Menjadi Istri Sempurna

Menjadi Istri Sempurna
Eps 22. Dedemit


__ADS_3

Malam harinya saat mau makan malam bersama Marsha di kontrakan, terdengar suara pintu diketuk.


Tok tok tok ...


"Mar, tolong bukain pintunya dong. Aku lagi siapin lauk kita ini," ucap Gita meminta tolong kepada Marsha karena ia lihat Marsha hanya pantengin ponselnya doang. Padahal Gita kan sibuk atur piring-piring di meja makan.


"Ish ... Kayak lagi menata makanan apa aja. Orang cuma telur ceplok doang," balas Marsha geleng-geleng kepala.


"Kan telor ceplok juga makanan, Mar." Gita tak mau kalah berdebat.


"Nasib nasib ... Tadi siang telor dadar eh malemnya telor ceplok. Kebanyakan telor bisa panen bisul aku," keluh Marsha.


"Udah bersyukur aja yang penting kita masih bisa makan," sahut Gita menenangkan Marsha yang akhir-akhir ini sering mengeluh soal apa yang mereka makan. Mungkin Marsha udah bosan hidup serba pas-pasan.


Tok tok tok ...


Kembali terdengar suara ketukan pintu.


"Mar, itu lho cepatlah buka pintunya. Siapa tahu penting," pinta Gita lagi yang kali ini disertai matanya yang mendelik agar Marsha segera beranjak dari tempat duduknya.


"Iya iya," malas Marsha yang akhirnya beranjak juga untuk membuka pintu.


Ceklek ...


Aih super gantengnya, wangi lagi ... Siapa dia ini? Mimpi apa aku semalam, tetiba didatangi cowok ganteng.


Seketika Marsha terpesona hingga mulutnya sedikit terbuka melihat wajah yang ada dihadapannya saat ini. Seorang pria dengan penampilan keren, wajah ganteng dan bau harum menyertai.


"Ehem," deham cowok itu.


"Eh iya, Mas nya cari siapa ya?" gelapap Marsha terkejut mendengar dehaman cowok itu.

__ADS_1


"Gita ada?" tanya cowok itu yang kembali membuat Marsha meleleh mendengar suaranya yang maskulin di telinganya.


"Oh ada ada kok, mari silahkan masuk. Duduk saja dulu, Mas. Saya panggil Gita dulu," ucap Marsha yang tiba-tiba gugup tapi tetap mempersilahkan cowok itu agar masuk ke dalam rumah.


"Terimakasih."


Cowok itu pun segera duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu. Mengamati sekilas, rumah kontrakan ini sangat sederhana dan kecil.


Marsha yang segera bergegas memanggil Gita tiba-tiba heboh sendiri.


"Git Gita! Ada yang cariin kamu tuh. Cowok super ganteng dan wangi banget," ucap Marsha berbisik karena takut terdengar tamunya. Kan rumah ini kecil jadi jika tidak pelan-pelan takut kedengaran cowok tadi.


"Hah siapa? Wangi? Dedemit kali," acuh Gita yang kini malah sibuk mengambil nasi dari magic com.


"Ih beneran, Git. Udah sana keluar dulu, temuin cowok wangi itu. Ntar kenalin aku ya," perintah Marsha yang kelihatan tidak sabar melihat sikap Gita yang cuek.


"Kalau beneran dedemit, awas kau ya!" kesal Gita karena malas ketemu tamunya itu. Soalnya perutnya beneran keroncongan, laper banget.


"Kalau dedemit ya buat kamu aja hehe," cengir Marsha tak bersalah.


Gita pun dengan malas berjalan ke ruang tamu yang hanya beberapa langkah dari ruang makan.


"Eh Dylan? Ngapain kamu kesini?" kaget Gita karena tak menyangka Dylan akan mau datang ke rumah kontrakannya.


"Gita, kalau nggak ada yang penting ya aku nggak akan datang kesini," ucap Dylan tampak cuek.


Ih beneran wangi banget. Serumah jadi wangi. Pasti sebotol parfum dia habisin ini. Dengus Gita dalam hati sambil mengendus-endus bau wangi yang bersumber dari tubuh Dylan.


"Kamu beneran Dylan kan? Bukan dedemit?" tanya Gita curiga menyipitkan matanya.


"Astaga ... Dedemit?! Aku Dylan asli, nih lihat kakiku napak lantai. Makanya jangan kebanyakan nonton film horor," kesal Dylan tak habis pikir dengan kecurigaan Gita.

__ADS_1


"Habisnya kamu wangi banget, kan aku jadi curiga. Sebotol parfum kamu habisin sendiri ya?" Gita tetap curiga.


"Enak aja. Ini parfum mahal, pakai dikit juga jadi wangi banget," sanggah Dylan tak terima.


"Oh gitu, terus kamu kesini memang ada keperluan apa? Katanya penting. Aku udah laper banget ini pengen makan," ucap Gita tak sabar karena suara perutnya semakin keras protes minta diisi.


"Ehm ... Jadi tadi aku udah transfer ke rekening kamu. Gaji kamu bulan ini, kemarin kan aku baru transfer buat modal cafe dan bonus," jelas Dylan kikuk.


"Cuma mau kasih tahu ini doang? Astaga kan kamu bisa WhatsApp, Dylan. Kirain penting apaan. Nggak jelas banget," kesal Gita.


"Loh ini penting. Ada lagi yang lebih penting. Tapi kamu harus ikut aku," perintah Dylan dengan wajah serius.


Gita menatap Dylan tak percaya.


Nih orang lama-lama makin aneh. Batin Gita menyelidik wajah Dylan yang tampak kikuk ia tatap intens.


"Ayo cepat. Nggak usah ganti baju. Gitu aja udah cantik," ajak Dylan makin tak sabar yang kini menarik tangan Gita.


"Eh eh tunggu! Kita mau kemana?" tanya Gita yang berusaha menarik kembali tangannya tapi genggaman tangan Dylan terlalu erat hingga Gita sulit melepaskannya.


"Dylan, lepas! Katakan dulu mau kemana?" tanya Gita melebarkan matanya agar Dylan takut dan mau menjawab pertanyaan. Tidak main rahasia seperti ini.


"Kalau kamu mau tahu ya ayo ikut." Dylan tetap menarik tangan Gita dan kini mereka sudah ada didekat mobil Dylan yang terparkir di halaman rumah.


"Marsha, aku pergi sebentar ya," teriak Gita berpamitan.


Terlihat Marsha keluar rumah dan memandang Gita yang kini sudah masuk ke dalam mobil.


Gita kok aneh ya, tiba-tiba pergi. Kayaknya dipaksa deh. Jangan-jangan Gita diculik? Tapi kalau penculiknya seganteng dan sewangi itu aku juga mau. Ah biarin ajalah. Gita pasti bahagia diculik cowok ganteng. Batin Marsha dalam hati sambil senyum-senyum sendiri melihat kepergian Gita yang semakin menjauh hingga tak terlihat saat mobil berbelok di tikungan.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2