
Wajah Gita tampak masam. Jelas saja, siapa yang tidak kesal jika dipaksa seperti ini. Tapi Dylan terlihat biasa-biasa saja walaupun Gita kesal padanya. Malahan raut wajahnya terlihat senang. Mungkin mengganggu Gita dan membuatnya kesal jadi hobi barunya.
"Dylan, kita mau kemana sih? Nggak lihat nih aku cuma pakai celana pendek dan kaos oversize gini. Mana pake sendal jepit lagi," kesal Gita akhirnya setelah lama hening didalam mobil.
"Nanti juga kamu akan tahu," ucap singkat Dylan tanpa jawaban yang jelas yang semakin membuat Gita merutuki Dylan dalam hatinya.
"Iya, tapi bilang dulu kita mau kemana gitu apa susahnya sih," rutuk Gita semakin kesal.
"Sudahlah kamu nggak usah repot mikirin kita mau kemana. Yang penting disana nanti kamu akan senang dan kamu akan aku kembalikan ke rumah dalam keadaan sehat tanpa kurang sehelai rambut pun," yakin Dylan.
"Mending kamu nikmati tuh pepohonan yang kita lewati. Adem kan rasanya. Sabar, bentar lagi juga sampai," tambah Dylan lagi.
"Heh ... Terserah kamu lah, calon suami jadi-jadian," pasrah Gita akhirnya. Daripada ngabisin energi buat berdebat yang nggak ada faedahnya, mending simpan tenaga. Mana perutnya makin tambah laper lagi.
Kepala Gita sekarang malah berdenyut saking laparnya. Makanya dia gampang emosi orang perutnya lapar.
Gita mengamati jalanan yang dilewati dan sekarang jalan menanjak, sepertinya akan naik gunung. Tapi kemana?
__ADS_1
Hingga kira-kira 20 menit kemudian, mobil Dylan berhenti di sebuah resto diatas bukit. Gita pun merasa takjub dengan pemandangan disekitarnya, tapi karena ia lapar dan kesal jadi ya wajahnya dibuat sedatar mungkin. Gita hanya ingin tahu apa yang Dylan inginkan.
"Yuk turun," ajak Dylan dan membuka pintu mobil lalu keluar.
Gita pun mengikuti langkah Dylan tanpa sepatah katapun. Dan Dylan pun juga diam saja, tidak mengajak Gita berbicara.
Kedatangan Dylan tampak disambut seseorang yang sepertinya manajer resto. Mereka tampak akrab berbincang. Lalu manajer itu mengarahkan Dylan dan Gita untuk duduk di tempat dengan view terbaik.
"Terimakasih, Pak," ucap Gita tersenyum manis saat sudah duduk nyaman dan manajer itu pamit pergi.
"Kalau senyum jangan terlalu manis pada sembarang pria, mereka nanti jadi salah sangka," peringat Dylan dengan wajah tidak suka.
Dylan hanya menatap Gita tanpa ekspresi tanpa membalas ucapan Gita.
"Kita cuma duduk doang nih disini? Nggak pesan makanan atau minuman kek. Laper banget ini. Masa' cuma lihat pemandangan," kata Gita akhirnya karena tidak melihat buku menu yang ditawarkan pada mereka.
Gita memang tidak bisa menikmati pemandangan indah didepan matanya karena gimana mau menikmati dalam keadaan perut kosong?!
__ADS_1
"Sabar," ucap singkat Dylan.
Gita pun hanya bisa mendengus kesal.
Tak berapa lama kemudian, datang para pelayan membawa berbagai macam makanan yang menggugah selera, tak lupa juga minuman hangat karena memang hawa terasa dingin karena letak resto yang ada di perbukitan.
Mata Gita melebar karena melihat banyaknya menu yang tersaji di meja dan semuanya membuat air liurnya menetes. Dylan hanya tersenyum simpul melihat antusiasme Gita.
"Silahkan langsung dinikmati, kamu sudah lapar kan?! Jangan lupa berdoa," ucap Dylan saat melihat Gita yang sudah tidak sabar untuk makan.
"Eh iya, terimakasih," kata tulus Gita.
Setelah berdoa, Dylan dan Gita menikmati semua makanan yang tersaji. Gita sangat bersyukur karena malam ini bisa menikmati makanan seenak ini. Padahal tadi menu makan malamnya hanya telor ceplok.
Eh apa kabar Marsha yang cuma makan telor ceplok malam ini? Kasihan juga dia, nanti kalau bisa aku bungkusin. Eh tapi kan malu sama Dylan. Ah sudahlah, lagian pasti bagian telor ceplok ku udah dimakan sama dia. Lain kali aja tuh anak aku ajak makan enak. Mie ayam tikungan kompleks favorit dia. Batin Gita yang kini tersenyum karena bisa menemukan solusi. Nggak ngerasa bersalah banget karena nggak ajak Marsha makan enak.
-
__ADS_1
-
-