Menjadi Istri Sempurna

Menjadi Istri Sempurna
Eps 11. Istri Sempurna


__ADS_3

Gita terdiam menunggu apa yang akan Dylan katakan. Tapi menunggu beberapa lama Dylan tak juga membuka mulutnya.


"Lebih baik aku pulang dulu. Kalau udah memutuskan persyaratannya hubungi aku. Siapa tahu aku setuju," ucap Gita akhirnya karena kesal menunggu Dylan bicara.


"Persyaratanku hanya satu. Kamu harus menjadi istri sempurna untukku," ungkap Dylan tegas.


Gita membuka mulutnya lebar, kaget dan juga bingung apa maksud Dylan.


"Kau jangan bercanda. Yang benar aja. Istri sempurna?" tanya Gita bingung.


Dylan memang sudah tidak waras. Mana ada istri sempurna. Kan aku masih perawan, mana tahu bagaimana istri sempurna itu. Rutuk Gita dalam hati.


"Ya benar. Istri sempurna bagi seorang Dylan Ananta. Kamu harus melakukan apa yang tertulis dalam perjanjian yang aku tetapkan, " jelas Dylan lagi.


"Memang apa poin-poinnya?" Gita menyipitkan matanya curiga.


"Untuk detail poin-poinnya aku akan membuat surat perjanjian secara tertulis. Besok malam datang ke rumahku. Alamatnya nanti aku kirim ke ponselmu," ucap Dylan seperti menyembunyikan sesuatu.


Gita menatap Dylan curiga, takut kesepakatan ini hanya akan merugikannya. Tapi disisi lain ia juga penasaran. Sebenarnya apa yang Dylan inginkan?


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Gita pun berkata," Baiklah, tapi ingat belum tentu juga aku akan setuju. Hubungan ini harus simbiosis mutualisme jadi sama-sama menguntungkan. Dan aku akan mengajukan syarat juga."


"Terserah kamu mau mengajukan syarat apa. Tapi pikiikan baik-baik," cetus Dylan tersenyum tipis di sudut bibirnya.


"Baik, aku pergi dulu. Terimakasih untuk waktunya. Sampai ketemu besok malam," pamit Gita langsung berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Dylan.


Dylan hanya menatap kepergian Gita dengan tersenyum simpul.

__ADS_1


Setelah keluar dari kantor Dylan, Gita mencari keberadaan Marsha yang tidak ada di ruang tunggu.


Kemudian Gita menghampiri sekretaris Dylan dan menanyakan keberadaan Marsha.


"Tadi pergi dengan Pak Roy, Bu," ucap ramah sang sekretaris.


Astaga ... Aku dipanggil 'Bu' lagi. Beneran nih setelah punya duit aku mau pasang benang, oplas atau apalah biar wajahku nampak jadi 15 tahun. Padahal aku baru 22 tahun hiks ... Gita hampir menangis dalam hati.


Gita pun mengucapkan terimakasih meskipun hatinya kesal. Kemudian ia segera menghubungi Marsha di ponselnya. Setelah beberapa kali menunggu akhirnya Marsha mengangkatnya.


- Gita, kamu udah selesai?


- Kamu dimana sih, Mar?


- Aku di kantin sama Pak Roy. Kamu turun aja ke lantai 1. Aku tunggu di lobi ya.


Gita langsung menuju lift untuk ke lantai bawah setelah berpamitan dengan sekretaris disana.


Saat Gita sampai di lobi ternyata Marsha dan Roy sudah ada disana.


"Pak Roy, terimakasih untuk waktunya. Kami pamit pulang dulu," ucap Gita yang seperti sudah tidak sabar ingin meninggalkan perusahaan Dylan.


"Terimakasih Pak Roy, kapan-kapan traktir lagi ya," pamit Marsha tersenyum manis.


"Ya sama-sama Gita, Marsha. Sampai ketemu lagi."


Gita dan Marsha pun langsung keluar dari perusahaan dan menuju parkiran. Mereka naik motor berboncengan dan segera pulang ke kontrakan.

__ADS_1


Sesampai di kontrakan hari sudah malam. Gita dan Marsha pun makan malam yang tadi sempat mereka beli dalam perjalanan pulang.


"Loh tadi katanya kamu udah makan sama Roy, Mar?" tanya Gita bingung melihat Marsha yang lahap makan.


"Tadi kan cuma camilan. Ini baru makan beneran. Nasi ayam begini paling nikmat," kata Marsha senyum tak bersalah.


"Emang tadi makan apa?"


"Tadi makan rawon semangkuk. Mana kenyang aku. Tapi waktu disuruh nambah aku bilang aja udah kenyang. Jaim dikit lah. Kan nggak enak soalnya ditraktir," cengir Marsha.


"Tumbenan kamu jaim segala. Biasanya juga enggak," ucap Gita geleng-geleng kepala melihat Marsha yang lahap makan.


"Gimana tadi wawancaranya, Git? Kamu diterima?" tanya Marsha penasaran.


"Belum tau, Mar. Aku udahan dulu ya. Perutku udah kenyang. Aku capek mau tidur duluan," ucap Gita berdiri lalu berjalan ke dapur untuk mencuci piring dan langsung pergi ke kamarnya.


"Eh Git, kok udahan?! Kamu belum ceritain lho gimana tadi," teriak Marsha.


"Besok aja. Met tidur Mar," balas Gita juga dengan berteriak dari dalam kamar yang pintunya sudah ia tutup rapat.


Huh ... Untung Marsha nggak maksa aku buat cerita. Aku aja masih nggak yakin dengan tawaran Dylan untuk jadi istrinya. Apa ya kira-kira poin yang akan Dylan ajukan? Semoga aja nggak aneh-aneh. Awas aja kalau aneh-aneh, aku nggak akan mau jadi istrinya.


Pikiran Gita melayang memikirkan kesepakatan yang akan Dylan ajukan.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2