Menjadi Gundik Suamiku

Menjadi Gundik Suamiku
BAB 31


__ADS_3

Selamat datang kembali teman-teman. kisah arumi dan bintang balik lagi nih, yeaaayyy!!!!


Selamat membaca dan semoga kalian selalu menikmati walau sudah lama kita tak bersatu hati. HAPPY READING!!


"Murah sama suami sendiri pahala lo, tuan. Dan sayang terhadap istri juga pahala," jawab Una santai yang sama sekali tak terpancing dengan perkataan Nadhif.


"Dan satu lagi, Tuan. Saya mungkin murahan, tapi lubang saya sangat mahal," ucap una dengan yakin mengatakannya kepada nadhif. kenapa. harus malu, toh dia bicara dengan suaminya sendiri.


"Kau yakin?" tanya Nadhif dengan sangat ragu.


"Tentu, tuan. aku yang tahu mengenai diriku," jawab una lembut.


Nadhif terkekeh pelen. "Aku suka dengan percaya dirimu itu. tapi itu tidak pantas kau sampaikan kepadaku, sampaikanlah itu kepada orang yang tidak mengetahui betapa murahnya dirimu," ucap Nadhif enteng tanpa memikirkan efek apa yang akan dirasakan oleh Una ketika mendengar apa yang dia sampaikan.


Una tersenyum sendu. tidak ada Nadhif berbicara seperti itu sekarang, saat nanti una menjadi mira maka dia akan membalas semua umpatan kasar Nadhif.


"oya, boleh aku bertanya, Una?" tanya Nadhif santai.


"Silahkan, Tuan," jawab una lembut namun terdengar tak bersemangat.


"Siapa Ayahnya Hanum?" tanya Nadhif yang membuat Una terdiam.


Una memalingkan wajahnya dari Nadhif, wanita itu tidak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan. berat yang diajukan oleh Nadhif.


"Kenapa kau diam? kau tak tahu siapa ayahnya?" tanya Nadhif lagi yang dibalas anggukkan oleh Una.


"Saking banyaknya yang memasuki mu sampai-sampai kau tak tahu siapa ayah dari anakmu sendiri," ucap nadhif santai.


una menoleh, wanita itu menatap tak percaya atas apa yang Nadhif sampaikan. "Hanum hadir bukan karena pekerjaan terlarang saya, Tuan. Dan satu hal yang harus tuan tahu, pelanggan saya hanya satu orang, dari awal saya bekerja sampai sekarang hanya satu pelanggan saya. itu artinya, hanya seorang pria yang keluar masuk dari lubang saya. jika tuan tidak percaya, silahkan tanya sama mami flora," jawab una memberi penjelasan kepada Nadhif yang membuat lekaki itu terdiam.


"hanya satu? kau mencintai pelanggan mu itu?" tanya Nadhif yang entah kenapa hatinya sangat tak rela mendengar apa yang una sampaikan. Dari apa yang una katakan, Nadhif menebak bahwa ada yang spesial dari una untuk pelanggannya itu.


"Entahlah, tuan. aku hanya memenuhi kewajiban," jawab Una apa adanya. ingin rasanya una berteriak bahwa pelanggan yang selama ini dia sebut itu adalah suaminya sendiri. tapi sepertinya itu tidak mungkin, keras hati Nadhif akan menutupi segala kebenaran yang una sampaikan.

__ADS_1


"kewajiban apa yang kau maksud?" tanya ndhif bingung dengan jawaban yang una sampaikan.


"Jika saya beritahu sekarang tuan tidak akan mengerti, biar nanti tuan tahu dengan sendirinya," jawab Una tersenyum lembut menatap Nadhif.


"Barangkali pelanggan satu-satumu itu adalah ayahnya Hanum," ucap Nadhif spontan yang membuat una menatap intens lelaki yang sibuk dengan kemudinya.


"aku juga berharap seperti itu, tuan. Tapi sepertinya tidak," jawab Una lesu.


"Kenapa? dulu kau banyak di pakai lelaki sampai bingung lelaki mana yang menghamilimu?" tanya Nadhif dengan kata-kata yang sangat menusuk di hati una.


Una terkekeh sendu. sungguh, dia miris dengan segala ucapan Nadhif untuk dirinya.


"Saya diperkosa, Tuan."


CIIIIT.


Nadhif reflek menginjak rem mendengar apa yang baru saja una sampaikan. "Apa maksudmu?" tanya Nadhif menatap Una penuh tanya.


Una mengangguk. "Hanum adalah hasil dari pelecehan yang saya dapatkan beberapa tahun yang lalu. Suasana yang tamaram membuat saya tidak bisa mengenali siapa orang yang memperkosa saya, Tuan," ucap Una menjelaskan menatap Nadhif.


"Jadi berhenti menyebut saya murahan, tuan. ada alasan kuat mengapa saya harus bekerja di tempat mami flora," ucap una menegaskan kepada Nadhif yang membuat lelaki itu tidak bisa bicara apa-apa.


setelah beberapa menit diam, Nadhif akhirnya kembali menjalankan mobilnya untuk menuju rumah. setelah perkataan una tadi, Nadhif hanya diam. tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.


Una mengerti, mungkin Nadhif masih terkejut dengan apa yang dia sampaikan, atau lelaki itu merasa bersalah dengan apa yang sudah dia sampaikan tadi. entahlah, yang pasti una hanya berusaha mempertahankan harga dirinya saat kata murahan itu selalu teelontar dari bibir Nadhif.


.....


beberapa menit, akhirnya mobil Nadhif sampai di rumah. setelah memarkirkan mobilnya, Nadhif langsung turun tanpa menyapa Una sama sekali.


"Kenapa dia yang jadi aneh?" tanya una tak mengerti dengan sikap Nadhif.


Sedangkan di dalam rumah, Nadhif menghentikan langkahnya saat melihat Mami flora yang duduk di ruang keluarga sambil memainkan ponsel.

__ADS_1


Mami Flora yang menyadari kedatangan seseorang mengangkat kepalanya. Mata mami flora melebar sempurna melihat Nadhif yang sudah sampai di rumah.


"Nadhif," ucap Mami flora tak percaya.


"Mami ngapain disini?" tanya Nadhif heran melihat mami jeni yang duduk dengan tenang di ruang keluarga.


"Perasaan aku tidak minta mami kesini," ucap nadhif lagi bingung.


"Aku yang minta mami jeni datang, Tuan. Maaf jika aku tidak minta izin terlebih dahulu," ucap Una yang datang dari belakang Nadhif.


Mami flora menghela nafas pelan, untuk una datang, jika tidak dia akan sulit menjawab pertanyaan Nadhif.


"Untuk apa?" tanya Nadhif.


"Untuk menjaga Hanum. aku tidak mungkin meninggalkan Hanum sendirian. setiap aku ada pekerjaan dengan pelangganku, aku pasti minta tolong mami jeni untuk menjaga Hanum," jawab una jujur.


Alis Nadhif terangkat. sedekat apa una dan mami jeni sampai-sampai wanita paruh baya yang terkenal galak dan ganas itu mau menuruti permintaan Una.


"Sedekat itu? kalian sedekat itu sampai mami mau menuruti apa yang una minta?" tanya Nadhif heran.


"Ya, mas," jawab una singkat dan tak ada bantahan apapun dari mami jeni.


Nadhif menatap mami Flora dan Una bergantian. Apakah mungkin? batin Nadhif bertanya-tanya. Nadhif menggeleng kuat menghilangkan pikiran-pikiran yang sangat ingin dia singkirkan dari kepalanya.


Nadhif segera pergi dari sana karena tak bisa berpikir dengan jernih. perkataan una yang mengatakan pemerkosaan tadi masih sangat mempengaruhi Nadhif.


Mami Flora berjalan mendekati una. "Kenapa bisa pulang berdua, una?"


......................


Bagi yang lupa kalian boleh baca bab sebelumnya dulu biar rasanya nyampe ke hati menusuk jiwa yaaa, hehe.


BTW, cuma mau kasih info kalau mulai sekarang, tanggal ini, bulan ini dan tahun ini, aku akan aktif nulis lagi, ya. kita akan berkomunikasi intens lewat karya-karya aku.

__ADS_1


dan yang paling penting, aku minta maaf karena baru bisa update lagi. Peluk jauh dari Nona Marwa dan enjoy your reading 🤗🥰


__ADS_2