
"Kalian bergosip di saat bekerja?" tanya Akhmar yang berdiri di depan meja Safia.
Safia tertegun, rasanya seperti ketahuan.
"Kamu!" Akhmar menunjuk Safia yang langsung mengangkat kepala sambil menggerakkan badan ke arah Akhmar. "Saya menyuruhmu untuk mempersiapkan laporan, bukan bergosip. Apa topiknya terlalu menyenangkan sampai membuatmu terlena?" Akhmar bertanya lagi.
Maria menelan ludah. Mode serius Akhmar cukup menakutkan, bahkan beberapa karyawan di sana seperti menciut. Tidak bisa melawan.
Safia menggigit bibir bawah, bimbang juga. "Ma-maaf, Pak." Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Safia, jangan sampai Akhmar merembet ke berbagai arah.
Akhmar menatap Safia lekat dan berkata, "Saya tidak suka dengan orang yang tidak profesional. Ini jam kerja, itu artinya semua harus fokus bekerja! Apa kalian paham semuanya?"
"Paham, Pak." Semua orang di sana menjawab serentak. Di balik ketampanan Akhmar, ada sifat tegas dan tidak main-main dari lelaki itu.
__ADS_1
Akhmar menghela napas kasar, jangan sampai keterlaluan. "Saya minta laporan di majukan. Jam dua siang ini, harus segera selesai!"
Safia terkejut. Ini tidak bisa dibiarkan. Keberaniannya mendadak datang, entah dari arah mana. Ia berdiri, menatap balik Akhmar. "Maaf, Pak, kalau saya lancang." Perempuan itu berdiri dengan kedua kaki tegak.
Tangan Maria menarik jemari kanan Safia, meminta temannya untuk turun. "Fia, udah!" Suaranya sedikit pelan, berharap temannya itu mendengar.
Safia bertekad, tidak gentar sama sekali. Disaksikan banyak semua tim keuangan, perempuan itu memprotes. "Tapi, saya rasa Pak Akhmar itu terlalu menekan bawahan, terlebih saya. Sudah dikatakan kalau deadlinenya itu pukul lima sore, lalu dengan entengnya bapak memajukan jam deadline. Apa itu wajar?"
Akhmar diam. Bukan tidak bisa melawan, tetapi membiarkan perempuan yang tingginya hanya sedagunya saja itu mengeluarkan unek-unek dalam hati.
Dada Safia naik turun menahan lonjakan emosi karena perkataan Akhmar. "Saya menghormati Pak Akhmar sebagai manajer baru, tapi seharusnya Bapak juga sedikit memberikan kelonggaran pada kami. Ini bukan soal disiplin saja, tapi juga kemampuan kami."
Akhmar masih saja diam, melihat ke sekeliling. Tidak ada yang bergerak, semuanya mematung. Bahkan suara sekecil pun, tidak terdengar oleh daun telinganya. Kembali menatap Safia seraya berkata, "Berapa lama waktu yang kamu habiskan untuk mengobrol?" Bukannya menjawab, Akhmar justru mengajukan pertanyaan.
__ADS_1
Safia mengerutkan kening. Tidak menghitung. "Apa saya harus memberitahu?"
"Jelas!" Akhmar tegas.
Safia sempat tersentak, tetapi gadis itu berdiri kembali dengan tegak.
"Saat bekerja kita dituntut untuk profesional juga berpacu dengan waktu, tapi beda ceritanya kalau memang sedang waktu istirahat. Kamu dan yang lainnya, termasuk saya, boleh berbincang-bincang sepuasnya. Apa kamu tidak memahami kalau satu menit itu bagi perusahaan adalah hal yang sangat berharga?" tanya Akhmar lagi.
Safia bergeming sebentar. Sorot mata Akhmar memancarkan kepribadian yang berbeda seperti yang beredar di kalangan karyawan perempuan. Dilihat dari segi mana pun, Akhmar tidak memiliki sifat kelembutan. Maka dari itu, sangat disayangkan jika ada yang bermimpi bisa berdekatan dengan Akhmar. Safia sendiri jelas tidak mau.
"Saya tau!" Safia menjawab cepat.
Sudut bibir Akhmar terangkat ke atas membentuk senyuman. "Syukurlah, itu artinya kamu bisa tau berapa kerugiaan perusahaan saat kamu mengobrol tadi. Jadi, saya tidak salah untuk memajukan waktu deadline. Hitung saja itu dipotong dengan kerugiaan yang perusahan tanggung. Simple bukan?" Sekali lagi Akhmar tersenyum kecil, tetapi bagi Safia itu menakutkan sekaligus menjengkelkan. "Kalau seperti itu, saya tunggu laporannya jam dua siang. Silakan bekerja kembali semuanya." Akhmar berbalik badan, meregangkan dasi dan berjalan ke arah ruangan berdinding kaca itu.
__ADS_1
Safia melongo. Ia kalah berdebat dengan Akhmar, kini justru menyisakan kekesalan yang semakin dalam. "Astagfirullah, manajer satu itu." Safia memijat kening, sakit sekali.