
Siang ini Gita, Marsha dan Rizal sudah duduk di sebuah resto makanan Indonesia yang terletak di pinggiran kota. Suasana resto yang asri dan sejuk, terkesan sedang ada di desa, membuat betah pelanggan yang makan disana.
Gita dan Marsha nampak tak sabar menunggu makanan disajikan. Sedang Rizal hanya tersenyum memperhatikan tingkah keduanya.
"Kenapa sih senyum-senyum terus, Mas?" tanya Gita penasaran.
"Ah enggak, seneng aja lihat kalian berdua kayak nggak ada beban gitu. Sepertinya hidup kalian bahagia terus," ucap Rizal tersenyum.
"Jelas bahagia kalau Gita nih, kan dia mau menikah, apalagi menikah dengan seorang Dylan, udah ganteng, kaya .. apalagi yang dicari coba. Ya kan, Git?!" Marsha menatap Gita dengan cengiran khasnya.
"Hehe iya, aku bahagia banget," ucap Gita terbata dengan senyum dipaksakan.
Heh ... Bahagia apanya. Yang ada hidupku kacau. Tapi kalau lihat rekening tiap awal bulan yang ditransfer Dylan sih memang bikin bahagia. Batin Gita yang masih tersenyum menatap Marsha dan Rizal bergantian.
Tak lama makanan yang dipesan pun sudah disajikan. Dengan semangat Gita dan Marsha pun menyantapnya. Sedangkan Rizal juga tampak menikmati makan siangnya.
Ditengah-tengah menyunyah makanan, ponsel Gita berdering. Tapi Gita rasanya malas mengangkat. Beberapa kali berdering, Gita tetap cuek. Hingga Marsha tak tahan dengan suara ponsel Gita, mengganggu kenikmatan rasa opor ayam yang sedang dikunyahnya.
"Git, angkat dulu kenapa? Siapa tahu penting itu. Dari siapa sih?" Marsha memberondong Gita dengan pertanyaan.
Sementara suara ponsel Gita makin bikin orang nggak nyaman mendengarnya.
"Males," sahut Gita malas.
"Ya udah kalau kamu nggak mau angkat, siniin biar aku yang jawab," kesal Marsha.
Akhirnya Marsha pun menyambar ponsel Gita dan menjawabnya tanpa melihat siapa yang menelpon.
- Halo.
- Eh iya Mas Dylan, saya Marsha temen kontrakannya Gita kalau Mas Dylan lupa.
- Ini kami sedang makan siang. Ada Mas Rizal juga. Sebentar ponselnya aku kasih ke Gita saja.
__ADS_1
Marsha pun memberikan ponsel pada pemiliknya dengan mata melotot galak. Gita pun balas mendelikkan matanya.
- Halo
- Iya, mungkin 2 jam lagi. Kenapa?
- Enggak ah, capek. Besok aja gimana?
- Iya baiklah, terserah kau saja.
Gita pun menutup panggilan telpon dari Dylan dengan wajah kesal. Gita yang melihatnya pun cekikikan geli.
"Nggak usah ketawa-ketawa ntar keselek baru tau rasa," gumam Gita yang sangat jelas terdengar di telinga Marsha dan Rizal.
"Bos Dylan yang telpon ya? Kenapa?" tanya Rizal ingin tahu.
"Itu lho aku disuruh fitting gaun pengantin sekarang juga. Tapi aku bilang 2 jam lagi baru bisa datang ke butik," ucap Gita sambil melanjutkan acara makannya yang tertunda karena telpon dari Dylan.
"Memangnya habis ini kamu mau kemana lagi, Git? Bukannya perjalanan dari sini ke Butik White Cloud cuma sekitar setengah jam?" kernyit Rizal memperkirakan lama perjalanan jika mereka pergi ke butik. Rizal sangat tahu butik langganan bosnya itu. Butik yang terkenal mahal, hanya kalangan jetset yang mampu membeli di Butik White Cloud.
"Kalau selama itu bikin bos Dylan menunggu, bisa dipotong gajiku, Git," keluh Rizal.
"Nggak mungkin Dylan setega itu. Lagipula dia masih ada pertemuan dengan rekan kerjanya kok. Makan siang juga. Udah santai aja lah, nggak usah terburu-buru," kata Gita menenangkan.
"Iya Mas Rizal, aku juga mau nambah lagi. Bolehkan? Mumpung bisa makan disini, menunya bikin kangen pulang kampung," cengir Marsha tak bersalah.
"Oh iya, silahkan kalau mau nambah," ucap Rizal akhirnya.
Ih dasar Marsha, mumpung ada yang nraktir jadi gelap mata. Semua pengen dimakan. Batin Gita sambil menghela nafas dalam.
Dua jam kemudian ...
Saat ini Gita sudah berada di Butik White Cloud. Ia hanya duduk sambil memainkan ponselnya di ruang tunggu. Dylan belum datang juga padahal Gita sudah hampir setengah jam menunggu.
__ADS_1
Karena tak sabar, akhirnya Gita pun meminta pada pemilik butik agar fitting gaun pengantin duluan saja. Pemilik butik yang bernama Madam Ivana, sangat antusias melayani Gita. Karena Gita adalah pelanggan premium. Jelas saja, gaun dipesankan Mama Rasti berharga fantastis yang jika Gita tahu akan membuat ia merinding. Bakalan takut memakainya karena sayang uang sebanyak itu hanya untuk sepotong gaun pengantin saja.
Madam Ivana yang kemayu, bernama asli Evan sebetulnya, mengamati gaun yang sudah dirancangnya yang kini mekekat di tubuh Gita. Gita tampak risih ditatap seperti itu. Walaupun penampakan Madam Ivana cantik tapi kan onderdilnya tetep aja cowok.
"Hem perfect! Bagus banget di tubuh kamu, Gita. Tapi kamu nyaman kan pakainya?" tanya Madam Ivana tersenyum senang.
"Iya nyaman, bagus banget lagi. Wow banget lah. Tapi bolehkan aku langsung lepas sekarang?" tanya Gita.
"Sebenarnya boleh aja sih, lagian gaun ini sudah perfect. Nggak ada yang perlu diperbaiki lagi. Tapi apa kamu nggak nunggu bos Dylan dulu biar dia lihat betapa wow nya kamu pakai ini?" Madam Ivana memberi pertimbangan agar Gita lebih sabar menunggu Dylan datang.
"Nggak usah, biar Dylan nanti kaget lihat aku pas di pernikahan kami," senyum malu-malu Gita membuat Madam Ivana akhirnya menyetujui permintaan Gita.
Dengan dibantu asisten wanita Madam Ivana, Gita pun melepaskan gaun pengantinnya yang lumayan ribet jika dilepas sendiri.
Setelah Gita selesai, ia pun pamit pada Madam Ivana. Saat sedang berjalan di teras butik, tiba-tiba Dylan menghadang jalannya.
"Gita, kamu lama nunggu ya? Maaf tadi meeting nya lama. Yuk masuk," ajak Dylan meraih tangan Gita.
"Kamu masuk aja sendiri, aku mau pulang."
"Loh kamu udah fitting gaunnya?" tanya Dylan bingung.
"Udah dari tadi, habis lama kamu datangnya. Aku mau pulang sekarang, capek," keluh Gita.
"Tapi aku mau lihat gaun kamu seperti apa. Jangan yang terlalu terbuka," gumam Dylan tapi masih terdengar jelas di telinga Gita.
"Eh bener tebakanmu. Gaunnya terbuka banget bahkan punggungnya terbuka sampai pinggang dan bagian dadanya agak turun biar besok pas pesta pernikahan aku nggak kegerahan," ucap Gita sengaja ingin tahu bagaimana reaksi Dylan.
Mendengar penjelasan Gita membuat Dylan seketika melototkan matanya. Mana mungkin ia ikhlas memperbolehkan tubuh Gita dipandang banyak mata pria yang pasti akan mengagumi tubuh indah calon istrinya. Yah meskipun istri jadi-jadian sih ...
Ini tidak boleh dibiarkan! Akan aku suruh Evan betulin biar ditambal bagian punggungnya. Kesal Dylan dalam hati.
-
__ADS_1
-
-