
Gita membalikkan tubuhnya menatap Dylan dengan pandangan menusuk. Dylan tampak berjalan mendekati Gita.
"Dari mana kau tahu kalau aku butuh pekerjaan?" tanya Gita curiga.
"Nggak usah kaget gitu. Tadi teman-temanmu bertanya sama aku apakah ada lowongan pekerjaan di perusahaanku," jawab Dylan.
Gita hanya manggut-manggut, ternyata dari teman-temannya. Malu sih sebenernya, tapi ya sudahlah. Toh sekarang ia memang sedang butuh pekerjaan.
"Nih datang ke perusahaanku besok jam 4 sore. Jangan sampai terlambat!" ucap Dylan sambil menyerahkan kartu namanya di tangan Gita.
Gita hanya bisa mengangguk lalu memandang kepergian Dylan yang berjalan keluar ballroom.
Jaman sekarang masih ada kartu nama juga ternyata. Oke besok aku akan coba datang ke perusahaannya. Siapa tau aku beruntung. Batin Gita dalam hati.
"Gita ... Udah mau pulang?" tanya Jenni menghampiri Gita bersama Vena dan Alina.
"Iya, udah malem juga ini. Betewe makasih banyak ya udah berusaha mencarikan pekerjaan buat aku. Tadi Dylan menyuruhku agar datang ke perusahaannya besok," ucap Gita pada teman-temannya.
"Sama-sama, yuk aku anterin pulang aja," ajak Vena.
"Nggak usah Ven, aku udah terlanjur pesan taksi online. Makasih buat tawarannya. Makasih juga Jenni, Alina, kalian sahabat terbaikku semua," desah Gita tak kuasa menahan haru karena disaat ia susah seperti sekarang, teman-temannya ternyata masih mendukungnya.
Mereka pun berpelukan dan mengucapkan salam perpisahan dan berjanji jika ada waktu, mereka akan kembali bertemu.
***
Gita masuk ke dalam rumah kontrakan dengan kunci cadangan. Terlihat sepi karena kemungkinan Marsha sudah tidur di kamarnya. Memang saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
__ADS_1
Gita pun berjalan menuju kulkas untuk menyimpan makanan yang ia bawa dari pesta tadi. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam kamarnya.
Setelah membersihkan diri, Gita langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Pikirannya melayang ada sosok Dylan. Apakah ia akan menurunkan egonya jika besok akan merendahkan diri untuk meminta pekerjaan pada Dylan?
Atau ia akan bertahan dan melepas begitu saja kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan Dylan.
Jika mengingat permusuhannya dengan Dylan selama ini, ia pasti akan menolak. Tapi ya sudahlah, ia harus mengesampingkan harga dirinya saat ini. Urusan perut lebih penting. Karena sisa tabungan Gita juga sudah tidak seberapa banyak.
Ia harus segera mendapatkan pekerjaan.
Gita pun meyakinkan diri bahwa besok sore, ia akan bertekad menemui Dylan. Semoga saja Dylan berbaik hati memberinya pekerjaan.
Esok harinya ...
"Gita bangun!" suara cempreng Marsha terasa seperti kaleng rombeng masuk ke telinga Gita.
"Ada apa sih, Mar?! Bangunin orang udah kayak ada gempa aja," sungut Gita yang masih enggan membuka matanya.
Tiba-tiba Marsha memeluk tubuh Gita.
"Ih ada apaan sih, Mar. Geli tau." Gita berusaha melepaskan pelukan Marsha.
"Makasih ya, Git. Kamu memang sahabat terbaikku."
"Apaan sih? Kamu ngigau ya?" ucap Gita sambil mengucek matanya memperhatikan Marsha yang saat ini tersenyum lebar.
__ADS_1
"Itu lho oleh-oleh makanan dari pesta semalam. Padahal pagi ini aku mau angetin cilok, eh ada makanan enak di kulkas. Yuk makan, udah aku angetin semua itu," ajak Marsha menarik tangan Gita turun dari tempat tidur.
"Oh itu. Aku cuci muka dulu sebentar. Ntar nyusul," ucap Gita melepaskan genggaman tangan Marsha kemudian berlalu ke kamar mandi.
Setelah selesai sarapan, Gita dan Marsha tetap duduk di meja makan sambil menyeruput teh panas.
"Mar, nanti sore temenin aku yuk ke perusahaan Dylan. Dia nawarin kerjaan," ajak Gita.
"Dylan?" alis Marsha berkerut mengingat nama Dylan. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu.
"Iya Dylan, musuh abadiku waktu SMA itu lho yang pernah aku ceritain. Semalam waktu reuni dia bilang sore ini aku disuruh datang ke perusahaannya, nawarin kerjaan. Temenin yuk, siapa tau kamu juga bisa kerja bareng," jelas Gita.
"Gimana ya tapi apa kamu nggak malu? Katanya musuh abadi?" tanya Marsha bingung.
"Iya sih musuh abadi. Tapi sekarang urusan perut lebih penting," tegas Gita.
"Bener juga sih. Aku mau kalau gitu. Yuk siap-siap," semangat Marsha sambil berdiri hendak ke kamarnya.
"Ya ampun, Neng. Masih ntar sore, ini baru jam 8. Ya ampun," sungut Gita geleng-geleng kepala.
"Hehe nggak pa-pa dong kita berangkat dulu. Kita bisa bersihkan ruangan Dylan dulu biar dia mau kasih kerjaan," ucap Marsha masih bersemangat.
"Emang kamu ngelamar jadi cleaning servis? Ya sana pergi duluan," balas Gita sewot.
"Hehe ya enggak lah. Kan aku Akuntan, masa' berbelok jadi cleaning servis," cengir Marsha tak bersalah.
-
__ADS_1
-
-