Menjadi Istri Sempurna

Menjadi Istri Sempurna
Eps 25. Layu Sebelum Berkembang


__ADS_3

Hari ini Gita sudah ada di lokasi cafe bersama Marsha tentunya. Disana juga sudah ada Rizal, yang sementara ini bertanggung jawab untuk renovasi dan pembukaan cafe.


Proses renovasi pun sudah mulai berjalan dan diperkirakan akan memakan waktu sekitar satu Minggu. Gita hanya mengawasi sambil sesekali berdiskusi dengan Rizal. Sementara sedari tadi Marsha hanya diam, tak bicara sepatah kata pun. Gita yang memperhatikan jika Marsha berubah tak seperti biasanya yang super cerewet hanya bisa menghela nafas dalam.


Saat ia punya kesempatan untuk berbicara empat mata, ia pun menarik Marsha untuk menjauh sebentar dari Rizal yang masih mengawasi jalannya renovasi.


"Aduh kenapa sih, Git?! Main tarik-tarikan segala," protes Marsha.


Mereka kini ada di lantai 1, sementara Rizal dan tukang-tukang berada di lantai 2. Karena memang rencananya, pengerjaan renovasi dimulai dari lantai 2 terlebih dahulu.


"Kamu itu yang kenapa! Ada apa sih, dari tadi aku perhatikan kamu diaaammm aja. Kayak nggak punya suara. Kamu sakit?" tanya Gita dengan tatapan menyelidik.


"Enggak sih," jawab Marsha gugup.


"Lalu?" Gita menaikkan nada suaranya agar Marsha mau mengatakan apa yang sedang terjadi padanya.


"Ehem ... Aku eh aku grogi," terbata-bata Marsha berucap.


"Grogi? Grogi kenapa? Ini bukan lagi ujian, ngapain pake grogi segala," kesal Gita menatap Marsha.


"Eh ... Habisnya Mas Rizal keren banget," ucap Marsha tersenyum malu-malu.


Gita kaget hingga hanya bisa membuka lebar mulutnya tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Kamu emang nggak bisa lihat kalau Mas Rizal itu keren?" tanya Marsha karena ia hanya melihat jika Gita hanya diam tak menanggapi perkataannya.

__ADS_1


"Bukan gitu sih, iya Mas Rizal keren. Itu aku juga setuju. Tapi kamu jangan malu-maluin dong. Kayak belum pernah lihat cowok keren aja. Kendalikan dirimu, Marsha! Kita ini lagi kerja dan kedepannya kamu itu akan bekerja bareng dia. Ya meski tiga bulan di awal aja sih," terang Gita agar Marsha mengerti jika saat ini bukanlah waktunya untuk bermain-main.


"Ya aku tahu, tapi kan Mas Rizal itu beda. Ditatap Mas Rizal aja udah bikin jantungku dag dig dug," jelas Marsha sambil memegang letak jantungnya.


"Kayak habis dikejar rentenir?" tanya Gita masam.


"Mungkin kali' ya, belum pernah soalnya. Tapi aku merasa jika Mas Rizal ini beneran calon imamku," ucap Marsha yakin.


"Eh kalau mengkhayal itu jangan ketinggian, ntar jatuhnya sakit," cibir Gita karena tak menyangka jika Marsha akan tertarik pada Rizal.


Gita sedikit banyak tahu tentang kehidupan pribadi Rizal dari Dylan. Tapi ia tak sampai hati mengatakan kebenaran tentang Rizal pada Marsha.


"Git, kalau aku mengejar cinta Mas Rizal kamu akan mendukung kan?" Marsha berharap Gita mendukungnya.


"Kenapa? Kamu nggak ingin aku juga punya pacar?! Aku juga ingin menikah dan bahagia kayak kamu, Git," ucap Marsha memelas.


"Ehm gimana ya mau bilang. Sebenarnya Mas Rizal itu udah punya istri dan anaknya satu," beritahu Gita akhirnya karena tidak ingin Marsha semakin berharap pada Rizal.


"Hah ... Layu sebelum berkembang dong. Huuaaaa," tangis Marsha lumayan keras yang seketika membuat Gita kebingungan.


"Aih Marsha! Jangan kayak gini dong. Ingat kalau cinta ditolak dukun bertindak. Eh salah ya aku. Itu lho ... Ehm cinta mati satu tumbuh seribu," hibur Gita yang malah makin bikin kacau.


"Huuaaaa ... Kamu kasih nasehat apaan sih. Pokoknya aku mau Mas Rizal," tangis Marsha yang kini malah memeluk Gita.


Makin membuat Gita bingung kannn ...

__ADS_1


Dari kejauhan tampak Rizal menuruni anak tangga dan berjalan mendekati Gita dan Marsha yang sedang berpelukan.


"Eh ada apa ini? Kenapa Marsha menangis?" tanya Rizal tiba-tiba yang sukses mengagetkan Gita dan Marsha.


Buru-buru Marsha menghapus air matanya sambil menenangkan jantungnya. Malu juga ketahuan menangis. Tapi hatinya terasa perih melihat Rizal yang keren ternyata sudah beristri.


"Ada apa Gita, Marsha?" tanya Rizal sekali lagi kebingungan.


Gita hanya tersenyum kikuk sambil melirik Marsha. Sengaja Gita diam dan membiarkan Marsha saja yang berbicara.


"Eh itu Mas, barusan dapat kabar jika ayamku mati," ucap Marsha bohong sekenanya padahal ia tidak punya ayam.


"Hah kamu punya ayam di rumah?" tanya Rizal bingung juga. Cuma ayam kenapa harus ditangisi?


"Iya, ayamku yang di kampung. Ibuku nggak punya lauk terus dipotong deh ayamku, dimasak opor katanya. Kasihan kan. Mana aku nggak dikasih lagi. Kata ibu, kalau mau kirim opor ayam kesini udah keburu basi. Tega banget ibuku hiks hiks," Marsha kembali sesenggukan.


"Udah udah nggak apa-apa. Habis ini kita makan siang cari menu opor saja ya," hibur Rizal sambil menepuk-nepuk punggung Marsha menenangkan. Seketika bibir Marsha tersenyum senang karena diperhatikan Rizal. Tapi tentunya tanpa sepengetahuan Rizal, buru-buru Marsha kembali pura-pura menangis.


Hiss ... Kebiasaan si Marsha, pinter banget akting. Mana curi-curi kesempatan, curi perhatian pula. Haduh bikin malu aja. Decak Gita dalam hati melihat akting Marsha.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2