Menjadi Istri Sempurna

Menjadi Istri Sempurna
Bab 27. Tujuh Nyawa


__ADS_3

Perjalanan pulang dari butik, Gita dan Dylan sama-sama diam, sibuk dengan pemikirannya sendiri. Gita fokus merencanakan grand opening cafenya dan meneliti kembali apa yang belum ia lakukan. Sedangkan Dylan sibuk memikirkan gaun pengantin yang akan Gita kenakan. Saat tadi ia mengkonfirmasi pada Madam Ivana, Dylan tak mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya. Madam Ivana bilang gaunnya bagus dan sesuai untuk Gita. Pasti Gita akan tampil menawan di hari pernikahan besok.


Dylan memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut. Jawaban macam apa yang dilontarkan Madam Ivana?! Sudah pasti Gita cantik, kalau nggak cantik mana mungkin ia memilihnya.


"Dylan," panggil Gita menatap Dylan yang tampak fokus menyetir tapi melamun.


Dan tak ada tanggapan dari Dylan.


"Dylan! Kamu melamun ya. Lagi nyetir kok melamun! Bahaya tau," sentak Gita kesal.


"Eh iya, kenapa?" tanya Dylan tanpa dosa.


"Aih nih orang beneran ngelamun. Kamu ngelamunin apa sih? Sini biar aku yang nyetir, nyawaku cuma satu dan aku nggak akan mempertaruhkannya," ucap Gita masih kesal.


"Kirain nyawamu tujuh. Habis kamu imut kayak kucing," canda Dylan tak bersalah.


"Dylan, makan dulu yuk laper nih aku," ajak Gita sambil memengangi perutnya yang berbunyi tanda kelaparan. Memang saat ini jam sudah menunjukkan pukul 18.30.


"Oke, aku juga lapar. Kamu mau makan apa?" tanya Dylan.

__ADS_1


"Nasi kucing aja," ucap Gita yang seketika membuat Dylan heran.


"Hah nasi kucing?!" tanya Dylan sekali lagi karna takut salah dengar.


"Iya nasi kucing. Kan tadi kamu bilang aku imut kayak kucing. Siapa tahu nanti kalau makan nasi kucing, nyawaku langsung nambah jadi tujuh," cengir Gita.


"Mana ada kayak begitu. Udah kita makan nasi goreng di resto langganan ku saja. Dijamin pasti enak," ucap Dylan yang langsung mengarahkan mobilnya ke resto langganannya.


Sekitar 15 menit kemudian, Dylan dan Gita sudah sampai di resto. Mereka langsung turun dan memesan menu nasi goreng seafood yang memang menjadi menu andalan di resto itu.


"Dylan, kita kan menikah sekitar dua minggu lagi. Setelah itu aku pasti sibuk di cafe yang baru jalan. Lalu bulan madu kita gimana rencananya? Kan nggak enak nolak hadiah dari papa." Gita membuka percakapan serius diantara mereka karena memang beberapa waktu lalu, papa Kresna memberikan hadiah pernikahan pada Dylan dan Gita yaitu bulan madu ke Perancis. Tapi sepertinya Gita enggan menerima karena ia baru mulai menjalankan bisnisnya di cafe.


"Tapi kan ... ," belum selesai Gita berucap sudah dipotong oleh Dylan.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Minggu depan kan grand opening cafenya? Aku yakin semua akan berjalan baik. Dan kita juga harus berangkat bulan madu. Aku nggak mau papa mama akan curiga dengan pernikahan kita," ungkap Dylan menjelaskan.


"Oke baiklah," ucap Gita akhirnya.


Makanan pun datang, Gita dan Dylan langsung menyantap makan malam mereka. Gita pun menikmati nasi goreng seafood yang memang benar seperti kata Dylan, rasanya enak dan mantap. Tapi rasanya Gita nggak akan makan disini sendirian, soalnya harganya akan membuat dompetnya menjerit. Yah begitulah ... Ada harga, ada rasa dan kualitas.

__ADS_1


Selesai makan malam, Dylan langsung mengantarkan Gita pulang ke kontrakannya.


"Gita, setelah kita menikah kan kamu tinggal denganku. Bagaimana dengan Marsha? Nggak apa-apa dia tinggal sendirian di kontrakan? Aman kan disana?" tanya Dylan yang mengkhawatirkan sahabat Gita.


"Aman sih disana. Mau bagaimana lagi, memang dia harus tinggal sendirian. Tapi aku yakin pasti nanti dia akan dapat teman baru. Kan nanti banyak pelayan cafe, siapa tahu ada yang mau tinggal di kontrakan bareng Marsha," ucap Gita yang yakin jika Marsha akan mampu beradaptasi dimanapun dia berada.


"Oke, jika memang begitu," balas singkat Dylan.


Sesampainya didepan rumah kontrakan, Dylan pun menghentikan mobilnya. Saat Gita akan membuka pintu mobil untuk turun, tiba-tiba Dylan menahan lengannya.


"Ada apa?" tanya Gita bingung sambil memandangi tangan Dylan yang masih menahan lengannya.


"Ehm ... Boleh aku menciummu?" ucap Dylan menatap lurus mata Gita.


"Hah!" kaget Gita tak dapat menahan keterkejutannya.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2