
Malam ini Gita berpenampilan all out. Ia merias wajahnya secantik, secerah dan seglowing mungkin agar tak terlihat beban dan kesusahan hidup yang sedang dilaluinya kini. Sengaja Gita juga memakai dress branded yang tentunya berkualitas untuk menunjang penampilannya. Untung saja ia tak menjual baju dan sepatunya sehingga ia tidak kesusahan memikirkan penampilan.
"Ecieee ... Cantik amat neng. Mau dong diajak kencan," goda Marsha sambil mencolek dagu Gita.
"Ih aku masih normal ya, maaf," balas Gita mencelos.
"Beneran deh itu baju bagus banget. CK ... Emang harga nggak bisa bohong ya," decak Marsha sambil mengamati penampilan Gita yang memang luar biasa malam ini.
"Iya dong, untung belum aku jual buat beli cilok," ucap Gita sambil tersenyum.
Tiba-tiba Marsha pergi ke dapur dan mengambil sesuatu.
"Git, jangan lupa ini dibawa," ucap Marsha sambil menyodorkan kantong kresek warna putih yang lumayan besar.
"Buat apaan?" tanya balik Gita bingung tapi tangannya tetap mengambil kantong kresek itu.
"Ya buat bungkusin makanan dong. Kan pesta, pasti banyak makanan tuh. Nah kamu masukin ke kantong ini, lumayan buat makan kita seminggu," ucap Marsha sambil nyengir tak berdosa.
"Astaga Marsha ... Aku malu lah, gila aja kamu. Aku bukan emak-emak yang kirmah ya."
"Apa tuh kirmah?" Marsha bingung karena belum pernah mendengar kata itu.
"Mikirin rumah tau," ucap sewot Gita.
Marsha hanya nyengir kuda liar haha ...
"Udah ah aku berangkat dulu. Taksi onlinenya udah hampir sampai. Marsha, aku berangkat dulu ya, jaga baik-baik kontrakan rumah ini. Jangan sampai diambil orang," pesan Gita absurd.
__ADS_1
"Iya, Nyonya," ucap patuh Marsha sambil berjalan keluar rumah mengikuti Gita dari belakang. Sampai mobil yang dipesan datang.
"Bye Gita, jangan lupa oleh-olehnya ya ... Kalau bisa bawain juga cowok cakep plus tajir melintir," teriak Marsha mengiringi kepergian Gita.
"Bye Marsha, nggak janji ya bawa oleh-oleh," ucap Gita sambil tangannya membuka pintu mobil.
Ia segera masuk kedalam mobil dan mobil pun langsung meluncur menuju hotel dimana tempat acara reuni akbar dilaksanakan.
Sesampainya di hotel bintang lima, Gita langsung menuju ballroom dan menunjukkan undangan reuni agar diperbolehkan masuk ruangan. Saat masuk ke dalam ballroom, Gita mengedarkan pandangannya mencari orang-orang yang dikenalnya. Karena reuni ini memang untuk 3 angkatan jadi mungkin pesertanya sekitar 1000 orang.
"Gita!" panggil seseorang sambil menepuk pundaknya.
"Eh Vena, apa kabar? Cantik banget sekarang euy," sapa Gita sambil cipika cipiki berpelukan.
"Kamu juga tambah gemoy," ucap Vena sambil tersenyum.
"Haha enggaklah maksudnya kamu tuh tambah imut gitu loh," koreksi Vena.
"Ah nggak percaya! Mulutmu bisa bohong tapi matamu enggak," ucap Gita jadi tidak percaya diri.
Huh pasti ini gara-gara Marsha yang sering nyuruh aku makan cilok. Sungut Gita dalam hati.
Padahal kan cilok nggak mengandung minyak, dikukus doang. Dari mananya bisa bikin gemuk coba?!
Tiba-tiba terdengar suara keributan. Seperti teriakan melengking cewek-cewek yang super absurd, membuat telinga Gita terasa berdenging.
Teriakan itu dibarengi dengan langkah kaki cewek-cewek itu yang berhamburan ke arah pintu masuk ballroom.
__ADS_1
"Aih ... Ada apaan sih? Heboh amat. Emang reuni ini ngundang artis ibukota?" tanya Gita bingung sambil memandang terpana ke arah kerumunan cewek-cewek absurd itu.
"Kayaknya enggak deh. Soalnya kalau ngundang artis ibukota pasti kita bayar reuni lebih mahal. Mungkin ... " Vena tampak berpikir.
"Mungkin apa?" Gita penasaran.
"Hemmm itu pasti si nganu." Vena mencoba mengintip dan mencoba menebak.
"Si nganu siapa?" Bingung Gita sambil berusaha melihat seseorang pria yang nampak keren diantara kerumunan cewek-cewek absurd.
Tak lama kemudian mulailah tersibak seseorang pria gagah dengan dibalut blazer hitam. Penampilannya yang serba hitam nampak sangat maskulin. Apalagi ditambah potongan rambut cepak bergaya masa kini yang menambah kadar ketampanannya.
Pria itu cuek, sama sekali tidak menghiraukan cewek-cewek yang mengerumuninya. Bahkan ia terkesan sombong.
"Tuh kannn bener! Dylan Ananta, cowok terkece, terkeren, terkaya sepanjang sejarah di sekolah SMA kita," ucap Vena berlebihan dan terpana kagum.
Gita hanya mencibir. "Terkece apaan ... Masih kalah ganteng sama Mas Jungkook menurutku."
"Bagiku Dylan tetep role model untuk seorang suami idaman," balas Vena tak terima dengan ucapan Gita.
Gita tetap mencibir. Bahkan kini bibirnya udah tambah maju beberapa centi. Karena baginya, Dylan adalah musuh sepanjang hidupnya alias musuh abadi.
-
-
-
__ADS_1