Menjadi Pendekar Elf Terkuat Dalam Game VR

Menjadi Pendekar Elf Terkuat Dalam Game VR
Chapter 0 : Prolog.


__ADS_3

Kebodohan itu harus di batasi loh.


Sial sekali aku hari ini, Jack bilang jika aku bertaruh di nomor 4 aku akan mendapat uang 2 kali lipat lebih banyak. Sekarang yang ada semua uangku habis untuk dipakai bertaruh, gumam Sakaru kesal. Ia duduk di pojok belakang kelas dan mengerutkan dahi sambil menatap sinis Jack yang duduk beberapa baris di depannya. Ia tidak terima dirinya kalah dan tidak senang ketika menyadari bahwa ia agak sial dan juga bodoh sehingga kalah dalam taruhan kemarin.


Sakaru semakin di buat sakit kepala setelah mengingat uang yang di pakai nya untuk taruhan adalah uang untuk membayar uang sekolahnya bulan ini.


Aku memang layak mendapatkan ini. kata Sakaru di dalam hati dengan muram. Ia sangat menyesal karena telah menghiraukan perkataan orang tuanya. Mungkin ini adalah sebuah karma untuk Sakaru karena tergiur dengan perkataan Jack tentang penggandaan uang miliknya melalui taruhan pacuan kuda.


"Treng..."


Bel Istirahat berbunyi menandakan pelajaran telah berakhir. Seorang laki-laki memakai jam mewah di tangan kanan nya menghampiri Sakaru dari kejauhan.


"Ada apa Sakaru? Kamu terlihat lelah hari ini?" tanya laki-laki itu terduduk di depan meja Sakaru.


Sakaru yang menundukkan kepalanya melirik dan merespon perkataannya, "Doni ya, jangan ganggu aku hari ini, aku sedang sibuk."


Sakaru kembali menunduk mengarah ke arah bawah. Doni yang melihat Sakaru seperti itu mendekatkan kursi yang di dudukinya, ia lalu mengeluarkan beberapa makanan ringan untuk Sakaru dan dirinya makan.


"Sudahlah, kamu terlihat sangat kacau hari ini. Makanlah itu, siapa tau itu bisa membuatmu merasa lebih baik."


Sakaru mengambil makanan itu dan langsung menghabiskannya dengan sekali lahap. Doni yang melihat Sakaru memakan makanan yang dia bawa dengan lahap pun langsung melontarkan beberapa pertanyaan kepada Sakaru.


"Jadi, ada masalah apa sampai membuatmu seperti ini? Apakah itu ada hubungannya dengan Jack? Dari tadi kulihat kamu menatapnya dengan kesal."


Sakaru menelan makanan yang masih berada di dalam mulutnya dan mulai menceritakan masalahnya ke Doni tentang uang yang di pakai nya untuk taruhan.


Doni yang mendengar cerita Sakaru spontan tertawa kecil. Sakaru yang sedang sial itu pun spontan membalas reaksi Doni, "Apa-apaan reaksi itu? Aku ini sedang tertimpa sial tau."


Doni yang tidak tahan untuk tertawa berbalik dan melempar bungkus makanan yang tadi sudah ia makan ke dalam tong sampah.


"Sekarang malah menghiraukanku, bodo...ah." ucap Sakaru memalingkan wajahnya dan kembali menundukkan wajahnya.


"Tenang Sakaru jangan bersedih. Aku punya sebuah saran yang bagus untukmu."


Setelah mendengar kata saran, Sakaru menatap Doni dengan wajah penuh pengharapan dan spontan berkata, "Jadi, saran apa yang kamu miliki? Apakah kamu akan meminjamkanku sejumlah uang?"


Doni mengambil ponsel dari dalam kantung celananya dan menunjukan sebuah situs berisikan sebuah game online, "Sakaru lihatlah ini. Ada sebuah game yang dapat menghasilkan uang hanya dengan bermain game loh."

__ADS_1


"MMORPG Saga Darin Online ya." Sakaru berpikir sejenak dan setelah melihat tulisan VR, "Lah, itu kan game VR." Sakaru menghela nafas karena dia sama sekali tidak memiliki VR di rumahnya.


"Kamu pasti tidak punya VR kan? Kalau begitu kupinjamkan deh, kebetulan di rumahku aku punya 2 VR yang nganggur alias ga ke pakai."


Mata Sakaru berkaca-kaca, menatap Doni dengan penuh pengharapan, "Serius nih, wah kebetulan dong."


"Kalau gitu, gimana kalau sepulang sekolah nanti kamu mampir kerumahku buat ambil VR nya?."


"Woke, ntar aku mampir buat ambil VR nya."


Sepulang sekolah, Sakaru bersama Doni pergi ke rumah Doni untuk mengambil VR yang dibicarakan di sekolah tadi.


Ini pertama kalinya Sakaru berkunjung ke rumahnya Doni. Sakaru pun di buat terkejut karena rumah yang di maksud Doni tadi adalah sebuah mansion mewah dengan beberapa pelayan di dalamnya, bahkan saat memasuki mansion tersebut Sakaru di sambut hangat oleh pelayan yang berada di mansion tersebut.


Sakaru yang gugup melihat ke sekitar langsung menepuk pundak Doni, "Do-doni, kalau begitu langsung saja mengambil VR nya."


Merespon Sakaru, "Tidak usah gugup begitu, santai saja."


"Bagaimana aku tidak gugup, ini pertama kalinya aku datang ke mansion semewah ini."


Setelah mereka berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai di ruangan yang terlihat sangat mewah. Setelah masuk ke dalam, Sakaru tercengang melihat semua alat-alat tersebut. Komputer keluaran terbaru, Playstation keluaran terbaru, dan juga beberapa VR yang tersusun rapih di dalam lemari.


"Kalau begitu Sakaru, pilihlah VR mana yang mau kamu pilih." ucap Doni sambil membuka lemari kaca yang dipenuhi oleh VR keluaran terbaru.


"Ba-baiklah akan ku pilih."


"Glek..."


Sakaru menelan ludahnya karena begitu gugup.


Setelah melihat-lihat VR yang di tunjukkan Doni, Sakaru tersadar dan berpikir di dalam benaknya, "Bukankah ini semuanya sama saja? Jadi apa yang harus ku pilih?"


"Eee.... Doni, aku tidak tahu yang mana dan tidak begitu mengerti dengan VR." Sakaru menggaruk-garuk kepalanya memberikan sinyal kepada Doni.


"Begitu ya, kalau begitu biar ku pilih kan saja deh."


Doni pun mengambil sebuah VR yang paling pojok dan memberikannya kepada Sakaru.

__ADS_1


"Ini, coba pakai." Doni menjulurkan VR.


"Ini seperti helm bukan, kalau begitu aku tinggal memakainya saja." pikir Sakaru dalam benaknya.


"Cekrek..."


[Memuat data, menghitung mundur 3...2...1... Berhasil membuat data.]


"Suara apa itu tadi?"


Sakaru spontan melepaskan VR yang dipakainya tadi.


"Doni, suara apa itu tadi?" tanya Sakaru bingung.


"Oh, suara yang kamu dengar tadi mungkin itu adalah suara registrasi. Sekarang VR itu hanya bisa digunakan olehmu saja."


"Apa olehku? Kalau begitu bagaimana nanti caraku mengembalikannya?"


"Mengembalikannya ya, nanti saja belikan VR yang baru." ucap Doni memberikan saran.


"Belikan yang baru ya, kalau begitu berapa harga VR ini?" tanya Sakaru penasaran.


"Kalau tidak salah, harga 1 set VR itu setara dengan 200 Juta."


Mendengar perkataan Doni, Sakaru membatu dan tidak bisa berkata apa-apa.


Doni yang melihat kelakuan Sakaru spontan berkata, "Tenang saja, setelah memainkan game nya kamu pasti bisa segera melunasinya kok."


"Tidak gratis ya. hehe." Sakaru mengusap kepalanya sambil tersenyum kecil.


"Mau gratis ya, kalau begitu ambil saja deh. Itu anggap saja sebagai balas budiku karena kamu pernah menolongku saat terjadi kecelakaan dulu. Kalau saja kamu tidak menolongku waktu itu, aku mungkin sekarang sudah berada di dalam kuburan dan menjadi tulang belulang."


"Benarkah, hore..." Sakaru tidak dapat menahan senyumnya karena senang dengan perkataan Doni.


"Karena hari sudah hampir gelap, sebaiknya kamu segera pulang deh. Di depan mansion sudah ada supir yang akan mengantarmu pulang."


"Kalau begitu, aku pulang dulu." Sakaru membawa 1 set VR nya dan pergi menuju ke depan mansion.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan." Doni melambaikan tangannya.


Sakaru pun naik ke dalam mobil dan pulang ke rumahnya membawa VR itu.


__ADS_2