Menjadi Istri Sempurna

Menjadi Istri Sempurna
Eps 14. Asisten Rumah Tangga


__ADS_3

Gita turun dari taksi online di depan sebuah rumah mewah. Rumah berpagar hitam yang menjulang tinggi dan tentu saja tertutup rapat. Gita menengok ke kiri dan ke kanan. Sepi dan lengang. Memang Gita saat ini berada di kompleks perumahan elit yang rumahnya besar-besar dan mewah.


Beneran inikah rumahnya? Nomor 6, bener deh ini. Gita masih berdiri didepan pagar dan meyakinkan diri jika ia tak salah alamat. Gita hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi Dylan saat seorang satpam menghampiri Gita yang nampak kebingungan.


"Met malem, cari siapa, Neng?" tanya si satpam.


"Met malem juga, Pak. Apakah benar ini rumah Pak Dylan Ananta ya?"


"Benar, Neng. Apa Eneng mau bertemu? Sudah buat janji?" tanya satpam menyelidik.


"Sudah, Pak. Tolong tanyakan ke Pak Dylan jika Gita datang," pinta Gita yang kini bisa tersenyum lega. Ternyata ia tak salah alamat.


"Siap, Neng."


Satpam itu pun bergegas masuk dan menanyakan melalui interkom. Setelah beberapa saat.


"Silahkan masuk, Neng. Ternyata sudah ditunggu sama Pak Dylan didalam."


"Terimakasih banyak, Pak," ucap Gita melemparkan senyuman.


Ia pun kemudian mengikuti langkah si satpam berjalan menuju rumah. Halaman menuju rumah lumayan jauh. Untung Gita hanya memakai flatshoes sehingga tak pegal-pegal kakinya nanti.


Gita terpana melihat rumah dihadapannya yang nampak mewah. Bangunan dua lantai yang artistik dihiasi taman yang indah tertata apik. Memang Gita dulunya orang kaya, tapi rumahnya tak semewah milik Dylan. Ia tetap takjub melihat keindahan rumah Dylan.

__ADS_1


Sebelum membunyikan bel pintu, seorang asisten rumah tangga sudah membukanya.


"Silahkan masuk, Non. Sudah ditunggu Tuan didalam."


"Terimakasih, Bu."


Gita langsung masuk ke dalam rumah yang tentunya membuat Gita kembali takjub. Ia terus melangkah mengikuti bibi asisten yang ternyata menuju ruang makan. Disana terlihat Dylan sudah menunggu sembari memainkan ponselnya.


"Selamat malam, Pak Dylan," sapa sopan Gita saat sudah berdiri dekat dengan Dylan.


"Selamat malam juga. Silahkan duduk, kita makan saja dulu. Kamu pasti belum makan kan."


"Terimakasih."


Mereka makan tanpa ada percakapan. Suasana hening, tapi Gita tetap menikmati makan malamnya. Jarang-jarang kan ia bisa makan seenak ini.


Selesai makan, Dylan mengisyaratkan Gita untuk mengikutinya ke ruang kerjanya yang berada tak jauh dari ruang makan.


Gita duduk di sofa yang ada disana dan Dylan nampak mengambil kertas dari dalam laci meja kerjanya.


"Bacalah dulu dengan teliti. Jika ada pertanyaan langsung tanyakan. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari," ucap Dylan to the point tanpa basa-basi sambil menyerahkan dua lembar kertas ke tangan Gita.


Gita pun menerima kertas yang ditulis dengan tangan Dylan. Ternyata tulisannya rapi. Gita pun membaca dengan teliti poin-poin yang tertulis disana.

__ADS_1


"Apa-apaan ini ... Kenapa banyak banget aturannya? Masa' sampai 30 poin? Yang bener aja!" protes Gita.


Dylan hanya menatap Gita santai dan tak berkomentar apapun. Dibiarkannya Gita berkata semaunya.


"Dan apa ini yang nomor 11. Aku wajib menyiapkan sarapan dan makan malam? Memang bibi asisten tadi kemana?" tanya Gita tak percaya sambil menyipitkan matanya.


"Bi Yanti mulai besok sudah nggak kerja lagi. Dia mau pulang kampung selamanya. Kamu lihat kan kalau dia sudah tua," jelas Dylan.


"Jadi aku merangkap asisten rumah tangga?" tanya Gita tak percaya karena mengamati job desk yang tertulis di kertas itu termasuk membersihkan rumah dan mencuci baju.


"Tentu saja, untuk apa aku bayar kamu mahal jika tidak all in. Semuanya aku dapat. Lengkap." Dylan tersenyum tipis yang membuat Gita kesal.


Gita terdiam. Benar juga. Gajiku seratus juta per bulan, tentu saja sesuai dengan pekerjaan yang aku kerjakan. Heh ... Ini akan berat. Gita menghela nafas dalam.


"Bagaimana?" tanya Dylan menatap wajah Gita serius.


Tanpa menjawab pertanyaan Dylan, Gita mengambil selembar kertas dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada Dylan.


"Apaan ini?!" Mata Dylan melotot tajam membaca tulisan tangan Gita yang hanya sebaris itu.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2