Menjadi Istri Sempurna

Menjadi Istri Sempurna
Eps 16. Make Over


__ADS_3

Malam ini Dylan akan menjemput Gita di kontrakan. Sedari sore Gita sudah sibuk mempersiapkan diri. Walaupun tidak harus pergi ke salon, tapi ia tetap ingin tampil maksimal didepan calon mertua. Sedari pagi Gita sudah mamakai masker wajah dan juga creambath rambut. Dan saat ini Gita sedang luluran di ruang tengah sambil nonton acara tv.


"Git, kamu ngapain sih dari tadi sibuk terus," ucap Marsha sambil membawa seteko es teh. Menuangkan kedalam gelas dan menyodorkannya pada Gita.


"Makasih, Mar. Aahh ... Segernya," ucap Gita setelah meneguk segelas es teh hingga tandas.


"Git, jawab dong. Kok kamu dari tadi kayak make over gitu. Emang mau kemana sih?" tanya Marsha penasaran.


"Ih kepo aja," goda Gita sengaja membuat Marsha makin penasaran.


"Lama-lama ini anak ngeselin amat," kesal Marsha lalu kembali meneguk es teh agar mendinginkan kepalanya.


"Hehe kesel ya." Gita tertawa senang.


"Nggak cuman kesel tapi kesel buangettt," sungut Marsha.


"Aku tuh ya mau ketemu camer tau," jelas Gita akhirnya.


"Hah jadi beneran kamu jadian sama Dylan?" Mulut Marsha sampai melongo saking kagetnya.


"Nggak cuma jadian tapi bulan depan aku akan menikah dengan Dylan," ucap Gita tersenyum tipis.

__ADS_1


"Git! Becandanya jangan kelewatan dong," balas Marsha tak percaya.


"Beneran Mar, aku sebenarnya terpaksa sih. Soalnya dengan menikahi Dylan aku akan punya modal usaha dan ini jalan satu-satunya untuk kembali mengambil perusahaan papaku dari tangan Om William," jelas Gita akhirnya tapi tetap ada bagian-bagian tertentu yang ia sembunyikan dari Marsha. Toh nggak semuanya kan perlu diceritakan pada Marsha meskipun Marsha adalah sahabatnya. Biarlah ini menjadi rahasia antara dirinya dan Dylan.


"Oh gitu, tapi kamu udah yakin, Git?" tanya Marsha lagi karena tidak ingin keputusan yang diambil Gita akan membuat ia tidak bahagia.


"Yakin nggak yakin sih hehe," canda Gita.


"Ah kamu ini bercanda terus. Serius dong, ini kan masalah hidup dan matimu, Gita sayang," gemas Marsha sambil geleng-geleng kepala.


"Kalau serius-serius malah bikin kepalaku pusing dan stres, mendingan dibawa santai aja. Biarlah semua mengalir aja, kita tinggal jalanin apa yang ada didepan kita," ucap Gita berfilosofi.


"Kalau aku sih rencana habis menikah akan buka cafe. Dylan sudah janji akan kasih modal. Gimana kalau kamu manajernya aja, Mar. Kita kerja bareng biar nggak susah-susah cari kerja, kita bikin lapangan kerja buat kita sendiri. Kamu setuju?" tawar Gita.


"Kamu percaya sama aku, Git?"


"Tentu saja aku percaya padamu, Mar. Kita harus bisa mandiri," ucap Gita yakin.


"Baiklah, kita harus bisa," putus Marsha akhirnya.


"Ya udah, sekarang kamu bantuin aku make over biar penampilanku malam ini cetar sehingga camer akan terpesona," ujar Gita sambil membereskan peralatan lulurnya.

__ADS_1


"Siap, Nyonya," teriak Marsha semangat.


Gita pun mulai mandi dan bersiap untuk acara malam ini. Gaun yang akan dia pakai sudah disiapkannya sejak tadi. Dress selutut berwarna biru langit berpotongan sederhana tapi manis dengan hiasan bunga dipinggangnya.


Marsha membantu Gita mengeringkan rambut sementara Gita merias wajahnya dengan makeup natural. Rambut ia biarkan tergerai alami saja. Secara keseluruhan Gita ingin penampilan perdananya didepan camer nanti tidak berlebihan agar tidak terkesan menor dan murahan.


"Wow syantikkk syekali kamu Gita. Jangan-jangan selama ini Dylan jatuh cinta sama kamu makanya ngajak kamu nikah." Marsha terpesona melihat penampilan Gita yang memang sangat cantik.


"Hehe mungkin ya," ucap Gita yang menyembunyikan kenyataan sebenarnya dari Marsha jika pernikahannya dengan Dylan tidak ada cinta didalamnya. Hanya kesepakatan.


"Hayoo kamu udah jatuh cinta juga sama Dylan kannnn," tebak Marsha sambil tertawa menggoda Gita.


"Ah bisa aja kamu," balas Gita menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


Maaf Marsha, aku tidak bisa terus terang ke kamu yang sebenarnya. Biarlah ini hanya menjadi rahasiaku dan Dylan. Batin Gita.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2