
Semua yang terhidang di meja telah habis. Kini Gita sedang menyeruput teh hangatnya.
Nikmat rasanya. Perut sudah kenyang. Lihat pemandangan di sekitar yang bagus banget. Ehm kurang apa lagi ya? Gita mengingat-ingat, berpikir keras akan tujuannya ada disini.
"Oh iya, kamu tadi bilang ada hal penting jadi kamu paksa aku datang kesini. Ada apa sih?" tanya Gita menyelidik setelah ingat jika tadi Dylan memaksanya untuk ikut.
"Ehem ... ," Dylan berdeham dan terdiam, nampak berpikir.
"Ada apa sih? Kok lama banget jawabnya? Penting banget ya? Hem ... Kamu minta putus?" tanya Gita menebak karena Dylan tampak kesusahan mengatakannya. Pasti sesuatu yang membuat ia merasa tidak enak hati.
"Bukan, jadi gini. Setelah kita menikah, papa mamaku minta supaya kita tinggal di rumahnya," ucap Dylan tak enak hati. Karena ia sangat paham jika Gita tidak akan nyaman tinggal bersama mertua. Walaupun sebagai anak, ia juga tidak akan merasa nyaman jika setelah menikah akan tinggal di rumah orang tua.
"Hah!" Gita membuka lebar mulut saking kagetnya.
Bukannya ia tidak suka dengan calon mertuanya tapi untuk tinggal bersama dalam jangka waktu lama pasti akan membuatnya tidak nyaman.
Terjadi keheningan yang lama karena Gita dan Dylan larut dalam pemikirannya masing-masing.
"Ehem ... Dylan, boleh aku tahu? Berapa lama kira-kira kita akan tinggal di rumah orang tua kamu?" tanya Gita akhirnya membuka suara karena menunggu Dylan bicara pasti rambutnya udah jadi putih duluan.
__ADS_1
"Nah itu dia, aku juga nggak tahu. Kata mama kita disuruh tinggal disana sampai mama bosen," ungkap Dylan tak habis pikir dengan mamanya.
"Aku sih sebenernya nggak ada masalah sama papa mama kamu, tapi kita kan tahu ya pasti kalau tinggal dalam jangka waktu lama kita akan nggak nyaman. Apalagi pernikahan kita cuma skenario. Capek juga kalau harus akting selama satu tahun didepan orang tuamu," keluh Gita.
"Loh kenapa satu tahun?" tanya Dylan tidak mengerti.
"Kan kontrak kita berlaku satu tahun. Kamu lupa?" ucap Gita mengingatkan.
"Wah tambah kacau dong kalau gini. Kamu ada ide nggak biar mama nggak maksa kita tinggal di rumahnya?" tanya Dylan yang kini terlihat panik.
Gita malah menyipitkan matanya curiga, " Eh itu kan mama kamu, masa' kamu nggak nyaman tinggal dengan mamamu sendiri? Aneh."
"Padahal mama Rasti kan baik banget ya. Gimana caranya biar kita tinggal hanya seminggu dua Minggu gitu lah cukup. Nanti sekali-sekali weekend kita nginap di rumah mama Rasti. Kamu ada ide?" tanya Gita sambil menyeruput teh hangatnya yang tinggal sedikit.
"Malah tanya balik. Ehm apa gini aja, kamu jadi menantu yang antagonis bisa nggak? Kamu akting marahin mama. Soal makanan, kebersihan rumah, minta duit terus. Pokoknya kamu buat mamaku benci kamu," ucap ide Dylan yang tampak antusias.
"Gila aja! Tampang polos kayak bayi gini masa' peran antagonis sih," kesal Gita mendengar ide Dylan.
"Haha polos kayak bayi tapi sendu. Seneng duit," geli Dylan.
__ADS_1
"Eh kamu bilang aku matre? Matre tuh manusiawi tau," balas Gita tak mau kalah.
"Jadi kamu setuju kan?! Kalau kamu berhasil jadi menantu antagonis, nanti aku kasih bonus besar," iming-iming Dylan membujuk Gita.
"Hah .. ogah! Aku nggak mau di cap sebagai menantu durhaka. Ntar aku cari cara lah biar kita nggak tinggal lama disana. Tapi ingat ya bonusku," ucap Gita akhirnya.
Mana tega Gita jadi menantu antagonis. Nggak mungkin dia bisa marah-marah ke mama Rasti, belum juga marah Gita sudah akan dicekik papa Kresna. Gita nggak akan mau mempertaruhkan nyawanya.
"Oke, pasti aku transfer bonusmu. Matre beneran ternyata," gumam Dylan tapi masih jelas terdengar di telinga Gita.
Gita pun hanya tertawa melihat wajah kusut Dylan.
Haha akan aku buat kamu bangkrut selama menikah denganku. Geli Gita dalam hati.
-
-
-
__ADS_1