Menjadi Pendekar Elf Terkuat Dalam Game VR

Menjadi Pendekar Elf Terkuat Dalam Game VR
Chapter 20 : Arena Penerimaan.


__ADS_3

Sakaru yang terus berkultivasi di dalam gua akhirnya telah mencapai tingkatan kultivasi murid tingkat 3.


[Berhasil mendapatkan tingkatan kultivasi murid tingkat 3]


"Huff... Akhirnya aku berhasil juga." ujarnya sambil tiduran di atas rumput.


Melihat ke arah sekitar Sakaru teringat bahwa di dalam gua ini waktu tidak akan terpengaruh dengan dunia luar.


"Lili, di luar ruang dimensi ini sekarang jam berapa?" tanya Sakaru kepada Lili sambil tiduran.


"Di luar ruang dimensi ini seharusnya matahari sudah hampir tenggelam."


"Sore ya..." pikir Sakaru dalam benaknya.


Karena besok pagi ada seleksi yang menunggu Sakaru di arena depan sekte pedang merah, Sakaru sebagai murid elite tentunya harus memperkuat teknik pedang miliknya dan harus menjadi lebih kuat.


Sakaru mencoba kembali teknik-teknik yang sudah di pelajari sebelumnya dan mulai mempraktekkan nya dengan serius.


Karena Sakaru merasa dirinya sudah cukup mahir dalam menggunakan teknik-teknik tersebut, Sakaru mulai berpikir untuk mempelajari teknik lainnya yang di miliki oleh Lili.


"Lili, apa kamu punya gulungan teknik lainnya yang bisa ku pelajari?" tanya Sakaru dengan sedikit bersemangat.


"Ada tuan."


"Kalau begitu, keluarkan semua gulungan yang kamu punya." ucap Sakaru dengan menjulurkan kedua tangannya ke depan.


"Tuan yakin? Gulungan teknik yang ku miliki ada banyak sekali dan tidak mungkin tuan bisa mempelajarinya hanya dalam waktu singkat."


"Sudahlah, keluarkan saja. Mana,mana..."


Lili melaksanakan perintah tuannya. Sakaru terkejut karena ribuan gulungan teknik muncul di atas kepala Sakaru dan itu semua menimpa tubuh Sakaru.


"Lili, ambil semua kembali. Aku menarik perkataanku tadi." ucapnya yang tertimpa lebih dari ribuan gulungan teknik.


Lili mengambil kembali semua gulungan teknik yang di keluarkannya dari lautan spiritual miliknya. Sakaru akhirnya bisa bernafas lega dan mulai sekarang Sakaru menjadi lebih berhati-hati terhadap Lili.


"Kejam sekali dia itu. Tidak punya hati apa membuatku tertimpa lebih dari ribuan kertas." pikirnya dengan geram.


"Me-mang be-nar tu-an, a-ku ti-dak pu-nya ha-ti." ujar Lili memoncongkan bibir dan mengembungkan pipinya layaknya seorang anak kecil yang marah.

__ADS_1


"Sial..., aku lupa kalau dia bisa membaca pikiranku. Mulai sekarang aku akan menjaga pikiranku. Kosongkan pikiran..., kosongan pikiran..." pikir Sakaru dalam benaknya.


"..."


Karena Sakaru membutuhkan sebuah teknik untuk menyerang, ia menanyakan nya kepada Lili. Sakaru membutuhkan sebuah teknik menyerang yang sangat kuat, dan juga tidak membutuhkan jeda waktu untuk menggunakan nya.


Lili mengeluarkan gulungan teknik pukulan macan. Dengan waktu yang terbatas, Sakaru mencoba untuk mempelajari teknik pukulan macan dengan sesingkat mungkin.


Akhirnya, setelah beberapa jam menguasai teknik tersebut. Sakaru mencoba untuk menguji kekuatan dari teknik pukulan macan dengan menyerang beberapa pohon.


"Pukulan macan!" teriak Sakaru sembari memukul batang pohon besar.


Pohon yang di pukul Sakaru tumbang dan terpental jauh entah kemana. Karena Sakaru berpikir bahwa teknik ini sudah cukup untuknya, ia segera tertidur untuk seleksi arena pagi hari nanti.


Keesokan harinya di depan sekte pedang merah...


Arena tempat untuk menyeleksi dipenuhi oleh berbagai ras yang ingin mendaftar ke sekte itu. Disana sudah ada ke 10 murid elite lainnya duduk di sebelah timur arena beserta dengan tetua-tetua sekte pedang merah.


Karena masih terlalu pagi dan Sakaru mendapat nomor urut ke 600, Sakaru memutuskan untuk berkeliling kota mencari sarapan.


Sakaru membeli beberapa roti dan buah di dekat pasar. Sebelum seleksi, tentu saja harus mempersiapkan semuanya dengan baik dan dengan tubuh yang prima.



Dilarang menggunakan senjata dan perlengkapan apapun.


Jika diketahui melakukan kecurangan, akan langsung didiskualifikasi.


Diperbolehkan mengunakan teknik bela diri manapun.


Jika dalam 5 menit masih belum ada pemenang/pihak menyerah, keduanya akan di anggap gagal.


Murid berpotensi akan berkesempatan langsung menjadi murid pribadi dari para tetua.



Setelah membaca seluruh peraturan, itu semua sangatlah pas dengan Sakaru. Karena seleksi sebentar lagi akan di mulai, Sakaru menunggu di dekat gerbang sekte sembari memakan habis roti dan buah yang di belinya.


"Ho ho, anak muda kau datang kemari ya." kata kakek tua yang berada di tempat pendaftaran kemarin menghampiri Sakaru.

__ADS_1


"Kakek yang kemarin ya." jawab Sakaru sembari menelan habis roti yang di makannya.


"Jangan panggil aku kakek, panggil saja aku tetua Rong."


"Tetua Rong ya. Baiklah, aku akan memanggil kakek dengan sebutan itu." ucap Sakaru mengiyakan kakek itu.


"Seleksi sebentar lagi akan dimulai. Kamu sebaiknya bersiap dan melakukan yang terbaik. Tahun lalu, hanya 10% dari mereka yang dapat masuk ke dalam sekte pedang merah ini." ujarnya sembari pergi ke arena.


"Baiklah, perkataan tetua Rong akan ku ingat." ucap Sakaru dengan memberi hormat.


Seleksi untuk masuk ke dalam sekte pedang merah akhirnya di mulai. Seluruh pendaftar juga berkumpul untuk menyaksikan seleksi di sana. Karena Sakaru mendapatkan nomor 600, pikirnya ia akan menjadi pendaftar paling terakhir yang maju ke arena. Ia pun dengan santai nya pergi untuk berkeliling kota sembari menunggu gilirannya tiba.


3 jam telah berlalu, Sakaru kembali ke arena itu. Suasana terlihat sangat tegang, dan kedua tetua terlihat memperebutkan salah satu pendaftar yang kelihatannya berbakat.


"Tetua Rong, sudah biar aku saja yang menjadi gurunya." ucap tetua lainnya.


"Tidak, aku saja. Jika anak ini menjadi muridmu, kemampuannya akan menjadi sia-sia."


Kedua tetua itu tidak saling mengalah dan terus memperebutkan anak itu. Hingga akhirnya, muncul kepala sekte pedang merah ke hadapan mereka berdua.


Kedua tetua itu pun spontan memberikan hormat kepada kepala sekte. Setelah kepala sekte setelah mendengar penjelasan dari tetua Rong.


"Benarkah dengan yang tetua Rong katakan? Kalau begitu, nak coba pukul aku dengan teknik yang di katakan tetua Rong tadi."


"Baik."


Orang itu mengumpulkan energi alam yang berada di sekitar arena itu lalu melepaskannya ke arah Sao Fang.


"Bammmmnnnnngggg..."


Tekanan dari serangan orang itu membuat seluruh arena bergetar, dan dapat membuat kepala sekte Sao Fang berhasil terpukul mundur.


"Ha ha ha. Kalau begitu... kamu, bagaimana menjadi muridku saja." ucap Sao Fang sembari menunjuk orang itu.


"Baik." ucap anak itu spontan memberikan hormat kepada kepala sekte.


Ke 2 tetua sekte itu tidak dapat berkata apa-apa lagi. Seleksi masih terus berlanjut dan belum ada murid berbakat lainnya yang muncul hingga detik ini.


Karena Sakaru masih belum terpanggil juga, ia menyaksikan seluruh kekuatan dari para pendaftar lainnya di pojok arena untuk mengukur kekuatan miliknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2