
"A-aduh..., sakit sekali."
Tubuh Sakaru yang di penuhi oleh luka segera disembuhkan oleh Lili.
"Aku tidak kepikiran kalau menggabungkan ke 2 teknik ini akan membuatku melesat begitu cepat." gumam nya sambil membersihkan diri dari serpihan batu.
Sakaru melanjutkan perjalanan nya. Setelah berjalan selama 3 jam tanpa henti, mulai terlihat sebuah kota yang lebih besar daripada kota Lotus March.
"Akhirnya, sebentar lagi aku sampai di kota." ujar Sakaru mempercepat langkah kakinya dan berlari menuju ke arah kota.
Kota itu bernama Xun, dikuasai oleh kekaisaran Dong. Selama berabad-abad lebih, kota itu telah damai di bawah pemerintahan yang di pimpin oleh Guan Lao. Setiap kejahatan yang berada di kota itu selalu ditindak tegas dan langsung di berantas hingga tuntas.
Di depan gerbang kota ada 2 penjaga tingkat pendekar yang berjaga di depan gerbang. Sakaru diperiksa dan diperbolehkan masuk dengan membayar 100 keping Yuld sebagai biaya masuk ke dalam kota.
Setelah masuk ke dalam kota, Sakaru dibuat terkagum-kagum dengan keindahan kota Xun. Bangunan-bangunan yang berjajar rapi, bunga-bunga yang tertata di sepanjang jalan, dan ketenangan di kota itu juga sangat menenangkan.
Tidak jarang juga ada orang dari luar kota yang sengaja datang ke kota itu hanya untuk mencoba menghancurkan tugu pedang yang berada di tengah kota.
Konon katanya, barang siapa yang dapat menghancurkan tugu pedang itu. Dia akan mendapatkan berkah dewi pedang dan akan menjadi pendekar pedang terkuat di seluruh semesta.
Karena Sakaru baru saja datang ke kota itu, ia langsung mencari rumah makan untuk sarapan karena perutnya sudah keroncongan dari pagi.
Sakaru membeli sebuah makanan dan mengeluarkan keping Yuld sebanyak 200 keping untuk sekali makan. Setelahnya, Sakaru mencoba untuk mengelilingi kota itu.
"Wah, enak sekali makanan tadi. Perutku juga sudah terisi penuh, sekarang aku akan pergi ke arah mana ya?" gumam nya sambil mengelilingi kota itu.
Di tengah perjalanan, Sakaru melihat sekelompok orang yang sedang berusaha menghancurkan sebuah tugu pedang. Tetapi setelah Sakaru menunggu lama dari kejauhan, tidak ada satupun orang yang berhasil menghancurkan tugu pedang tersebut.
"Mengapa orang-orang berusaha keras untuk menghancurkan batu berbentuk pedang itu?" pikirnya bingung setelah melihat sekelompok orang berusaha keras untuk menghancurkan tugu pedang tersebut.
Sakaru menghampiri kerumunan tersebut dan bertanya kepada salah satu orang yang sedang berada di sana.
"Permisi, apakah kamu tahu alasan orang-orang berusaha untuk menghancurkan batu berbentuk pedang itu?" tanya Sakaru sembari menunjuk ke arah orang-orang yang sedang berkumpul di depan tugu pedang.
"Oh mereka... Mereka adalah pendekar yang mencoba untuk menghancurkan tugu pedang." jawab orang itu kepada Sakaru.
"Begitu ya."
__ADS_1
Sakaru mencoba melihat lebih dekat. Karena Sakaru penasaran, dia mencoba untuk menendang tugu pedang itu menggunakan teknik langkah petir. Tetapi tidak terjadi reaksi apapun dan bahkan tidak meninggalkan goresan sedikitpun.
"Keras sekali batu ini." ucap Sakaru spontan setelah gagal menghancurkan tugu pedang tersebut.
"Tuan, tugu pedang batu itu tidak dapat di hancurkan oleh sembarang orang. Harus memiliki tenaga dalam yang kuat dan jiwa pedang untuk menghancurkannya." ujar Lili setelah meneliti struktur yang berada di dalam tugu pedang.
Terlihat ada seorang pria bertubuh besar menghampiri tugu pedang batu tersebut. Sakaru segera menjauh dari tugu pedang itu bermaksud untuk menjauhi pria itu.
Pria itu ternyata adalah seseorang yang tingkat kultivasi nya berada di tingkat master. Dengan kekuatan maksimal, pria itu mencoba untuk menghancurkan tugu pedang. Namun, tidak terjadi apa-apa sama seperti yang Sakaru alami sebelumnya.
Setelah melihat pria itu, Sakaru mulai berpikir untuk menghabiskan waktunya untuk berkultivasi dan memperkuat diri.
Sakaru menyewa sebuah kamar di penginapan yang berada di sekitar sana. Dengan 1 buah tempat tidur dan 1 buah meja. Sakaru mencoba untuk meningkatkan tingkat kultivasi nya.
Di atas sebuah kasur, Sakaru menyilangkan kakinya dan mulai berkonsentrasi untuk berkultivasi.
Setelah beberapa jam berkultivasi, akhirnya Sakaru dapat menembus tingkatan kultivasi menuju ke tingkat selanjutnya.
[Berhasil menembus tingkatan kultivasi pemula tingkat 5]
"Huuh...huuh..huh."
"Berkat pil fondasi 5 dewa, aku mengetahui cara tercepat untuk berkultivasi." gumam Sakaru merasa bangga.
Sakaru yang kelelahan segera menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Saat kepala Sakaru menyentuh bantal, terasa ada sesuatu di bawah bantal dan membuat kepala Sakaru terpentuk.
"Duk..."
"A-aduh... Apa semua bantal di penginapan ini semuanya keras?" ucap Sakaru spontan sambil mengusap-usap kepalanya yang terpentuk.
Sakaru berusaha untuk mengecek bantal yang keras tadi. Ternyata di bawah bantal nya itu ada buku Seni Ilmu Bela Diri Pedang tingkat atas.
Buku Seni Ilmu Bela Diri juga terdapat beberapa jenis dan juga tergolong ke dalam beberapa tingkatan. Tingkat bawah, yaitu tingkat 1-3, tingkat tengah, yaitu tingkat 4-6, dan Tingkat Atas, yaitu tingkat 7-9.
"Buku apa ini? Seni Ilmu Bela Diri Pedang? Sampulnya juga aneh sekali." ujar Sakaru sembari memutar-mutar buku itu.
"Tuan, itu adalah Buku Seni Bela Diri Pedang Tingkat 9."
__ADS_1
"Apa buku ini sangat bagus? Sampul buku ini juga terlihat sangat aneh dan jelek." gumam nya meremehkan buku itu.
"Jangan menilai buku dari sampulnya. Seluruh orang di dunia ini sangat mencari keberadaan buku ini. Jika tuan dapat menguasai isi di dalam buku itu, tuan dapat menjadi pendekar pedang terkuat di seluruh dunia."
"Benarkah??? Lantas mengapa buku sehebat ini ada di bawah bantal ku? Apakah ini takdir?" Sakaru tercengang dan langsung mengamankan buku itu di dalam inventory nya.
"Kupikir ada orang bodoh yang meninggalkan buku itu di bawah bantal." ujar Lili kepada tuannya.
Sakaru sudah terlalu lelah untuk bergerak bahkan untuk berbicara. Dia langsung tertidur lelap setelah berkultivasi sampai menembus tingkatan Pemula Tingkat 5.
Siang itu, Sakaru bermimpi tentang pendekar pedang yang sedang di kejar oleh beberapa sekte demi mendapatkan Buku Ilmu Bela Diri Pedang.
**
Malam itu, terlihat seorang kakek tua yang tengah berlari dan masuk ke dalam kamar sebuah penginapan.
"Sial... Aku sudah terlalu tua untuk memiliki Buku ini. Uhuk...Uhuk...."
Kakek tua itu menyembunyikan buku itu di bawah bantal dan pergi keluar dari penginapan itu.
"Pengejar sialan, jika kalian menginginkan buku ini kejarlah aku." Teriak kakek itu sambil berlari menuju ke arah lembah.
"Tangkap kakek tua itu." Teriak sang pengejar mengejar kakek itu.
Sesampainya di lembah...
"Aku tidak dapat berlari lebih jauh lagi. Lagi pula, umurku sudah sangat tua. Aku harus membuat beberapa kenangan sebelum aku benar-benar mati." pikir kakek tua itu.
Para pengejar itu terhenti dan mengepung kakek itu dari segala arah. Tidak ada yang berani memulai pertarungan terlebih dahulu karena itu pasti akan membuat banyak sekali nyawa melayang.
"Bersiaplah, kalian akan menyaksikan kehebatan dari pendekar pedang terkuat seluruh dunia." ujar Kakek itu mengacungkan pedangnya.
Serangan demi serangan mulai di lancarkan oleh kakek itu. Sambil tersenyum, kakek itu berhasil menumbangkan beberapa pendekar tingkat master senior dan 10 pendekar tingkat master. Sayangnya, dia harus kehilangan tangan kirinya akibat serangan salah satu pendekar itu.
"Aku tidak memiliki penyesalan di dalam kehidupan ini." gumam nya yang sudah lemas karena kehilangan banyak darah.
Penglihatan Kakek itu mulai memudar, tetapi sebelum penglihatannya menghilang sepenuhnya. Dia melompat menuju ke dalam lembah dan tidak ada seorang pun yang tahu nasib dari kakek itu.
__ADS_1
**