
HAPPY READING
"Mami, bagaimana Hanum?" tanya Una pada Mami Flora yang sudah ada di ruangannya yang ada di club'.
"Hanum sudah tidur. Mami terpaksa meninggalkan Hanum ketika tidur tadi. Mami khawatir dengan mu, Una," ucap Mami Flora.
"Una aman, Mami," ucap Una tersenyum senang.
"Kalau begitu Una pulang dulu, Mami. Jika nanti Nadhif bertanya mengenai Mira, katakan tolong katakan bahwa Mira ada urusan penting, Mami," ucap Una.
"Mira?" beo Mami Flora gak mengerti.
"Nama samaran Una, Mami," jawab Una.
Mami Flora mengangguk mengerti. "Pulanglah, Nak. Mami sudah siapkan mobil dan supir untukmu," ucap Mami Flora.
"Terimakasih banyak, Mami," ucap Una memandang Mami Flora dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, jika bukan karena Mami Flora, mungkin semua ini tidak bisa dia dapatkan.
"Sama-sama, Nak," jawab Mami Flora tulus.
"Dan satu lagi, Una," ucap Mami Flora menghentikan langkah Una.
"Ya Mami?"
"Apa kamu tidak berniat mencari lelaki yang merenggut paksa kehormatan mu?" tanya Mami Flora memandang sendu Una.
Una menggeleng. "Tidak ada petunjuk apapun, Mami. Bahkan saat itu hanya gelap yang ada. Lagian, sekarang Hanum sudah bahagia punya Una. Una pulang dulu, Mami," ucap Una melangkah pergi meninggalkan Mami Flora yang termenung menatapnya.
Tapi Hanum menyimpan banyak luka, Una. Batin Mami Flora sendu mengingat berbagai pertanyaan Hanum tadi.
…..
Una sampai di rumah menjelang pagi. Dengan tenang, Una melenggang pergi memasuki rumah karena satpam jaga masih asik menyelami dunia mimpinya.
Una melangkahkan kaki ke kamar yang berada di ujung dapur. Senyum Una terbit saat membuka pintu kamar. Pandangannya menangkap sosok mungil yang menjadi kekuatannya sedang tertidur pulas.
Una berjalan mendekat dan duduk di pinggir kasur. "Basah," gumam Una saat merasakan spray kasur yang sedikit basah.
Pandangan Una beralih pada mata Hanum yang nampak sembab. Una terdiam menatap Hanum yang tertidur. Maaf atas setiap air mata ini, Nak. Batin Una merasa bersalah menatap anaknya itu.
__ADS_1
"Ibu," gumam Hanum sambil membuka mata kecilnya menatap Una.
"Kenapa bangun, Nak?" tanya Una lembut.
Hanum menegakkan tubuhnya dan duduk menghadap Una. Tangannya beralih mengucek mata untuk menyesuaikan penglihatannya.
"Ibu baru pulang?" tanya Hanum menatap Una.
Una mengangguk. "Maaf ya, Nak. Ibu sedikit terlambat, ada pekerjaan yang harus ibu selesaikan tadi," jawab Una tak enak menatap Hanum.
Hanum mengalihkan pandangannya menatap jam kecil yang ada di dinding dekat pintu. "Sampai pagi, Bu?" tanya Hanum tak percaya.
Una tersenyum tenang dan mengangguk. Sebisa mungkin, dia harus terlihat biasa saja di depan anaknya. "Iya, Nak. Pekerjaan ini harus segera diselesaikan, jika tidak, maka Tuan Nadhif akan marah," jawab Una sedikit berbisik di ujung kalimatnya.
Hanum mengangguk mengiyakan perkataan Una. "Ibu," panggil Hanum pelan.
"Kenapa Sayang?" tanya Una mengusap kepala Hanum.
"Sholat tahajud?" tanya Hanum.
Una tersenyum dan mengangguk. Hanum tersenyum senang dan bangun dari tidurnya. Ibu dan anak itu segera keluar kamar untuk pergi ke kamar mandi yang ada di dapur dan segera mengambil wudhu.
.....
Una tersenyum, tidak terasa air matanya jatuh membasahi pipi ketika melihat wajah daHanum anaknya.
Kepingan kejadian empat tahun lalu masih terngiang di hatinya. Kejadian yang membuat jadinya manusia kecil dalam rahimnya. Kejadian dimana dia harus memuaskan nafsu seorang lelaki yang bahkan tidak pernah dia lihat rupanya. Kegelapan saat itu menemani Isak tangis Una yang masih berusia tujuh belas tahun.
"Jangan biarkan anakku mendapat karma atas kesalahanku, Tuhan. Bantu aku berjuang untuk mendapatkan cinta suamiku. Bantu aku memberi Hanum sedikit kasih sayang seroang Ayah dari Nadhif," gumam Una sendu sambil mengusap lembut pipi Hanum.
Una mengangkat Hanum dan menidurkannya di kasur. Setelah itu, Una melepaskan mukenah yang masih membalut tubuh mungil Hanum dan melipatnya.
Una menatap jam yang masih menampilkan pukul empat lewat sepuluh pagi. "Tidak ada tanda-tanda Tuan Nadhif akan pulang," gumam Una menatap keluar jendela rumahnya yang langsung menatap ke gerbang rumah.
Una kembali duduk bersimpuh di sajadahnya dan berdzikir serta melantun sholawat untuk pencipta dan nabi-Nya sambil menunggu waktu subuh.
.....
Cahaya merembes melalui celah lubang yang ada di atas jendela. Merasa terganggu, Nadhif mengerjapkan matanya saat cahaya itu tidak sengaja mengenai matanya yang terpejam.
__ADS_1
Tangan Nadhif meraba-raba sebelah kasurnya.
Kosong.
Itu berarti wanita semalam yang memberikan kenikmatan kepadanya telah pergi sebelum dia bangun. Nadhif membuka mata dan tersenyum. Setelah sekian lama, akhirnya dia merasakan wanita yang benar-benar memberikan kenikmatan tiada dua untuknya. Meskipun sudah memasuki banyak wanita, tapi yang satu ini sangat berbeda.
Pilihan Mami Flora memang sangat luar biasa. Batin Nadhif senang.
Nadhif mendudukkan tubuhnya di kasur dengan selimut yang membalut hingga pinggangnya. Dia menatap sofa, meja makan dan kamar mandi yang ada di ruangan tersebut. Semua itu adalah tempat dimana mereka melakukan hubungan layaknya suami istri.
"Kamu milikku, Mira," gumam Nadhif dan segera bangun dari tidurnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lima belas menit, Nadhif keluar dengan rambut yang basah. Tangannya tak tinggal diam dan terus bekerja mengusap rambut tersebut.
"Baru jam tujuh pagi," gumam Nadhif melihat jam yang ada di nakas sebelah ranjang.
Nadhif duduk di kasur dan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Saat mengambil ponsel, Nadhif tak sengaja melihat selembar cek.
"Dia tidak membawanya," gumam Nadhif melihat cek yang dia berikan untuk Mira.
"Ah, mungkin dia lupa," gumam Nadhif lagi. Cepat-cepat Nadhif memakai kembali bajunya dan segera keluar dari kamar tersebut.
Nadhif berjalan keluar kamar dan melihat beberapa karyawan yang nampak membersihkan sisa-sisa minuman dan makanan ringan di club' tersebut.
"Mami," panggil Nadhif saat melihat Mami Flora yang akan memasuki ruangannya.
"Kau sudah bangun, Nadhif?" tanya Mami Flora dengan nada mengejek.
Nadhif tersenyum dan mengangguk. "Kau sangat hebat dalam mencari wanita, Mami," ucap Nadhif.
Mami Flora tertawa kecil. "Hentikan kebiasaan mu itu, Nadhif. Ingat, ada istrimu bukan di rumah," ucap Mami Flora sambil memasuki ruangannya dan diikuti Nadhif di belakang.
"Dia hanya pembantu," jawab Nadhif dengan suara dinginnya yang membuat Mami Flora terdiam.
"Aku minta malam ini dia kembali disini, Mami. Jam sembilan malam. Aku akan datang. Ingat, Mami! Mira hanya untukku, aku tidak mau jika ada lelaki lain yang memakainya. Aku akan membayar mahal untuk itu," ucap Nadhif memberikan salah satu kartu yang ada di dompetnya dan meletakkan di atas meja Mami Flora.
"Ingat, hanya aku yang akan bersama Mira, Mami!" ucap Nadhif sekali lagi menekankan kepada Mami Flora. Setelah itu, dia berjalan santai ke luar ruangan Mami Flora dan pergi meninggalkan Club' tersebut.
Mami Flora menatap Nadhif yang menghilang. Dia mengalihkan pandangannya pada kartu yang ada di atas meja. Tangan Mami Flora terulur mengambil kartu tersebut.
__ADS_1
"Ini adalah hak kamu, Una," gumam Mami lirih mengambil kartu tersebut dan menyimpannya di laci meja.
...****************...