Menjadi Istri Sempurna

Menjadi Istri Sempurna
Eps 21. Rencana Shopping


__ADS_3

Jam 13.00 tepat, terdengar suara mobil yang berhenti didepan rumah kontrakan. Gita dan Marsha segera keluar rumah karena yakin itu adalah mama Rasti yang datang menjemput.


Terlihat kaca jendela mobil yang terbuka dan benar saja, mama Rasti tersenyum manis pada Gita dan Marsha. Segera saja Gita dan Marsha masuk kedalam mobil. Marsha duduk didepan sebelah sopir dan Gita duduk di kursi belakang bersama mama Rasti.


"Halo Gita, maaf ya Mama datang agak telat. Soalnya tadi macet ada kecelakaan," sapa mama Rasti.


"Ah nggak apa-apa kok, Ma. Oh iya, ini kenalin temen kontrakan saya, Marsha namanya. Dia juga yang besok jadi manajer cafe, Ma," jelas Gita memperkenalkan Marsha.


Segera saja Marsha mengulurkan tangannya memperkenalkan diri," Halo Tante, saya Marsha."


"Hai juga Marsha," balas Mama Rasti ramah.


"Mama nggak capek nganterin Gita? Sebenarnya Gita bisa kok kesana sendiri soalnya Gita tahu daerahnya," kata Gita tak enak hati karena melihat mama Rasti sepertinya lelah.


"Eh jangan dong, mama nggak capek kok. Malahan seneng kalau bisa nganterin kamu. Oh iya, kalian sudah makan siang belum?" tanya mama Rasti.


"Sudah kok, Ma. Mama belum ya?" tanya balik Gita.


"Jelas sudah, tadi kan mama hang out sama temen-temen mama jadi ya acaranya pasti makan," senyum mama Rasti yang terlihat bahagia.


"Asyiknya Tante bisa ketemu temen-temen. Pasti rame dan seru," ucap Marsha yang antusias ikut mendengarkan obrolan Gita dan mama Rasti.


"Iya dong harus selalu happy biar awet muda. Mama kan juga nggak punya kerjaan makanya daripada di rumah mending menyibukkan diri ngabisin duit suami," gelak mama Rasti yang menular pada Gita dan Marsha.


"Hemm sayang aku belum punya suami. Kamu enak, Git. Bentar lagi punya. Mengsedih," ucap Marsha pura-pura sedih padahal biasa aja. Memang Marsha belum ingin menikah dalam waktu dekat.

__ADS_1


"Ya kalau suami kasih duit buat bisa dihabisin, kalau engga?! Ya cuma bisa gigit jari," cengir Gita seperti menertawakan diri sendiri. Karena sekarang ia ingat Dylan, calon suami jadi-jadiannya. Dia juga seperti karyawan saja, cuma pekerjaannya jadi seorang istri. Mana mungkin Dylan akan memberi jatah uang untuk bersenang-senang?! Rasanya nggak mungkin. Daripada nanti berharap kecewa, ya udah mending jalani aja.


"Duit Dylan itu banyak loh, Git. Nanti kalau udah jadi istrinya Dylan, ya kamu minta dong nafkah. Mama yakin kalau Dylan akan memberi kamu kartu unlimitednya yang ada beberapa. Nah kita bisa tuh shopping, ke salon dan habisin duit suami," antusias mama Rasti karena akhirnya ia punya anak perempuan yang bisa ia ajak shopping bareng.


"Hehe iya, Ma. Kita lihat besok aja ya," ucap Gita tersenyum kikuk karena tak ingin banyak berharap.


"Jangan lupa ajak aku ya, Tante Rasti," sahut Marsha cepat. Kesempatan jalan-jalan, makan-makan jangan sampai terlewatkan dong.


"Pasti lah, Marsha. Tenang aja," senyum Mama Rasti senang karena untuk kedepannya ia punya teman buat diajak shopping keliling mall sampai mall tutup.


Setelah hampir satu jam akhirnya mobil berhenti di lokasi cafe yang akan di survei. Gita, Marsha dan mama Rasti segera turun. Mereka pun disambut sang pemilik cafe yang bernama Tian, yang sudah menunggu karena memang mama Rasti sudah membuat janji sebelumnya.


Perkenalan singkat pun terjadi, saling mengenalkan diri masing-masing. Namun Gita merasakan perasaan kurang nyaman karena Tian selalu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi Gita berusaha mengabaikan. Ia fokus mengamati kondisi cafe yang akan disewanya.


Tapi Gita juga merasa nyambung berkomunikasi dengan Tian karena Tian yang usianya hampir sama dengan Gita walaupun mungkin lebih tua Tian 2 tahunan. Tian pun meminta Gita agar saking memanggil nama langsung saja tanpa embel-embel 'Mas' atau 'Pak'. Biar lebih akrab katanya. Gita pun tak mempermasalahkan, biar lebih nyaman juga.


"Gita, gimana? Tempat ini sangat strategis lho apalagi jika kamu yang akan menjalankan cafenya nanti, aku yakin pasti akan ramai pengunjung," ucap Tian mendekat dan mensejajarkan dirinya dengan Gita.


"Eh iya, aku juga merasa cocok. Tapi harga sewanya terlalu mahal," senyum Gita yang seketika membuat hati Tian merasa dag Dig dug.


"Masa' sih, coba deh kamu tanya-tanya sekitar. Sewa disini malah lebih murah lho. Tapi untuk Gita, bolehlah aku kurangi 10%," ucap Tian yang seketika membuat hati Gita senang. Tapi ia hanya menampilkan ekspresi biasa saja, padahal hatinya sangat senang. Gita jelas tahu kalau harga sewa cafe ini memang dibawah harga sewa daerah sekitarnya.


"Masa' cuma 10%, 20% dong biar terasa gitu diskonnya," tawar Gita sambil memperlihatkan senyum manisnya.


Tian yang menatap Gita semakin merasa terpesona dan akhirnya, "Baiklah, buat Gita apa sih yang enggak."

__ADS_1


"Ah Tian bisa aja. Makasih banyak ya," ucap tulus Gita.


Dan akhirnya Gita menyelesaikan urusan persewaan cafe. Besok rencananya tempat ini akan langsung direnovasi, diubah desain interiornya agar sesuai keinginan Gita yang memang menginginkan nuansa anak muda.


"Gita, apa besok kamu juga akan kesini?" tanya Tian menatap Gita.


"Iya, kan besok harus diawasi biar sesuai rencana walaupun semua sudah aku serahkan ke pemborongnya sih. Memang kenapa?" tanya Gita balik.


"Bolehkan kalau besok aku juga kesini? Kita makan siang bareng?" tanya Tian terlihat berharap.


Gita tampak berpikir karena ia merasa Tian ingin dekat dengannya tapi ia risih juga karena bagaimanapun ia kan mau menikah?! Tak baik jika dekat dengan pria lain.


"Ehm kita lihat besok aja ya," ucap Gita akhirnya karena tidak ingin Tian tersinggung.


"Oke, aku hanya ingin kita berteman baik, Gita. Baiklah kalau gitu aku pamit dulu, sampai bertemu besok," pamit Tian yang juga berpamitan pada mama Rasti dan Marsha.


"Git, Tian kenapa sih dari tadi mepet kamu terus? Nggak sadar apa disini ada camer kamu?" sewot Marsha yang merasa aneh dengan tingkah Tian yang memang sangat terlihat ingin dekat dengan Gita terus.


"Iya tuh bikin nggak nyaman aja. Makanya besok kamu temenin aku lagi ya untuk balik sini. Kan besok udah mulai renov nya," pinta Gita.


"Oke, siap Bu bos," ucap Marsha sambil mengacungkan jari jempolnya.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2