Menjadi Istri Sempurna

Menjadi Istri Sempurna
Eps 5. Biang Kerok


__ADS_3

Masih 6 tahun yang lalu ...


Hari-hari yang Gita lewati dalam 3 bulan pertama di sekolah masih baik-baik saja. Gita bahkan merasa enjoy bersekolah disana. Pelajaran lancar, ekskul menyenangkan dan ia juga mendapat teman-teman baru yang asyik.


Bahkan sekarang Gita memiliki sahabat yaitu Vena, Jenni dan Alina. Yang akhirnya mereka berempat dikenal dengan Genk CeTar alias Cewek Tajir. Karena memang mereka berempat mempunyai orang tua yang memiliki perusahaan besar jadi bisa dipastikan hidup keluarganya bergelimang harta.


Namun menginjak bulan keempat, hidup bersekolah Gita mulai terusik. Dimulai saat ia dan genknya makan di kantin sekolah.


"Bu, sotonya empat dan es jeruk juga empat ya," teriak Gita ke ibu kantin dengan suara yang cukup keras.


"Ih Gita, laper kok suaranya masih kenceng aja," ucap Jenni geli.


Karena memang suara teriakan Gita membuat penghuni seisi kantin menolehkan wajah padanya.


"Hehe khilaf, habis nggak sabar pengen makan," balas Gita nyengir saja.


Tak lama kemudian, ibu kantin datang tapi hanya membawa 3 mangkuk soto dan 3 es jeruk. Dan menaruhnya didepan Vena, Jenni dan Alina saja.


"Loh kok cuma tiga, Bu? Kan saya pesennya empat," protes Gita.


"Ehm maaf, Neng. Sotonya habis," ucap Bu Kantin gugup sambil menunduk dan langsung berjalan menjauh.


"Hah yang bener aja. Ya udah aku beli bakso aja," kata Gita akhirnya.


"Sabar ya, Git. Tuh kayaknya baksonya masih banyak deh." Vena, Jenni dan Alina mencoba menenangkan Gita.


Gita pun berlalu ke kantin sebelah untuk memesan bakso.

__ADS_1


"Pak, bakso komplit satu ya," ucap Gita sambil matanya mengamati gerobak bakso yang isinya masih penuh dengan bakso.


"Maaf neng, baksonya habis," kata Pak kantin tampak rasa bersalah di wajahnya.


"Lah ... habis gimana?! Orang masih banyak itu," Gita menunjuk bulatan bakso di gerobak yang memang masih banyak.


"Ehm maaf neng, tapi khusus untuk eneng, baksonya habis."


Gita memicingkan matanya, tiba-tiba ia teringat sebuah nama 'Dylan'.


"Oh ya udah, makasih Pak," ucap Gita menahan kekesalan dihatinya dan kemudian berlalu dari sana. Saat akan kembali ke meja teman-temannya, Gita sempat melirik ibu penjual soto yang masih melayani pembeli.


"Git, kayaknya ada yang nggak beres deh. Tuh liat sotonya masih tapi kok tadi dibilang habis. Ehm baksonya juga habis?" tanya Alina pelan, merasa kasihan pada Gita.


"Habis khusus buat aku! Bentar ya, aku mau nemuin biang kerok dulu," marah Gita sambil langsung berdiri dan meninggalkan teman-temannya, tak peduli dengan teriakan mereka yang memanggil namanya khawatir.


Gita mengayun langkahnya cepat karena saat ini ia tak sabar bertemu Dylan. Rasanya ingin mencincang tangannya saja buat dijadikan soto. Rasa lapar di perutnya membuat ia makin emosi.


"Dylan, keluar kau!" teriak Gita di depan pintu saat melihat Dylan duduk sambil makan dan bercanda dengan teman-temannya.


Dylan dan genknya pun menoleh kearah Gita, namun dengan wajah yang sulit diartikan. Kemudian suara tawa meledak terdengar dari mulut mereka semua.


Dada Gita naik turun menahan emosi, wajahnya sudah memerah menahan emosi.


"Ada apa, Gita? Kalau mau bicara sini masuk dan duduklah," ucap Dylan santai lalu tetap melanjutkan makannya.


Gita pun melangkahkan kakinya hingga tepat berada di depan Dylan tapi ia tidak mau duduk.

__ADS_1


"Apa maksudmu mengancam penjual kantin agar tidak mau aku beli hah!" marah Gita, matanya melotot menatap Dylan.


"Oh kamu marah karena itu? Sekarang kamu lapar? Haha kasian," ejek Dylan sarkas.


"Aku emang laper. Kenapa sih kamu usil banget merecoki hidupku?" tanya Gita tak habis pikir karena ia kira ancaman Dylan waktu itu sudah dilupakan.


"Kamu lupa permusuhan kita?! Aku nggak akan melupakan ancamanku. Aku akan buat hidupmu nggak tenang bersekolah disini," ucap Dylan menatap lurus ke mata Gita.


"Oke nggak masalah aku bermusuhan denganmu. Memangnya aku takut?! Tapi gimana dengan perutku, kamu harus tanggung jawab dong. Aku lapar!" sentak Gita marah.


"Kalau kamu mau tuh masih ada spageti," balas Dylan melirik pada spageti yang masih tersisa di meja.


"Ya udah aku makan. Dasar nggak bertanggung jawab. Bikin orang kelaparan," sewot Gita lalu dengan cepat menyambar sekotak spageti.


Ia pun duduk disana bersama genk Dylan dan dengan lahapnya memakan spagetinya.


Dylan dan teman-temannya menatap tak percaya pada Gita. Dengan cueknya Gita makan, bahkan ia seakan menikmatinya.


"Wow enak banget nih spagetinya. Oh pantesan enak, beli di resto Itali ya," ucap Gita sambil mulutnya sibuk mengunyah.


Mulut Dylan sampai terbuka saking tidak habis pikir dengan kelakuan Gita.


Kok aku jadi kasih makan dia? Kan aku mau buat dia nggak tenang sekolah disini? Kenapa jadi kebalik gini?! Batin Dylan tak habis pikir.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2