
Area 2 telah terbuka karena tingkat kultivasi Sakaru telah mencapai murid tingkat 1. Di lihat dari area nya, area ke 2 sepertinya memiliki lebih banyak bahan-bahan langka untuk para kultivator. Seolah-olah ruang dimensi ini memang sengaja di buat untuk meningkatkan tingkat kultivasi para kultivator yang berada di dalamnya.
Sakaru yang baru saja melangkah masuk ke dalam area 2 mulai merasakan energi yang sangat banyak tersebar di seluruh area 2. Sakaru bisa menyadari bahwa energi yang tersebar itu bukanlah energi sihir, melainkan energi lain yang sangat kuat.
"Energi apa ini? Apakah ini mana?" pikirnya sambil berhenti melangkah maju.
"Benar Tuan, energi yang tuan rasakan sekarang adalah energi mana. Tekanan kultivasi di area ini juga berkurang setengahnya." jawab Lili kepada Sakaru.
"Begitu ya."
Sakaru melihat ke arah sekitar dan melihat 1 tanaman aneh bercahaya berwarna ungu di bawah batu besar. Karena Sakaru penasaran akan tanaman itu, dia langsung saja mencabut tanaman itu tanpa pikir panjang.
"Tanaman apa ini? Ini terlihat seperti tanaman bayam berwarna ungu." gumam nya sembari memegang tekstur dari tanaman itu.
"Itu adalah tanaman dasar untuk membuat racun dengan gejala ringan."
"Apa, racun!??" ucapnya spontan sembari melempar tanaman itu jauh-jauh.
"Tenang saja tuan, tanaman itu bukanlah racun yang sebenarnya. Harus melalui proses yang panjang agar bisa membuat racun dari tanaman itu."
"Mengagetkan ku saja." ujarnya bernafas lega.
Sakaru melanjutkan perjalanan nya untuk mencari harta karun tersembunyi. Setelah berjalan menyusuri hutan itu cukup lama, perut Sakaru mulai keroncongan.
"Aku lapar sekali, apakah di sekitar sini ada tanaman yang dapat ku makan?" gumam nya sembari memegang perutnya yang terus saja berbunyi.
Sakaru mengelilingi area itu dan melihat sebuah sungai yang mengalir begitu deras entah kemana. Karena Sakaru berpikir di dalam sungai itu mungkin saja ada ikan yang dapat dia makan, ia bergegas pergi ke sana untuk mengeceknya.
"Sudah kuduga, ada banyak sekali ikan di sini." ucap nya senang ketika ia melihat ada beberapa jenis ikan yang berenang di sungai itu.
Dengan cepat, Sakaru menggunakan teknik teratai es untuk membekukan ujung dari sungai itu. Ikan-ikan yang berada di sana otomatis tergeletak, dan Sakaru langsung mengumpulkan semua ikan itu lalu membakarnya.
"Aku tidak tahu jenis ikan apa ini. Tetapi dari bau harumnya, sepertinya ini akan menjadi santapan ternikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya." ujarnya sembari memutar balikan ikan yang di bakar nya.
Setelah ikan yang di bakar Sakaru matang dengan pas, Sakaru langsung melahap habis ikan-ikan yang telah di bakar nya tadi. Lalu melanjutkan perjalanan nya lagi untuk mencari harta karun.
Karena Sakaru tidak kunjung menemukan harta karun, ia memutuskan untuk meningkatkan tingkatan kultivasi agar menjadi lebih kuat lagi.
[Berhasil menembus tingkatan kultivasi murid tingkat 2]
__ADS_1
"Fiuh... Tekanan nya menjadi lebih besar walaupun sudah di redam setengahnya." ujarnya terengah-engah.
"Sakaru, apa yang kamu lakukan di sini?" teriak Yua Lai dari arah belakang.
Sakaru melirik ke arah Yua Lai, "Senior Yua Lai ya. Aku sedang berkultivasi di sini."
"Hmm... Kulihat kamu sekarang sudah mencapai tingkatan kultivasi murid tingkat 2 ya. Cepat sekali, bahkan aku saja memerlukan waktu 1 bulan untuk menembus ke tingkatan itu dulu." ucapnya sedikit iri dengan Sakaru.
"Dulu? Memangnya, senior Yua Lai sekarang berada di tingkat apa?" tanya Sakaru penasaran.
"Aku sekarang berada di master tingkat 3 dan tadi hampir saja berhasil menembus ke tingkatan selanjutnya . Sayangnya, aku selalu gagal saat tekanan terakhir, energi inti ku selalu saja habis sebelum itu." ucapnya dengan nada kesal.
"O-oh... Kalau begitu, semangat ya hehehe..."
"Iya juga, bagaimana kalau kamu berlatih pedang denganku? Aku juga ingin mengukur seberapa hebat kekuatanmu dalam seni berpedang."
"Berlatih dengan senior? Boleh juga. Kalau begitu, dimana kita akan berlatih?" tanya Sakaru kepada Yua Lai.
Yua Lai mundur beberapa langkah ke belakang, lalu mengeluarkan sebilah pedang.
"Bagaimana kalau di sini saja?" ujarnya dari kejauhan.
Sakaru mengeluarkan pedang dan mulai mengacungkan pedang ke arah Yua Lai.
"Ehh... Ada apa?"
"Kuda-kuda mu itu rapuh sekali, seperti amatiran saja." ujarnya sembari memperbaiki kuda-kuda Sakaru.
"Nah... coba pertahankan kuda-kuda mu itu."
"Begini ya." ucap Sakaru sambil mempertahankan kuda-kuda nya.
"Nah, sesudah itu coba ayunkan pedangmu ke depan."
"Mengayunkan nya?" pikirnya sedikit bingung.
Sakaru mencoba untuk melakukan seluruh perkataan yang di katakan oleh Yua Lai. Setelah beberapa menit mencoba menyeimbangkan kuda-kuda, akhirnya Sakaru berhasil mempertahankan kuda-kudanya sembari mengayunkan pedang.
"Wah... Perkembangan mu cepat sekali. Kamu..., memang murid jenius yang di pilih oleh guru." ucap Yua Lai memuji Sakaru.
__ADS_1
"Hehe. Ini biasa saja kok. Senior Yua Lai lah yang membuatku mudah mengerti."
Wajah Yua Lai sedikit memerah, "Ti-tidak kok. Kalau begitu, seranglah aku dengan sekuat tenaga."
"Bersiaplah..., aku akan menyerang."
"Swossh... Cling..."
Sakaru melesat ke arah Yua Lai namun dengan mudah di tangkis oleh nya.
"Serangan yang unik langsung menerjang ke arah depan. Tapi...."
Yua Lai juga menyerang Sakaru menggunakan teknik barunya, alhasil Sakaru terpental karena tidak dapat menahan serangan yang Yua Lai lancarkan.
"Bruk..."
"A-aaduh... Kuat sekali, serangan apa itu tadi sebenarnya?" ucap Sakaru yang terjatuh berusaha untuk berdiri.
"Itu adalah teknik yang di ajarkan guru, namanya adalah teknik jiwa pedang. Dengan menggunakan teknik ini, kekuatan pedangku meningkat berkali-kali lipat dari serangan biasa."
"Ehh... Jiwa pedang ya... Jadi, jiwa pedang apa yang senior miliki?" tanya Sakaru penasaran.
"Jiwa pedang yang ku miliki adalah jiwa pedang serigala api. Bahkan hanya sedikit orang yang memilikinya loh." ucapnya dengan menyombongkan diri.
"Oh begitu ya..."
"Kalau tidak salah jiwa pedang yang ku miliki adalah Jiwa pedang naga suci. Apa jiwa pedang milikku lebih kuat darinya ya?" pikir Sakaru dalam benaknya.
"Ngomong-ngomong, dimana guru sekarang?" tanya Sakaru kepada Yua Lai.
"Guru? Oh iya juga, tadi dia bilang akan pergi ke luar gua sebentar untuk mengurus beberapa urusan kecil."
"Jadi, apa yang biasa senior lakukan selama menunggu guru pergi?"
"Aku hanya berjalan di sekitar area 1 sembari menikmati pemandangan di sekitarnya." jawab Yua Lai.
"Kalau begitu, aku juga akan berlatih lebih lama lagi tentang teknik berpedang." ujarnya sembari melakukan instruksi yang di katakan Yua Lai sebelumnya.
"Kalau begitu lakukanlah. Aku akan pergi ke area 3 untuk mencari beberapa bahan langka untuk di jual ke rumah pelelangan." ujarnya melesat pergi meninggalkan Sakaru.
__ADS_1
"Yasudah, aku juga akan berlatih mempertajam teknik berpedangku."
Sakaru melatih kakinya agar kuat dan menyempurnakan kuda-kudanya. Setelah itu, Sakaru juga mencoba untuk berkultivasi agar bisa memasuki area lainnya untuk mencari harta berharga.