Menjadi Istri Sempurna

Menjadi Istri Sempurna
Eps 20. Telur Dadar


__ADS_3

Hari telah berganti. Saat ini Gita sedang fokus untuk mencari lokasi yang tepat untuk cafenya nanti. Sedangkan untuk persiapan lainnya ia dibantu Dylan.


Memiliki Dylan ternyata sangat menguntungkan bagi seorang Gita. Karena Gita dikenalkan pada seseorang yang sudah ahli dalam mengurus cafe. Orang itu bernama Rizal. Orangnya baiiikkkk banget dan oke looks nya. Sebenarnya Gita ingin Rizal saja yang jadi manager cafenya nanti. Tapi ternyata Rizal ini adalah pegawainya Dylan yang dipercaya mengurus hotel milik Dylan. Disamping itu juga Gita sudah berjanji pada Marsha untuk menjadi tangan kanannya nanti untuk mengurus cafe.


Semua persiapan sudah dibereskan oleh Rizal. Dan untuk modal, Dylan bersedia meminjamkan. Tinggal sekarang memilih lokasi yang tepat. Mama Rasti sudah mencarikan beberapa lokasi yang sekiranya cocok untuk cafe. Tapi sampai sekarang Gita belum cocok rasanya. Hingga tadi pagi, Mama Rasti kembali menawarkan satu lokasi yang jika dilihat sepertinya cocok. Karena lokasi yang strategis, dekat dengan kampus ternama ibukota dan juga tempat ini juga bekas cafe. Sehingga Gita tidak perlu banyak melakukan renovasi.


Tiba-tiba Gita terkejut saat pundaknya ditepuk oleh Marsha.


"Heh ... Ngelamunin apa sih. Ikut dong," ucap Marsha yang kini malah menggoyang-goyangkan telapak tangannya didepan mata Gita.


"Ih apaan sih, Mar. Bikin kaget orang aja," dengus Gita yang menyingkirkan tangan Marsha dari depan wajahnya.


"Lagi apa sih? Serius amat," sahut Marsha yang kini mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Gita.


"Ini lho lagi bayangin desain yang cocok buat cafe nanti," jelas Gita.


"Emang udah dapet tempatnya?" tanya Marsha yang antusias, ia sudah tak sabar ingin segera bekerja dan mendapatkan uang untuk menyambung hidup. Tabungannya makin menipis kian hari bikin tambah meringis.

__ADS_1


"Siang ini camer ngajak ke lokasi cafe lagi. Tapi dilihat dari foto yang dikirimkan kayaknya cocok deh. Nih lihat," ucap Gita yang menyodorkan ponselnya pada Marsha untuk dilihat.


"Ehm bagus ini, apalagi bekas cafe juga jadi nggak perlu banyak renovasinya,"kata Marsha menanggapi.


"Iya, makanya nanti siang kamu ikutan juga ya. Kan kamu yang akan jadi manajernya. Nanti aku kenalin sama Mas Rizal," ucap Gita.


"Siapa Mas Rizal? Calon imamku ya? Haduh terharu aku karna kamu udah mau repot-repot carikan aku jodoh" tanya Gita bersemangat.


"Ih apaan sih, Marsha! Ngaco aja kamu. Mas Rizal itu pegawainya Dylan yang biasa ngurus resto, cafe hotel. Jadi Dylan bersedia meminjamkan Mas Rizal untuk ajarin kita mengelola cafe sekitar tiga bulan. Habis itu ya dia balik lagi kerja sama Dylan. Nah waktu tiga bulan itu kamu manfaatin buat banyak belajar dari Mas Rizal. Gitu loh, Mar," jelas Gita gemas karena makin hari kelemotan otak Marsha makin menjadi-jadi. Kayaknya perlu diservis atau diupgrade sekalian.


"Oalah kirain Mas Rizal calon imamku. Tapi ya udahlah aku akan memanfaatkan Mas Rizal sebaik mungkin. Aku akan belajar sebanyak-banyaknya dari Mas Rizal," ucap Marsha yang agak kecewa tapi kembali semangat saat sebentar lagi ia bisa mulai kerja.


"Terus kita makan siang di rumah atau bareng camer kamu, Git?" tanya Marsha yang sudah berdiri akan menuju kamar mandi.


"Nah itu aku juga bingung. Camer bilang dia mau jemput jam 12.30. Kan nanggung," bingung Gita.


"Ya udah kita makan aja dulu. Takutnya nanti nggak diajak makan camermu kan kita malah kelaparan, Git. Mana tadi pagi cuma makan bubur doang kan," usul Marsha.

__ADS_1


"Emang kamu udah masak? Dari tadi di dapur kayaknya sibuk banget," tanya Gita.


"Belum masak sih. Tadi aku iseng aja rapiin isi kulkas," jelas Marsha tersenyum manis.


"Lah kulkas kosong melompong, apa yang mau dirapiin, Marsha," kata Gita tak habis pikir.


"Tuh rapiin telur sambil aku hitung. Ternyata tinggal 3 biji. Kita dadar telur aja yuk untuk makan siang. Tinggal tambahin sambal bawang. Udah beres. Daripada nanti kita kelaparan," ucap Marsha tanpa rasa bersalah.


"Haiiihhh kamu ini ada-ada aja. Ya udahlah kita makan telur dadar aja. Aku bikin telur dadar, kamu bikin sambal bawangnya. Soalnya kalau kamu bikin sambel bisa jadi puedess banget. Emang kamu tambahin apa sih sambalnya?," ajak Gita sambil berjalan menuju dapur diikuti Marsha yang mengekor dibelakangnya.


"Aku sih kalau bikin sambal sambil marah-marah biar jadi makin pedes," cengir Marsha.


"Emang bisa? Kamu ini bisa aja. Yuk ah," sewot Gita.


Akhirnya Gita dan Marsha kini masing-masing sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang yang sangat sederhana. Tapi begitu saja mereka sudah sangat bersyukur karena masih bisa menikmati makan siang.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2