
6 tahun yang lalu ...
Hari pertama masuk di kelas 1 SMA adalah suatu kebahagiaan untuk seorang Gita. Dengan semangat ia menginjakkan kakinya di sebuah sekolah swasta elit yang hanya orang-orang berduit saja yang mampu bersekolah disini.
Wajah Gita dihiasi senyum saat kakinya terus melangkah menuju kelasnya.
"Gita!" panggil Vena, teman SMP nya dulu.
Gita pun memutar kepalanya ke belakang mencari sumber suara yang memanggil namanya.
Namun karena kepalanya ke belakang, ia tak melihat jalan didepannya dan kemudian menabrak tubuh seseorang.
"Auwwww!" rintih Gita mengusap lengannya yang lumayan sakit.
"Maaf," ucap Gita sambil lalu kemudian terus melangkahkan kakinya tanpa melihat siapa yang ditabraknya. Ia hanya tahu dia cowok yang sedang berjalan bersama teman-temannya.
Namun belum juga sampai kelasnya, pundaknya seakan ditarik seorang cowok berjaket hitam. Ia hampir saja terjatuh namun malah ditertawakan oleh cowok tadi dan beberapa teman yang mengiringinya.
Gita menyipitkan matanya geram. Tak menyangka jika di sekolah elit ini ada genk penguasa yang sepertinya bertindak otoriter.
Huh ... Tapi aku gak akan takut! Ucap Gita dalam hati.
"Kenapa?" tanya Gita dengan wajah datar.
__ADS_1
"Kamu harus minta maaf dengan benar," balas cowok berjaket hitam dengan mata tajam.
"Kan tadi sudah. Mau yang bagaimana lagi?" Gita memandang malas cowok didepannya.
Huh beraninya keroyokan.
"Apa lihat-lihat?! Berani sama kakak kelas? Kamu tidak tahu peraturan disini, anak baru?!" tanya salah seorang cowok berambut ikal.
"Peraturan apa?" tanya Gita menahan emosinya.
Ini baru hari pertama sekolah, masa' iya sudah punya musuh. Kakak kelas lagi. Yang benar saja!
"Adik kelas kayak kamu ini harus memberi salam dan tundukkan kepalamu saat berhadapan dengan kami. Mengerti?!' ucap lantang cowok berjaket hitam pada Gita.
"Berani kamu nantang kami?" Cowok berjaket jeans mulai nampak naik darah.
"Kami yang punya sekolah ini. Jadi terserah kami mau berbuat apa. Paham kamu?! tegas cowok berjaket hitam , yang nampaknya dialah ketua genk ini.
"Oh begitu, tapi maaf aku nggak akan tunduk pada kalian jika itu melanggar norma. Apalagi tadi aku sudah minta maaf. Apalagi maumu?" tanya Gita dengan jari telunjuknya mengarah pada cowok ketua genk.
"Rupanya kamu pemberani juga. Akan aku ingat wajahmu ini dan aku akan membuatmu mengalami pengalaman tidak menyenangkan selama bersekolah di SMA ini. Catat itu baik-baik," ancam cowok ketua genk.
Gita hanya menatap datar dan sama sekali tidak takut sedikit pun.
__ADS_1
"Oh iya, jangan cuma ingat wajah cantikku ini tapi ingat. Namaku Gita," ucap Gita dengan santai dan malah berjalan melenggang meninggalkan gerombolan genk yang bagi Gita malah seperti preman labil.
"Namaku Dylan!" teriak Dylan malah seperti acara perkenalan bukan lagi acara penindasan adik kelas.
Gita sama sekali tidak mempedulikan teriakan cowok tadi yang ternyata bernama Dylan. Bahkan langkahnya semakin lebar menuju kelasnya.
Dasar preman labil! Baru juga masuk sekolah sudah dapat musuh aja. Apa coba salahku. Dasar orang gila. Mulut Gita komat-kamit terus merutuki seorang Dylan.
Padahal seharusnya Gita tidak mencari masalah dengan Dylan. Karena di sekolah ini Dylan sangat dihormati. Ayahnyalah pemilik yayasan sekolah elit ini. Tak ada seorangpun yang berani menantang Dylan. Bahkan para guru pun tidak berani melawan Dylan.
Jika ada yang berani mencari masalah, Dylan tak segan-segan akan menyiksanya dengan cara apapun. Misalnya diguyur air dingin pagi-pagi, bajunya disemprot pilox sampai disuruh mengerjakan tugas dan pr Dylan. Masih ringan sih siksaannya, tapi jika setiap hari, siapa yang akan tahan coba. Dan akhirnya Dylan akan mengeluarkan orang itu dari sekolah ini.
Namun anehnya para cewek sangat memuja Dylan, karena penampilan dan juga kekayaannya. Dylan memiliki wajah tampan rupawan yang sempurna. Para gadis berlomba untuk menarik perhatian Dylan bahkan jika bisa menjadi pacar Dylan.
Setelah kejadian pagi itu, Gita mencari informasi tentang Dylan. Ia cukup terkejut, tapi ia memberanikan diri untuk tidak takut pada Dylan dan ancamannya. Toh ia ada di jalan yang benar jadi untuk apa ia takut.
Tapi dengan keberaniannya itu, Gita harus menghadapi beberapa kali saat-saat sulit karena ulah Dylan.
-
-
-
__ADS_1