
Marsha gelisah duduk di sofa ruang tunggu. Walaupun tangannya memegang ponsel dan jari-jarinya lincah menscroll sosial medianya, pikirannya tidak fokus disana.
Berkali-kali kepalanya terangkat dan matanya mengamati pintu ruangan bos kantor yang tertulis namanya disana 'Dylan Ananta'.
Haduh ... Gita lama banget sih. Udah hampir satu jam loh dia didalam sana. Apa yang Gita lakukan sekarang didalam sana sih? Aku kok kuatir ya. Apa aku dobrak aja itu pintu ya? Tapi pintunya tebal amat bisa patah kaki aku kalau nendang itu pintu.
Batin Marsha dalam hati. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Gita yang sudah satu jam lamanya belum ada tanda-tanda akan keluar dari ruangan sang bos.
"Mbak," panggil seseorang bersuara bariton yang membuat Marsha seketika terlonjak kaget. Ponsel di tangannya pun dengan bebas terjun ke lantai.
"Astaga Bapak ganteng ... Bikin kaget aja," ucap Marsha sambil mengelus dadanya.
" Mbak silahkan masuk ruangan saya," perintah Roy tersenyum ramah.
"Buat apa?" tanya Marsha bingung. Sepertinya otaknya masih loading karena terkejut. Tangannya pun memungut ponselnya yang tadi terjatuh.
Untung nggak pecah, lecet dikit masih aman lah.
Senyum Marsha melihat ponselnya masih utuh.
"Loh katanya mau cari pekerjaan? Silahkan tes wawancara dulu," jelas Roy sabar.
"Oh iya, Pak. Maaf saya masih kaget ini," ucap Marsha lalu segera bangkit berdiri dan berjalan masuk ke ruangan Roy yang berada disamping ruang sang bos.
"Silahkan duduk," ucap Roy mempersilahkan Marsha duduk di meja hadapannya.
__ADS_1
"Baik, terimakasih Pak."
"Saya Roy Aditya, asisten Pak Dylan. Dan saya ditugaskan untuk mewawancarai mbak. Siapa namanya? Boleh saya lihat CV nya?" tanya Roy dengan tersenyum ramah.
"Nama saya Marsha Andini dan ini CV saya Pak Roy," jelas Marsha memperkenalkan diri dan menyerahkan map ditangannya yang berisi semua data dirinya.
Roy membaca sekilas dan sudah memahami bahwa gadis manis didepannya ini lulusan akuntan yang berprestasi, terbukti dari nilai-nilai yang tercetak di ijazahnya.
"Baiklah, perusahaan akan mempelajari dulu karena saat ini memang lowongan di departemen keuangan tidak ada. Saya hanya menunggu perintah dari Pak Dylan. Beliau nanti yang akan memutuskan," ucap Roy akhirnya karena ia juga bingung dengan perintah sang bos.
Mewawancarai calon pegawai bukanlah pekerjaannya. Tapi karena sang bos yang meminta ya sudah, ia tak bisa protes.
Tiba-tiba terdengar suara bunyi perut lapar Marsha yang membuat suasana hening menjadi tambah kikuk.
Marsha hanya bisa nyengir malu.
"Kita ke kantin saja, banyak makanan kok walaupun sudah sore begini. Kali ini saya traktir," putus Roy karena ia tak tega melihat wajah kelaparan Marsha.
"Beneran nih, Pak? Kan saya jadi nggak enak." Marsha tersenyum nggak enak hati.
Mana ada pelamar kerja ditraktir sama yang mewawancara? Kan ya baik banget itu si mas Roy haha ...
Roy berjalan memimpin langkah menuju kantin dan Marsha berusaha mengikuti langkah lebar Roy.
Sesampai di kantin, perut Marsha makin bergejolak menghirup aroma makanan disana.
__ADS_1
"Silahkan pesan aja, Marsha. Sore ini saya ingin makan rawon," tawar Roy sambil memilih meja yang kosong. Tapi memang kantin sore ini lumayan sepi.
"Saya rawon juga aja, Pak," cetus Marsha.
Roy hanya menganggukkan kepalanya dan segera memesan rawon dan lauk pendamping serta es jeruk manis.
Tak lama pesanan pun datang dan mereka langsung menyantap makanan mereka. Setelah habis, Roy menatap wajah Marsha yang kini nampak kekenyangan.
"Marsha, kalau mau nambah silahkan lho," tawar Roy tersenyum.
"Eh saya udah kenyang banget, Pak. Terimakasih."
"Kamu selama ini tinggal dengan Gita?" tanya Roy dan hanya mendapatkan anggukan kepala Marsha sebagai jawaban.
"Kamu tahu ada hubungan apa antara Gita dan Pak Dylan?" tanya Roy lagi menyelidik.
"Kenapa Pak? Kok Pak Roy kepo?" Marsha balik bertanya dengan nyengir kuda kayak biasanya.
"Ya nggak kepo banget tapi rasanya ada sesuatu gitu diantara mereka," ucap Roy menebak.
"Tanya aja langsung, Pak. Saya takut salah jawab. Hehe ... "
Ealah susah juga mengorek informasi dari gadis manis ini. Batin Roy menatap Marsha yang masih nyengir.
-
__ADS_1
-
-