
Gita berdiri menatap sedih gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di depannya. Hatinya merasa teriris mengingat di gedung depannya ini sangat banyak menyimpan kenangan tentang papanya.
Aryanto Lukmana, papa Gita, pernah menjadi direktur di gedung depannya ini, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti. Papa Arya sangat sukses waktu itu sebelum semuanya hilang begitu saja oleh adik kandungnya sendiri, William Lukmana.
"Astaga!" teriak Gita saat pundaknya ditepuk seorang gadis manis.
Refleks Gita mengurut dadanya untuk menenangkan jantungnya yang hampir lompat dari tubuhnya.
"Marsha! Jangan ngagetin dong ...," sewot Gita mendelikkan matanya.
"Hehe maap khilaf, habisnya kamu dipanggil dari tadi diem aja. Ngelamunin apa sih kok sambil liat gedung itu?" tanya Marsha penasaran.
"Inget sama almarhum papaku aja," jawab Gita tersenyum sedih.
"Udah jangan sedih ah kan papa kamu udah bahagia di surga, aman bersama Tuhan. Yuk ah kita duduk di kursi taman itu. Nih liat ciloknya udah aku beli," ucap Marsha sambil memperlihatkan bungkusan plastik di tangannya.
"Banyak banget sih beli cilok. Emang kamu beli berapa?" tanya Gita yang kaget melihat bungkusan besar cilok di tangan Marsha.
"Sepanci aku beli semua," ucap Marsha dengan senyum manisnya.
"Ya ampun Marsha ... Emang kamu bisa habisin itu cilok?"
"Kan bisa disimpan di kulkas trus besok tinggal dipanasin. Lumayan buat stok makan 3 hari." Marsha berucap tanpa beban.
"Ya Tuhan, kuatkan hambaMu ini menghadapi semua cobaan ini," ucap Gita berdoa sambil menengadahkan tangannya.
"Kok doa sambil jalan sih. Belum makan juga. Yuk duduk dibawah pohon situ yang teduh," ajak Marsha sambil menarik tangan Gita.
__ADS_1
Setelah mereka berdua duduk, Marsha pun dengan semangat 45 mengambil dua bungkus besar cilok.
"Nih Git, makan dulu. Lumayan bisa bikin kenyang sampai makan malam."
"Makasih Marsha. Aih ... Seminggu makan cilok terus bisa kaki gajah aku," ucap Gita sambil menelan butiran demi butiran cilok pedas di tangannya.
"Tenang cuma 3 hari kok nggak sampai seminggu. Hehe ... "
Marsha masih juga jawab.
Gita hanya bisa menikmati sebungkus cilok ditangannya. Memang hidupnya kini bagaikan rollercoaster dan saat ini ia benar-benar sedang ada di titik terendah.
Dulu saat papanya masih hidup, ia hidup dengan bergelimang harta. Apalagi ia anak tunggal. Jangankan beli sepanci cilok, segerobak atau sekalian sama abang penjualnya juga bisa, kalau abangnya mau. Hehe ...
Tapi kini, sejak 3 bulan terakhir, ia harus hidup hemat sehemat-hematnya.
Perusahaan dan semua asetnya diambil alih oleh Om William, pamannya sendiri. Ia hanya diberikan sebuah rumah yang kini sudah mamanya jual untuk biaya hidup.
Sebagian uang hasil penjualan rumah, ia berikan pada Gita untuk bekal hidup di Jakarta.
Gita tidak mau ikut Mama Sinta karena Gita mempunyai misi untuk kembali merebut perusahaan yang memang haknya dan seharusnya menjadi miliknya.
Untung saja saat ini Gita sudah lulus kuliah dan saat ini ia sedang berjuang mencari pekerjaan.
Di hidupnya yang serba sulit ini, hanya Marsha yang setia menjadi temannya. Gita tinggal di rumah kontrakan berdua bersama Marsha.
"Nih ambil lagi," ucap Marsha yang kembali sukses mengagetkan Gita.
__ADS_1
Di depan matanya ada sebungkus cilok yang disodorkan Marsha.
"Aku udah kenyang, Mar. Simpan aja buat makan malam. Yuk pulang," ajak Gita sambil mengambil botol minum didalam tasnya.
"Loh kita nggak jadi ke kantor depan itu?" tanya Marsha bingung. Karena memang rencananya Gita dan Marsha akan memasukkan lamaran ke kantor advertising yang lumayan terkenal.
"Besok aja deh. Yuk pulang, aku udah capek. Ntar malem kan aku mau ngedate," ucap Gita sambil menaik turunkan alisnya.
"Hilih ... Ngedate ngedate. Bukannya kamu mau reuni SMA?" tebak Marsha.
"Halah anggap aja ngedate. Kan reunian ketemu mantan."
"Palingan kamu pengen balikan kannn ... Iya kan," ejek Marsha sambil tertawa geli.
"Gak tau deh, siapa tau dia masih jomblo kan. Udah ah yuk pulang."
Akhirnya Gita dan Marsha melangkah pulang ke kontrakannya. Gita akan bersiap untuk menghadiri reuni nanti malam. Ia berencana meminta bantuan teman-temannya yang kaya-kaya untuk meminta pekerjaan. Karena saat ini ia memang sangat membutuhkan pekerjaan yang layak.
Semoga saja teman-temannya mau membantunya. Kan mereka dulu di SMA dikenal sebagai genk anak tajir.
-
-
-
Halo readers, makasih sudah mau memulai membaca tulisanku ini. Semoga suka yaaaa...
__ADS_1
Kasih semangat dong buat aku biar makin semangat nulis dengan klik like, favorit, vote, gift dan komennya.
Makasih... Lope lope buat kalian🥰🙏