Menjadi Pendekar Elf Terkuat Dalam Game VR

Menjadi Pendekar Elf Terkuat Dalam Game VR
Chapter 28: Mata Emas Kaisar Iblis.


__ADS_3

"Baiklah, sekarang aku akan mencoba menggunakan mata emas yang baru saja ku dapatkan ini." gumamnya sembari melihat-lihat sekitar.


Sakaru menyadari, dirinya dapat melihat seluruh data-data penting milik seseorang dengan sekali lihat. Tingkat Kultivasi, Kekayaan, Bahkan data-data pribadi milik seseorang dapat dengan mudah diketahuinya.


"Bagus-bagus, mata ini dapat membantuku untuk melihat status milik seseorang." ujarnya kagum dengan sedikit senyuman.


Setelah berkeliling kota itu...


"Giok Api kualitas Tinggi, hanya dengan 3 keping koin bela diri." Teriak penjual itu.


"Giok Api kualitas Tinggi?" Sakaru sedikit tertarik dan menghampiri pedagang itu.


"Tidak, bukankah itu..." Sakaru menyadari adanya keanehan dengan batu itu.


Terlihat dari kejauhan, ada seorang wanita menggunakan jubah menghampiri pedagang Giok itu.


"Ini adalah barang palsu." ucap wanita itu sekilas setelah melihat batu Giok itu.


"Apa yang kau katakan dasar bocah. Ini adalah Giok kualitas Tertinggi yang ku dapatkan di dalam lahar gunung berapi minggu lalu. Jadi jangan asal berbicara jika kau tidak mengetahuinya." Pedagang giok tersinggung dengan ucapan wanita itu.


"Aku dapat membuktikan bahwa Giok itu palsu." Ujar Sakaru dari kejauhan menyela pembicaraan pedagang itu.


"Apa ini, bocah bau lainnya. Jangan asal berbicara atau kau akan menanggung akibatnya."


"Baiklah akan ku buktikan..." Sakaru mengambil salah satu batu yang didagangkan pedagang itu lalu mencampurkan nya dengan air belerang yang dapat di temukan di mana saja.


Warna Batu giok itu memudar dan kehilangan kekuatannya. Pada umumnya, batu Giok api bisa menguap kan air. Tetapi dengan menyiramnya dengan air belerang, batu giok itu memudar dan berubah menjadi batu biasa.


"APA, BAGAIMANA INI BISA TERJADI?"


"Sekarang, kamu harus tahu bahwa nona itu tidak salah. Bahkan, batu-batu itu sekarang tidak sebanding dengan harga 1 keping koin Yuld." Ucap Sakaru membuktikan.


"Sial..."


Tuk...


"Siapa yang melempar batu itu?!" teriak spontan pedagang itu lalu melihat ke arah belakang.


"Dasar Sialan, beraninya menipuku. Kembalikan Keping koin bela diri milikku."


"Iya benar, kembalikan keping koin bela diri milik kami."


...


"Terimakasih, sebenarnya tadi aku hanya tahu bahwa batu giok api itu palsu dan tidak dapat membuktikan nya." ucap Nona itu kepada Sakaru.


"Tidak apa. Aku hanya memberitahukan kebenaran."


"Kalau kamu berkenan, bagaimana kalau kamu mengunjungi paviliun Qin Long milikku. Aku pasti akan menyambut mu di sana."


"Baiklah, aku pasti akan kesana."


Setelah beberapa waktu Sakaru berjalan...

__ADS_1


"Keluarlah, aku mengetahuinya." Teriak Sakaru.


"Hehe, ternyata kamu bisa menyadari keberadaanku."


Pedagang itu keluar dengan beberapa orang di ranah Pendekar bersamanya.


"Inilah akibatnya karena telah mengganggu bisnis milik orang lain."


"Hoo... Baiklah, bagaimana kalau aku membeli seluruh batu giok mu itu dengan 10 keping koin bela diri." ucap Sakaru menawar.


"Itu memang menguntungkan ku, namun kamu telah membuatku rugi besar. Kalian, lakukanlah..."


"Hehehe, bocah. Kamu pasti akan mati karena telah menyinggung tuan kami. Sekarang matilah...."


Orang-orang itu menyerbu Sakaru. Namun dalam sekejap, Sakaru berhasil membunuh orang itu dengan 1 gerakan.


"Apa kamu pikir bisa mengalahkan ku dengan para cecunguk itu?"


Sekejap perilaku pedagang itu berubah, dia tersungkur ke tanah dan pada saat itu, sekilas pedagang itu melihat Sakaru sebagai Dewa Kematian.


"Tu-tuan muda, maafkan hamba tidak mengenali seorang master." ucapnya gemetar sambil bersujud menghadap Sakaru.


"Tidak, sebelumnya aku sudah memberimu kesempatan. Sekarang matilah..."


Dengan tegas, Sakaru menebas kepala pedagang itu dengan sebilah pedang angin yang di buatnya.


"Swing..." sfx kepala terbang...


"Ternyata memang benar seperti yang aku pikirkan sebelumnya, ini adalah batu roh. Lili, cobalah untuk menyerap batu ini."


Lili menyerap salah satu batu roh itu dan mulai terjadi beberapa perubahan spesifik terhadap bentuk Lili. Di mulai dari energi yang di miliki Lili bertambah 3x lipat dan itu membuat Lili semakin dekat dengan ranah Dewa.


"Tuan, aku merasa bahwa energi di seluruh tubuhku terisi dan bahkan berlipat ganda, aku juga merasa semakin dekat dengan ranah dewa."


"Baguslah kalau begitu, seraplah semua batu ini." ucap Sakaru menjulurkan semua batu roh ke nya kepada Lili.


Setelah menyerap seluruh batu roh, tinggal 1 langkah lagi untuk menembus ranah dewa bagi Lili, yaitu dengan menyerap dan bersatu dengan batu Dewa.


Setelah Sakaru berpikir cukup lama, langkah pertama yang dia ambil untuk menuju ke ranah dewa adalah dengan adanya dukungan.


Sakaru lalu memutuskan untuk pergi ke paviliun Qin Long untuk menjual sesuatu sekaligus berhubungan baik dengan paviliun Qin Long. Setelah sampai di depan gerbang paviliun...


"BERHENTI!" Teriak dua orang penjaga menodongkan tombaknya ke arah Sakaru.


"Dua orang dengan ranah Pendekar Puncak. Paviliun ini boleh juga..." gumam Sakaru.


"Ehem... Panggilkan nona paviliun ini. Ada sesuatu yang inginku bicarakan."


"Tempat ini tidak menerima pengemis. Pergilah..."


Mendengar hal itu, tiba-tiba saja Sakaru merasa kesal. Namun, muncul nona itu dari dalam paviliun.


"Dia adalah tamuku, jangan bersikap tidak sopan." teriak nona itu.

__ADS_1


"Baik!"


Seketika itu juga, ke dua pelayan ini memberikan jalan untuk Sakaru masuk.


Sesampainya Sakaru di sebuah danau yang tenang, dikelilingi dengan pohon-pohon dan bunga yang bermekaran, nona itu mempersilahkan Sakaru untuk duduk di tempat yang telah di sediakan.


"Jadi, apa tujuanmu datang ke sini? Jangan bilang kau hanya datang ke sini untuk berkunjung saja." tanya nona itu sedikit heran.


"Oh, nona tenang saja. Aku disini untuk berbisnis denganmu. Apakah di sini ada segulung kertas dengan pena." ucap Sakaru dengan sopan.


"Pelayan, segera sediakan segulung kertas dengan pena."


"Baik nona muda."


Setelah pelayan itu kembali dengan segulung kertas dan pena, Sakaru mulai menggunakan itu untuk melukiskan sesuatu.


Karena penasaran, nona itu bertanya kepada Sakaru tentang apa yang sedang di buatnya.


"Apa yang sedang kamu buat? Jangan bilang kamu sedang melukis diriku?" ucap nona itu dengan percaya dirinya.


"Nona jangan salah sangka. Aku sedang membuat sebuah array formasi dan setelahnya aku akan menjual array formasi ini ke paviliun."


"Apakah kamu seorang array master? Aku tidak menyangka tentang itu."


"Ya begitulah, nona bisa melihatnya jika aku sudah selesai membuatnya"


Setelah 1 jam berlalu, akhirnya Sakaru selesai membuat sebuah array formasi.


"Fiuh, akhirnya selesai juga. Nona, menurutmu berapa banyak uang yang akan ku dapatkan dengan menjual array formasi ini?"


"Sebentar biar ku lihat." ujarnya sambil melihat array formasi yang telah di buat Sakaru.


"Array formasi tingkat berapa ini? Aku tidak pernah melihat array formasi seperti ini." pikir nona itu mulai kebingungan.


"Array formasi ini hanya berharga sekitar 3 ribu keping koin beka diri." ucap nona itu dengan mengangkat ke 3 jarinya.


"Apa kau yakin itu harganya 3 ribu keping koin bela diri?" jawab Sakaru dengan wajah yang tidak puas.


"Jadi berapa yang kau mau?"


Sakaru mengangkat ke 10 jarinya...


"10 ribu keping koin bela diri ya? Baiklah aku akan mempertimbangkannya."


"Tidak, bukan 10 ribu. Tapi 10 juta keping koin bela diri."


"APA!" ujar nona itu terkejut. "Aku sudah menghargai mu dengan memberikan harga 3 ribu keping koin, tapi kau malah menolak dan menawarkan harga 10 juta!!! Dasar tidak tau diri." sambungnya.


"Kukira kamu adalah seorang master dalam menilai barang, ternyata masih amatiran. Yasudah kalau begitu, aku akan pergi. Ini 10 keping koin beladiri untuk membeli segulung kertas dan pena." ucap Sakaru lalu meninggal kan 10 keping koin bela diri lalu bersiap untuk pergi.


"Tunggu sebentar." ucap nona itu dengan tegas.


Karena merasa dia melewatkan keuntungan besar begitu saja, nona itu memanggil kakeknya yang sekaligus seorang ahli dalam memberikan penilaian barang.

__ADS_1


__ADS_2