
HAPPY READING
Setelah kembali dari club' Mami Flora, Nadhif menghentikan mobilnya di tepi jalan sepi untuk menenangkan hatinya. Pikirannya terbagi, di satu bagian ada Mira, di satu bagian ada wanita empat tahun lalu yang dia renggut keperawanannya, dan disisi lain ada Una yang akhir-akhir ini membuat perasaanya gak menentu.
Nadhif menghela nafas pelan dan menyandarkan kepala serta punggungnya ke sandaran tempat duduk mobil. "Tiga wanita dalam satu waktu," gumam Nadhif dengan mata terpejam.
Saat teringat akan sesuatu, Nadhif mengeluarkan kalung yang dia simpan di saku jasnya. "Ini bukan kalung biasa," gumam Nadhif menatap lekat kalung tersebut.
"Pasti ada sebuah petunjuk dari kalung ini," lanjutnya bermonolog sambil membolak-balik kalung elegan yang ada ditangannya.
"Aku harus bisa mengecoh Mami Flora. Hanya kau jalan satu-satunya, Mami Flora."
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Nadhif pergi ke club' Mami Flora untuk menemui wanita pujaan hatinya. Mira, wanita yang akhir-akhir ini menjadi pemenang hati Nadhif.
Suara musik mengiringi langkah kaki Nadhif untuk menuju kamar yang akan dia gunakan untuk kegiatan favoritnya.
"Kosong," gumam Nadhif ketika melihat kamar tersebut tidak ada siapa-siapa.
"Apa Mira belum datang? Tapi bukankah dia memang tinggal di club' ini?" tanya Nadhif entah pada siapa.
"Ah, mungkin karena aku belum menghubunginya lagi," ucap Nadhif mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk mengubungi Mira.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif at-, tut-tut.
Nadhif mematikan telfonnya begitu saja saat mendengar suara operator mengangkat panggilannya.
Nadhif keluar dari kamar dan berjalan menuju ruangan Mami Flora.
"Mami," panggil Nadhif.
Mami Flora yang duduk di kursinya hanya menatap Nadhif.
"Tumben sekali tidak beraksi, Mami," ucap Nadhif terkekeh pelan begitu melihat Mami Flora yang sibuk dengan beberapa kertas di tangannya.
__ADS_1
Entah kertas apa, tapi Mami Flora langsung menutup kertas tersebut setelah Nadhif duduk.
"Mira tidak bisa datang malam ini. Ada pelanggan lain yang harus dia layani," ucap Mami Flora tahu akan maksud kedatangan Nadhif padanya.
"Mira punya pelanggan lain?" tanya Nadhif dengan emosi tertahannya.
Mami Flora mengangguk santai. "Bukan hanya kau pelanggan setianya. Banyak yang menginginkan gadis itu. Sekarang keluarlah," jawab Mami Flora.
"Berikan aku alamatnya? Hotel Mana?" tanya Nadhif.
"Itu adalah privasi pelanggan kami," ucap Mami Flora.
"Apa bayaran yang setiap malam aku berikan kurang mencukupinya?" tanya Nadhif lagi.
Mami Flora mengangkat bahu tak acuh. "Bukan uangmu yang kurang, Nadhif. Lagian, ini sudah menjadi tugasnya Mira untuk memenuhi tanggung jawab pekerjaannya," jawab Mami Flora.
"Bukankah aku sudah bilang padamu, bahwa Mira hanya akan menjadi milikku dan hanya melayaniku?"
"Aku ingat, tapi Mira sendiri yang menerima pelanggan ini. Lagian, sepertinya pelanggan ini lebih menarik daripadamu, Nadhif. Buktinya saja, Mira memilih dia kan," ucap Mami Flora dengan sedikit memanas-manasi Nadhif.
Mami Flora terkekeh mendengar perkataan nadhif. “aku hanya bercanda. Kau nampak sangat sensisitif mengenai mira, padalah baru beberapa hari kau mengenalnya. Mira ada keperluan lain yang tak bisa dia tinggalkan. Dan percayalah, dia akan memenuhi janji yang sudah dia ucapkan untuk menjadi wanitamu,” ucap mami flora santai.
Nadhif menghela nafas pelan. Kenapa dia mudah sekali terbawa emosi seperti ini. Mira benar-benar mengacak perasaan nadhif.
“keperluan apa?” tanya nadhif lembut.
Mami Flora berdiri dan berjalan mendekati Nadhif. "Bukan kewajiban ku untuk menjawab setiap pertanyaan mu. Anak-anakku juga memiliki privasi!" tegas Mami Flora dan berjalan meninggalkan Nadhif sendiri di ruangan tersebut.
BRAK
"Sial!" umpat Nadhif memukul keras meja Mami Flora.
Mami Flora mendengar dari balik tembok. Una hebat, membuatmu gila meskipun dengan identitas lain. Batin Mami Flora senang melihat reaksi Nadhif.
.....
__ADS_1
Dengan emosi yang masih ada dalam dirinya, Nadhif keluar dari club' dan langsung memasuki mobilnya. menghela nafas dalam dan mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Saat ini nadhif benar-benar membutuhkan mira, tapi Wanita itu malah tidak datang dan tak bisa dihubungi sama sekali.
Papi nanti malam temui, Hanum, ya.
Nanti malam cobalah untuk datang dan menemui, Hanum di rumah sakit, Tuan.
Perkataan Hanum dan Una tiba-tiba terlintas dalam pikiran Nadhif. "Aku ke rumah sakit bukan untuk memenuhi perkataanmu, Una. Aku ke rumah sakit untuk memenuhi permintaan gadis kecil tak berdosa yang harus hidup menanggung semua karma karena pekerjaan harammu," gumam Nadhif dan langsung menjalankan mobilnya untuk segera pergi meninggalkan arena club'.
Dengan kecepatan penuh, akhirnya mobil Nadhif sampai di parkiran rumah sakit. Nadhif keluar dari mobil dan segera berjalan menuju ruangan Hanum. Namun, saat melewati taman depan rumah sakit, langkah Nadhif terhenti ketika melihat seorang wanita yang sangat dia kenal duduk di kursi taman tersebut.
Entah apa yang membawanya, Nadhif melangkahkan kakinya mendekati wanita tersebut.
"Bukannya menjaga anakmu, kau duduk dengan tidak ada kepentingan disini?" ucap Nadhif tajam tanpa aba-aba yang langsung berdiri di sebelah kursi yang Una duduki.
Una yang awalnya memandangi bintang beralih menatap Nadhif. Senyum terbit diwajah cantik wanita itu. "Tuan memenuhi harapanku?" tanya Una.
Nadhif berdecak. “yang benar saja! Aku kesini hanya untuk anakmu. Aku kasihan dengannya. pasti semua ini karena ulahmu yang memberinya makan dengan uang tidak halal. Dan bukan harapanmu, hanya saja jiwa manusiawi membuatku untuk datang kesini. Sejahatnya aku, Hanum adalah anak tiriku. Identitasnya sangat diperlukan disini agar tidak tercatat sebagai anak haram di rumah sakit,” ucap nadhif dengan tangan bersedekap dada tanpa melihat una sama sekali.
Una berusaha tersenyum. Jelas sekali Nadhif bicara hanya karena ingin membuat dia sakit hati. Tapi, dia tidak akan membuat hal itu terjadi. Mana nungkin rumah sakit membuat identitas seseorang dengan sebutan anak haram. Meskipun tidak diketahui bapaknya, masih ada nama seorang Ibu yang bisa disematkan.
“tapi uangku adalah gaji dari menjadi pembantu di rumahmu, tuan,” ucap una tersenyum yang membuat nadhif menatapnya tajam.
"Pergilah segera ke kamar Hanum, Tuan. Dia pasti sedang menunggu anda sekarang," lanjut Una tanpa menghiraukan tatapan Nadhif.
"Atau anda ingin berlama-lama menemaniku disini?" tambah Una menggoda Nadhif yang masih berdiri disana.
"Sangat membuang waktu!" jawab Nadhif ketus dan segera pergi dari sana meninggalkan Una yang masih menatap punggung tegap itu.
Una tersenyum sendu saat Nadhif menghilang dari pandangannya. "Bukannya tidak menemani anakku, Tuan. Ada pertanyaan Hanum yang berusaha aku elakkan," gumam Una dengan air mata yang tanpa aba-aba menetes dan membasahi pipi mulusnya.
.................................
Semoga menikmati, ya teman-teman. Jangan lupa kasih like dan komentar kalian, biar aku makin semangat, yaa.
Jangan lupa mampir di Instagram aku ya, @nonamarwa_ Kalian bisa melihat postingan-postingan bermanfaat disana dan juga mengenai semua karya-karya ku. Terimakasih ,,,,,,,
__ADS_1