
Gedung Kantor Ananta Property.
Dylan masih berkutat dengan dokumen di hadapannya. Beberapa kali ponselnya bergetar tidak juga ia hiraukan. Karena Dylan sudah tahu siapa orang yang sejak tadi berusaha menghubunginya.
Tok tok tok ...
Terdengar suara pintu diketuk dan Dylan pun mempersilahkan masuk. Roy terlihat memasuki ruangan.
"Pak Dylan, ini berkas yang diminta tadi," ucap Roy sambil menyerahkan bekas-bekas yang lumayan tebal.
"Hem ... Terimakasih, nanti saya periksa," balas Dylan menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatap berkas-berkas dihadapannya.
"Maaf Tuan, barusan Nyonya besar menghubungi saya, menanyakan apakah Pak Dylan bersedia datang makan malam di rumah utama karena keluarga Barata sudah datang sejak tadi," ungkap Roy pelan. Sebenarnya ia juga sudah gerah karena Nyonya Rasti, ibunda Dylan, sejak tadi terus menghubunginya.
"Justru itu aku malas bertemu mereka. Kau tahu sendiri apa tujuan mereka kalau bukan ingin menjodohkan anak Pak Barata denganku," ucap malas Dylan sambil merenggangkan ototnya yang lumayan kaku setelah seharian ini bekerja.
"Oh Nona Amanda yang cantik itu kan, Pak?," ingat Roy yang memang Amanda sangat cantik, ia salah satu artis terkenal di negara ini.
"Kalau kau mau, coba saja temui langsung. Siapa tahu jodoh." Dylan tersenyum tipis.
"Hehe mana mau Nona Amanda sama saya, Pak. Tapi sebaiknya Pak Dylan menghubungi Nyonya Rasti supaya tidak ditunggu," saran Roy, karena ia tidak mau disalahkan jika nanti tiba-tiba Dylan pergi tak tahu kemana.
__ADS_1
Posisi asisten memang serba salah kan??
"Hah benar juga katamu. Oke, sekarang kita ke rumah utama saja," putus Dylan akhirnya setelah menimbang saran Roy. Bagaimana pun juga ia harus menghadapinya karena ini sudah ketiga kalinya keluarga Barata mencoba mendekati orang tua Dylan untuk menjodohkan Dylan dan Amanda.
"Saya ikut, Pak?" tanya Roy bingung.
"Apa saya harus mengulang ucapanku?! Kau harus ikut, siapa tahu Amanda malah jatuh cinta padamu," cetus Dylan sambil mengambil jasnya yang tersampir di kursi kebesarannya.
"Baiklah, Pak. Tapi ini tetap dihitung lembur kan hehe," senyum Roy yang mengikuti langkah Dylan keluar dari ruang kantor.
"Kamu ini perhitungan sekali. Anggap saja makan malam di rumah nanti adalah lemburanmu," canda Dylan tersenyum tipis.
"Hah mana bisa begitu, Pak. Lebih baik nanti saya nggak usah makan saja disana tapi lemburan saya tetap diganti uang," tawar Roy berusaha.
"Kalau kamu berisik malah aku potong nanti gajimu," ancam Dylan. Padahal dalam hati ia tertawa. Ternyata mengerjai asistennya lumayan menghibur.
"Raja tega nih, bos bos," keluh Roy sabar.
Tak lama merek pun sampai di parkiran dan langsung menaiki mobil. Perjalanan menuju rumah orang tua Dylan, Pak Kresna Ananta, ditempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam.
Sesampainya disana, satpam langsung membukakan pintu gerbang karena sudah hafal mobil yang dikendarai oleh tuannya.
__ADS_1
Rumah keluarga Kresna Ananta sangat megah dan besar namun nampak lengang karena yang tinggal disana hanya Pak Kresna dan Ibu Rasti.
Bu Rasti langsung menyambut kedatangan anaknya, tapi bukan pelukan atau ciuman yang Dylan dapatkan tapi jeweran yang lumayan keras.
"Anak kurang ajar, berani kamu tidak mengangkat telpon Mama hah!" gemas Mama Rasti masih menjewer telinga Dylan.
"Aduh sakit, Ma," teriak Dylan tertahan sambil mengusap telinganya yang memerah karena jeweran mamanya.
Sementara Roy hanya menahan tawanya.
Haha karma instan. Makanya jangan pelit bos, seenaknya mau potong gaji.
"Apa ketawa-ketawa! Mau aku potong gajimu," bentak Dylan memelototkan matanya.
"Eh jangan dong bos. Tadi saya lihat cicak pacaran makanya saya tersenyum. Lucu ya bos, cicak kok pacaran," elak Roy yang kini menampilkan wajah serius.
"Awas aja kamu kalau berani tertawa lagi." Dylan masih mengancam.
Tak lama seorang wanita cantik menyambut kedatangan Dylan sambil tersenyum manis. Amanda, sang artis, yang kini sedang diusahakan untuk dijodohkan dengan seorang Dylan Ananta.
-
__ADS_1
-
-