
HAPPY READING
Baiklah
Pesan singkat itu dibalas oleh Una. Dan tidak lama setelah itu, ponselnya kembali berbunyi.
Pakai pakaian yang tertutup. Karena tubuhmu, hanya aku yang memilikinya.
Una tersenyum membaca balasan pesan dari Nadhif. Namun, terselip kecewa dan rasa syukur disaat yang bersamaan. "Aku kecewa karena kau mencintai seorang wanita malam, tapi aku bersyukur, setidaknya kau memberi perhatian walau hanya sebagai wanita simpanan," gumam Una sendu.
Una tidak membalas pesan tersebut. Matanya kembali beralih menatap Hanum yang masih memejamkan matanya. "Doakan usaha Ibu ya, Nak. Ibu akan mengusahakan panggilan Papi itu kembali terucap dari mulutmu," ucap Una lirih menatap Hanum.
Dulu, sebelum menikah dengan Nadhif dan masih berstatus sebagai pembantu, Nadhif sangat menyayangi Hanum sebagai anaknya. Bahkan, Nadhif meminta Hanum untuk memanggilnya Papi. Namun, setelah pernikahan itu, Nadhif sangat berubah, bahkan kata anak haram selalu terlontar dari mulutnya untuk Hanum.
.....
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Saat ini, Una berada di ruang rawat Hanum sambil menyuapi anak itu untuk makan. Di sana juga ada Mami Flora yang datang menjenguk Hanum.
"Sudah, Ibu. Hanum kenyang," ucap Hanum menahan sendok berisi bubur itu untuk masuk kedalam mulutnya.
"Sedikit lagi, ya Nak," ucap Una sayang.
Hanum menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Anak itu sudah tidak kuat lagi menelan makannya. Tenggorokannya sakit, meskipun itu hanya bubur, namun kesakitan itu tetap dia rasakan.
"Ini sakit, Ibu," ucap Hanum disertai dengan jari mungilnya menunjuk lehernya.
Una menghela nafas pelan. "Tapi Hanum minum dulu, ya," ucap Una memberikan minum dan langsung dipatuhi oleh Hanum.
"Apa Ibu akan pergi lagi malam ini?" tanya Hanum.
Una terdiam. Dia menatap Mami Flora yang berdiri disebelahnya. Setelah itu, Una tersenyum dan mengusap lembut pipi Hanum. "Tuan Nadhif akan marah jika Ibu tidak bekerja, Nak," ucap Una lembut.
Hanum terdiam sebentar, setelahnya anak itu mengangguk. "Selesaikan pekerjaan Ibu, ya. Jika tidak, Tuan akan marah. Hanum takut jika Tuan marah," ucap Hanum menunduk.
"Kenapa Nak?" tanya Mami Flora mengangkat dagu Hanum.
__ADS_1
"Jika Tuan Nadhif marah, dia selalu memanggil Hanum dengan sebutan anak haram, Nenek Mami."
DEG
Jantung Una rasanya sedang dihantam oleh ribuan batu besar. Sesak sekali rasanya mendengar penuturan Hanum.
Mami Flora mencoba tersenyum dan mengusap lembut tangan Hanum. "Saat Ibu pergi, Nenek Mami akan menemani Hanum disini. Kita akan bermain dan bercerita banyak ya, Sayang," ucap Mami Flora mengalihkan pembicaraan mereka.
"Una titip Hanum, Mami," ucap Una pelan.
Mami Flora mengangguk. Dia memang sudah mengetahui mengenai janji Una dan Nadhif malam ini, oleh karena itu, dengan inisiatif nya sendiri, Mami Flora yang akan menemani Hanum.
"Hanum mau tidur sebentar, ya Bu," ucap Hanum dan langsgung merebahkan tubuhnya.
"Kau pergilah ke salon tempat kita kemarin, Una. Gunakan kartu ini dan mereka akan melayani mu dengan baik. Mami sudah hubungi salon untuk menyiapkan gaun sesuai permintaanmu," ucap Maki Flora.
"Terimakasih banyak, Mami," ucap Una tulus dan menerima kartu tersebut.
.....
Nadhif saat ini sedang berada di sebuah mall miliknya. Sebelum pergi, dia ingin memberikan sedikit hadiah kepada Mira. Beginilah Nadhif, akan sangat cinta kepada wanita yang memenuhi hatinya.
Mark mengangguk. "Sudah, Tuan. Mereka juga sudah menyiapkan perhiasan sesuai pesanan Tuan," ucap Mark.
Nadhif dan Mark nampak sangat gagah. Terbukti dengan beberapa pasang mata yang melihat mereka saat berjalan dengan tegas dan percaya dirinya di mall tersebut.
Saat melewati sebuah salon, mata Nadhif tidak sengaja melihat wanita yang begitu dia kenal. Nadhif menghentikan langkahnya dan melihat wanita itu hingga masuk ke dalam salon. Nadhif melihat nama salin tersebut. Itu bukanlah salon murah tempat orang biasa. Itu adalah salon mewah kalangan sosialita.
"Apa kau juga melihatnya, Mark?" tanya Nadhif.
Mark mengangguk. Dari sekian banyak orang, Mark dan Mami Flora adalah orang luar yang mengetahui hubungan Mark dan Una.
"Mungkin Nyonya Una ada keperluan, Tuan," ucap Mark sopan. Mark sangat menghormati Una sebagai istri dari Tuannya itu. Tapi Mark sangat menyayangkan sikap Nadhif yang sangat tidak pantas dan tidak menganggap Una sebagai istrinya.
Nadhif tersenyum miring. "Dia semakin memperjelas kualitas dirinya. Murahan!"
__ADS_1
…..
Setelah melihat Una benar-benar memasuki salon tersebut, Nadhif yang masih dengan senyum miringnya melanjutkan langkah kakinya.
Kau bekerja saat aku tak di rumah, rubah kecil. Batin Nadhif mengumpati Una. Ya, memang sejak semalam Nadhif sama sekali belum kembali ke rumahnya. Kebersamaannya bersama Mira membuat dia lupa akan semuanya. Sungguh, pesona Mira membuat Nadhif benar-benar gila.
Disisi lain, Una memasuki salon dengan senyum ramah membalas senyum para pelayan di salon.
"Maaf, Mbak, saya Una, dan ini ... dari Mami Flora," ucap Una kepada salah satu tukang salon yang menyambut kedatangannya.
Pelayanan tersebut tersenyum dan mengangguk. "Mari ikut saya, Nona Una," ucapnya ramah menuntun Una ke ruangan yang akan dia gunakan untuk merias diri.
"Nona masuklah. Di dalam akan ada make up art yang akan merias dan membantu memakaikan gaun yang akan nona kenakan nanti," ucap pelayan tersebut ramah sambil membungkukkan badannya.
"Terimakasih, Mbak," ucap Una ramah.
Una membuka pintu dan masuk ke rumah tersebut. Una langsung disambut ramah oleh make up art yang ada di dalam. "Silahkan duduk, Nona Una," ucap make up art itu ramah.
"Terimakasih," ucap Una dan langsung mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Mbak, bisakah saya minta sesuatu?" tanya Una hati-hati. Karena jujur saja, dia takut meminta ini dan itu setelah pelayanan baik yang diberikan oleh salon Mami Flora. Ditambah lagi, Una tidak mengeluarkan sepersen pun untuk biaya salon.
Make up art itu tersenyum dan mengangguk. "Silahkan, Nona," jawabnya ramah.
"Em ... Bisakah nanti saya tetap menggunakan penutup kepala tapi tetap terlihat seperti rambut? Maksud saya, rambut asli saya benar-benar tidak terlihat," ucap Una sedikit tak enak. Karena jujur saja, Una benar-benar tidak mungkin untuk memperlihatkan rambut aslinya, apalagi nanti dia akan bertemu orang luar yang bukan muhrimnya, jadi Una sebisa mungkin untuk mengakalinya.
Make up art itu tersenyum dan mengangguk. "Tenang, Nona. Mami Flora sudah menyampaikan kepada saya. Nanti, kita akan memasang wig, namun akan terlihat seperti rambut asli Nona," ucap Make up art tersebut.
"Apa wig nya ada, Mbak?" tanya Una polos dan tak enak. Karena jika wig itu tidak ada, maka mereka harus mencari terlebih dahulu di luar kan.
Make up art itu terkekeh kecil dan mengangguk. "Kami sudah menyediakannya, Nona. Jadi, Nona tidak perlu cemas dan tak enak seperti itu. Sudah tugas kami untuk memberikan pelayanan untuk Nona, dan kepuasan Nona adalah tujuan kami," ucap make up art ramah.
Una tersenyum lebar. "Terimakasih, Mbak Dita," ujar Zahra melihat name tag make up art yang akan meriasnya.
"Sama-sama, Nona," jawab Dita lembut.
__ADS_1
Setelah itu, Dita mulai merias Una. Tangan Dita dengan santai dan cekatan menari-nari diatas wajah Una. Untuk kali ini, Una memilih softlens yang sama dengan yang dia gunakan saat bertemu Nadhif kemarin. Untuk wig, mereka menggunakan wig yang sama dengan warna rambut Una. Mami Flora sudah memesan wig tersebut sejak Una memberinya kabar bahwa dia dan Nadhif akan makan malam. Tanpa pikir panjang, Mami Flora langsung mengubungi pihak salonnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
...****************...