Menjadi Istri Sempurna

Menjadi Istri Sempurna
Eps 8. Pekerjaan Khusus


__ADS_3

Sore harinya, Gita dan Marsha berangkat ke perusahaan milik Dylan yang ternyata adalah perusahaan yang bergerak di bidang properti.


Kantornya megah dan berada di jalur strategis. Tak sulit menemukan kantor milik Dylan yang bernama Ananta Property.


Sesampai di lobi, Gita pun bertanya pada resepsionis dimana ruangan Dylan. Karena ia sudah membuat janji sebelumnya. Mereka pun diantar ke lantai 3 tempat kantor Dylan berada.


Di lantai 3, sekretaris yang menemui Gita dan Marsha mempersilahkan untuk duduk di ruang tunggu terlebih dahulu karena saat ini ada tamu sedang bertemu Dylan.


"Gita, kantornya bagus banget ya. Semoga kita bisa kerja disini. Pasti gajinya lumayan," bisik Marsha di telinga Gita sambil matanya beredar mengamati sekeliling yang memang terlihat ruangan ini luas dan terlihat mewah.


"Amin, semoga," balas Gita sambil berdoa dalam hati. Ia sangat berharap segera bekerja karena sudah didesak kebutuhan hidup yang menghimpit.


Sekitar setengah jam berlalu, akhirnya pintu ruangan Dylan terbuka dan terlihat 2 orang bapak setengah baya keluar. Kemudian disusul seorang pria berkacamata yang lumayan tampan mengikutinya.


"Ibu Gita?" panggil pria berkacamata itu menatap ke arah Gita dan Marsha bertanya.


Gita langsung berwajah masam.


Apa mukaku keliatan tua! Ibu?! Yang benar saja! Jerit Gita dalam hati.


"Saya Gita, Pak," ucap Gita datar menahan kekesalan dalam hatinya. Ia pun berdiri dari duduknya diikuti Marsha yang juga berdiri.


"Oh mari silahkan masuk, sudah ditunggu Pak Dylan," kata pria berkacamata tiba-tiba tersenyum ramah.


Gita pun menganggukkan kepalanya. "Baik, terimakasih, Pak."


"Saya gimana, Pak?" tanya Marsha tiba-tiba yang membuat langkah Gita dan pria berkacamata terhenti.


"Kamu siapa?" tanya pria berkacamata menyipitkan matanya bingung.


"Kenalkan nama saya Marsha Andini, Pak," ucap Marsha sambil mengulurkan tangannya pada pria berkacamata itu.

__ADS_1


Pria berkacamata itu pun menyambut uluran tangan Marsha. Tapi ..


"Oh iya, lalu?" Pria berkacamata itu masih nampak bingung dengan keberadaan Marsha disana.


"Marsha datang bersama saya, Pak. Kami bermaksud melamar pekerjaan disini dan Pak Dylan sudah mengetahuinya." Gita menjelaskan kesalahpahaman yang mungkin akan terjadi.


"Tapi Pak Dylan hanya ada janji dengan Bu Gita. Kalau begitu Bu Marsha tunggu disini dulu ya," ucap pria berkacamata akhirnya.


Ibu lagi? Astaga ... Setua itukah wajahku?


Gita menahan kekesalan dalam hatinya tapi tidak berani protes pada pria berkacamata ini.


"Baiklah, Pak. Saya akan tunggu disini," ucap Marsha akhirnya dan melambaikan tangannya pada Gita dan Gita pun membalasnya.


Akhirnya Gita mengikuti langkah pria berkacamata itu memasuki ruang kantor Dylan.


Terlihat Dylan sibuk membaca dokumen-dokumen di mejanya.


Dylan tampak mendongakkan wajahnya melihat kedatangan Gita. Senyum tipis di sudut bibirnya tampak terlihat di wajah tampannya.


"Silahkan duduk, Bu Gita," ucap pria berkacamata itu mempersilahkan Gita untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan kantor Dylan.


Gita hanya menganggukkan kepalanya kemudian langsung duduk.


"Kamu boleh keluar dulu, Roy," perintah Dylan pada pria berkacamata itu yang ternyata adalah asisten Dylan.


Oh ternyata namanya Roy. Gita mengingat nama itu di kepalanya.


Dylan pun nampak berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Gita yang duduk di sofa.


"Jadi kamu betul-betul butuh pekerjaan?" tanya Dylan dengan wajah serius.

__ADS_1


"Ya, kalau nggak butuh juga aku nggak akan datang kesini," jawab Gita dengan wajah datar.


Sebenarnya ia menahan malu karena harus merendahkan harga dirinya.


"Hem ... kamu akhirnya memilih gencatan senjata denganku? Nggak lanjutkan permusuhan kita?" tanya Dylan lagi tersenyum miring.


"Seperti yang kau katakan. Kita gencatan senjata untuk sementara sampai waktu yang belum ditentukan," balas Gita datar menyingkirkan egonya.


"Oke, jadi kamu ini lulusan akuntan. Betul?" tanya Dylan yang tak lagi membahas tentang permusuhan mereka.


"Betul, apakah ada lowongan posisi akuntan di kantor ini?" tanya Gita berharap.


"Tidak ada," jawab Dylan singkat.


Wajah Gita seketika langsung berubah kesal.


Kalau nggak ada posisi akuntan, untuk apa dia nyuruh aku datang kesini?


Saat Gita hendak berbicara, seketika ucapannya terhenti saat Dylan kembali bersuara.


"Tapi ... Ada pekerjaan khusus untuk kamu. Kalau kamu mau," tawar Dylan dengan tersenyum penuh arti.


"Pekerjaan khusus? Apa itu?" tanya Gita penasaran.


"Pekerjaan untuk menjadi istriku," ucap Dylan serius dengan mata menatap Gita.


"Apa?!" kaget Gita melotot tak percaya.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2