Menjadi Gundik Suamiku

Menjadi Gundik Suamiku
BAB 14


__ADS_3

HAPPY READING


Satu jam tiga puluh menit, Una selesai dengan riasan wajah dan rambutnya. Sungguh, Make up art tersebut berdecak kagum melihat perubahan Una. Dia merasa menjadi make up art hebat karena melihat hasil polesannya di wajah Una.


"Sungguh, Nona, ini adalah karya make up terbaik saya," ucap Make up art tersebut. Tentu saja, wajah manis Una sangat mendukung hasil riasannya.


Una tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih banyak, Mbak Dita," ucap Una.


Rambut Una dipasangkan wig dan dibentuk menjadi sanggul rendah dengan sedikit rambut yang dibiarkan terjuntai di kedua sisi telinganya. Sebelum memasang wig, Una terlebih dahulu menggunakan inner hijab yang menutupi hingga leher, setelah itu barulah dipasangkan wig oleh Dita. Rambut tersebut sedikit di Curly untuk membentuk gelombang indah. Di bagian sanggul, terdapat hiasan rambut berbentuk bunga yang nampak sangat elegan. Sungguh, Una merupakan Barbie hidup saat ini.


"Sekarang mari kita ganti pakaian, Nona," ucap Dita.


Una mengangguk dan menuruti langkah kaki Dita ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. "Bisa saya lihat gaunnya terlebih dahulu, Mbak?" tanya Una.


Dita mengangguk. Dia berjalan menuju lemari kaca. Di sana, sudah terdapat sebuah dress hingga mata kaki yang nampak sangat pas. Dress berwarna hitam itu nampak sangat elegan bagi Una.


"Ini, Nona," ucap Dita melihatkan kepada Una. "Ayo kita ganti, Mbak," ucap Una tak sabaran memakai dress tersebut. Mami Flora benar-benar pintar dalam memilihkan dress untuk Una. Dress tersebut benar-benar tidak membentuk tubuh, namun sangat elegan dan anggun. Kedua lengan dress juga panjang dan tidak ada belahan sama sekali. Bentuk leher yang tinggi membuat dada Zahra tidak terekspose.


Lima belas menit di ruang ganti, Una keluar dengan senyum merekahnya.


"Sempurna, Nona," ucap Dita melihat Una.


Una mengangguk. "Masya Allah, terimakasih banyak, Mbak," ucap Una.


"Sangat beruntung lelaki yang memiliki anda, Nona," ucap Dita.


Una hanya tersenyum lembut. Andai Mbak tahu kalau saya ini akan menjadi ****** suami sendiri, Mbak. Batin Una lirih.


"Di depan Mall, sudah ada mobil yang akan mengantar Nona. Apa saya temani keluar, Nona?" tawar Dita.


Una menggeleng. "Tidak usah, Mbak. Biar saya keluar sendiri," ucap Una.

__ADS_1


Setelah berpamitan, Una keluar dari salon dan berjalan dengan kepala sedikit menunduk keluar mall. Karena sepanjang perjalanan, banyak pasang mata yang melihat kagum ke arah Una.


.....


Una duduk di sofa kamar. Ya, Nadhif akan menjemput Una di kamar tempat mereka meneguk nikmat kemarin.


Sudah sepuluh menit Una menunggu, namun Nadhif tidak kunjung datang. Saat Una akan berdiri dan ke kamar mandi, pintu kamar terbuka.


Una tersenyum canggung. Percayalah, jantung Una sedang lari maraton saat ini. Tatapan Nadhif benar-benar membuat Una salah tingkah, hingga tanpa sadar kakinya terasa sedikit gemetar karena pandangan Nadhif.


"Tu-Tuan," ucap Una pelan.


Nadhif masih menatap kagum melihat wanita di depannya ini. Benarkah ini manusia? pikir Nadhif. Nadhif seperti melihat boneka hidup saat ini.


Tanpa aba-aba, Nadhif langsung merengkuh pinggang Una mengikis jarak antara mereka. "Jangan panggil Tuan, Mira," ucap Nadhif dengan suara pelan.


"Mas Nadhif?" ucap Una menatap Nadhif polos.


Tangan Una meremas kuat jas milik Nadhif. Setelah merasa Una kesusahan bernafas, Nadhif melepaskan penyatuan bibir mereka. "Kamu membuatku gila, Mira. Andai kita tidak pergi, maka aku akan melahap mu sekarang juga," ucap Nadhif serak.


Tangan Una beralih mengusap lembut bahu Nadhif. "Malam ini dan seterusnya, kapanpun, aku adalah milikmu, Tuan," ucap Una.


"Tuan?" beo Nadhif menaikkan sebelah alisnya.


Una berdecak. "Maksudku, Mas Nadhif," ulang Una sambil tersenyum.


Nadhif balik tersenyum. Lelaki itu menangkup kedua pipi Una dengan tangannya. Nadhif mendekatkan bibirnya ke dahi Una.


DEG


Dengan penuh perasaan, Una dapat merasakan ketulusan Nadhif saat dia mengecup dahinya lama. Ya Allah, begitu tenang dan damai disayangi seperti ini. Batin Una.

__ADS_1


Selembut inikah sosok suamiku yang sebenarnya? Apa aku penyebab setiap dosa dan kemarahannya, Tuhan? Tuan Nadhif benar-benar tulus kepadaku, meski aku harus menjadi Mira terlebih dahulu. Lanjut Una membatin sendu. Setidaknya, dalam penyamarannya Una mendapat kasih sayang Nadhif.


Nadhif mengecup dahi Una dengan mata terpejam menikmati dahi lembut Una. Sedalam ini kau mengambil hatiku, Mira. Batin Nadhif.


Lima menit, Nadhif menjauhkan bibirnya dari dahi Nadhif. Manik Nadhif menatap dalam manik Una yang nampak sangat indah.


"Pergi sekarang, Princess?" tawar Nadhif menjulurkan tangannya.


Una tersenyum dan mengangguk. Dengan tangan saling menggenggam, Nadhif dan Una keluar kamar dan segera pergi ke tempat makan malam.


Selama dalam perjalanan, tangan kiri Nadhif tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Una. Sedangkan tangan kanannya fokus memegang stir mobil. Bagi orang yang tidak tahu, maka mereka akan mengatakan bahwa Nadhif dan Una adalah sepasang suami istri.


.....


Makan malam bersama kolega bisnisnya berjalan dengan lancar. Kini Una dan Nadhif sudah berada kembali di kamar penuh nikmatnya.


Kini, terlihat dua manusia itu sedang bertukar keringat dan saling memberikan kenikmatan satu sama lain. Ini sudah dua jam sejak mereka melakukannya, namun Nadhif masih terus menggagahi Una yang nampak pasrah di bawahnya.


"Ahh, ahh, kamuuh terbaikhh, Mira," ucap Nadhif dengan suara merdunya dan tubuhnya bergerak diatas Una.


Una pasrah dengan segala perlakuan Nadhif. Nyatanya mereka tidak melakukan dosa, semua ini adalah pahala berlimpah yang akan mereka terima. Meski harus dengan kebohongan, namun dia harus tetap melakukannya.


Una bergerak tak karuan di bawah Nadhif. Kepala menoleh ke kiri dan ke kanan, mulutnya sedikit terbuka dengan tubuh yang terguncang ke atas dan kebawah membuat Una semakin gila karena perlakuan Nadhif.


"Aaaahhhhh," suara indah nanti panjang panjang tercipta dari mulut Nadhif dan Una sampai mereka mencapai puncak kenikmatan secara bersama-sama.


Nadhif ambruk diatas tubuh Una dan mengecup pelan ceruk leher wanita tersebut. Nadhif mengeluarkan semua cairannya di dalam tubuh Una.


"Setelah ini, minumlah obat yang aku berikan," ucap Nadhif serak dan mengecup bibir Una kembali.


Una diam. Dia hanya mengangguk, meskipun dia tidak meminum obat tersebut melainkan membuangnya. Ingin sekali Una hamil, tidak apa dia akan ketahuan nanti, dia yakin, Nadhif pasti akan menerima jika dia hamil nanti, itu pikir Una.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2