarkan," gumamnya dengan nafas tak beraturan. Sambil menunggu Nadhif, Una duduk di sofa sambil menghafal kata yang telah diajarkan oleh Mami Flora tadi untuk menggoda Nadhif. Katanya biar aktingnya lebih terasa dan mendalami.


Tiga puluh menit, Nadhif keluar dari kamar mandi dengan handuk hitam yang melilit di pinggangnya. Sedangkan dadanya polos tanpa tertutup apapun. Rambutnya yang sedikit basah menambah kesan seksi lelaki ini. Una hanya menatap Nadhif tanpa berkedip. Sungguh, Nadhif benar-benar tampan dan gagah sekali. Mengingat wanita lain yang pernah melayani lelaki yang berstatus suaminya itu, rasanya Una tidak rela.


"Terpesona, hem," ucap Nadhif mendekati Una.


Tanpa aba-aba, Nadhif langsung mengangkat tubuh Una dan mendudukkan dipangkuan nya.


"Kamu seksi sekali," ucap Nadhif menciumi pundak Una. Una hanya diam menerima setiap sentuhan Una.


"Tuan," ucap Una menghentikan tangan Nadhif yang hendak menyentuh bagian inti tubuhnya.


"Kenapa Mira?" tanya Nadhif lembut mengusap rambut Mira dengan sayang.

__ADS_1


"Bisakah kita memulai semua ini dengan sebuah doa," ucap Una menatap Nadhif.


"Doa?" tanya Nadhif tak paham.


Una mengangguk. "Doa yang biasa diucapkan saat pengantin melakukan hubungan suami istri, Tuan."


Nadhif tersihir. Bola abu-abu itu sangat indah dalam pandanganya. "Matamu indah sekali, Mira," ucap Nadhif tanpa menjawab permintaan Una dan pandangan yang tak pernah lepas dari mata cantik Una.


"Tuan akan mengatakan saya cantik setelahnya, dan Tuan akan mengatakan saya memabukkan setelahnya. Tuan tahu kenapa? Karena mata dan hati Tuan melihat sesuatu hal yang sesuai dengan selera Tuan," jawab Una membuat pola-pola abstrak di dada Nadhif.


Nadhif memejamkan matanya menikmati sentuhan Una. "Mulai malam ini, kamu hanya milikku, Mira. Tidak ada lelaki lain yang boleh memasuki bahkan menyentuhmu. Kamu milikku sekarang," ucap Nadhif memeluk erat Una yang ada di pangkuannya.


Ya, aku ini istri kamu, Tuan. Tentu, hanya kamu yang bisa mendapatkan semua ini. Tapi sayang, kamu menginginkanku sebagai ******, bukan istri. Batin Una sendu mengingat sandiwara yang sedang dia lakukan.


"Jadi, bisakah kita memulai semua ini dengan doa, Tuan," ucap Una sekali lagi bertanya pada Nadhif.


Nadhif mengangguk. Tanpa sepengetahuan Una, ternyata Nadhif mengetahui doanya. Nadhif mengangkat Una ke kasur dan membaringkan wanita itu dengan perlahan. Nadhif mengecup lembut dahi Una penuh sayang.


Ya Allah, ternyata seperti ini rasanya disayang oleh suami sendiri. Batin Una senang.


Nadhif beralih meniup ubun-ubun Una. "Bismillah allahumma jannibnis syaithan wa jannibis syaithan ma razaqtana," ucap Nadhif pelan.


DEG


Jantung Una berdetak cepat. Sungguh, ini diluar dugaannya. Seorang Nadhif, lelaki bejat ini ternyata mengetahui doa seperti ini.


"Bisa aku memulainya?" tanya Nadhif memutuskan pikiran Una.


Una menatap Nadhif lembut. Bibir merahnya tersenyum dengan mata teduh menatap Nadhif. "Lakukanlah," ucap Una pelan.


……….


Semoga menikmati, ya teman-teman. Jangan lupa kasih like dan komentar kalian, biar aku makin semangat, yaa.

__ADS_1


Jangan lupa mampir di Instagram aku ya, @nonamarwa_ Kalian bisa melihat postingan-postingan bermanfaat disana dan juga mengenai semua karya-karya ku. Terimakasih ,,,,,,,


__ADS_2