
Setelah kejadian itu, Safia sendiri tidak ingin hanyut dalam hal apa pun. Setiap bulan ada yang namanya akhir bulan. Di mana tim keuangan pasti sangat sibuk untuk mengurus berbagai persiapan, termasuk memastikan semua keuangan perusahan benar-benar tersalurkan dengan baik.
Faiz tak lagi mengganggu Safia. Syukurlah. Safia pun lebih tenang dalam memperbaiki diri. Seperti siang ini, Maria mengajak Safia untuk makan malam bersama tim keuangan. Awalnya sempat ragu. Namun, Lily yang juga ikut campur meyakinkan Safia. "Kita mau makan barbeque, lho. Mumpung ada jatah dari kantor," katanya seolah menggoda Safia.
Pada akhirnya pertahanan Safia runtuh. Perempuan itu menyetujui undangan makan malam bersama tim, tetapi sebelum itu. Safia memastikan satu hal.
"Ini yang makan malam cuma tim aja, kan? Pak Akhmar nggak ikut?" tanya Safia pada Lily yang kini berdiri di depan meja.
Maria melirik Lily dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Nggak. Katanya sih ada halangan pas si Doni tanya," jawab Lily.
Hati Safia lega. Dengan itu, ia tak perlu canggung. Entah mengapa dirinya tidak ingin terlibat lebih dari pekerjaan dengan Akhmar sekarang. Dikatakan kecewa, seharusnya tidak. Sebab, apa pun yang menjadi keputusan Akhmar itu tidak ada hubungannya dengan Safia.
"Kamu kecewa, ya?" Maria melirik Safia. "Cie, yang pengennya makan malam bareng Pak Akhmar."
Lily diam.
"Apaan, sih, Mar." Safia merasa risih. Justru saat ini dirinya senang. Tidak perlu menghadapi Akhmar di tempat lain. "Aku cuma memastikan doang. Lagian kalau boleh jujur, aku lebih senang kalau Pak Akhmar nggak datang. Kita kan jadi nggak canggung."
__ADS_1
Maria berpikir sejenak, kemudian berkata, "Benar juga."
"Soalnya kalau Pak Akhmar ikut, kita nggak bisa gosipin dia juga." Lily terkekeh geli. Salah seorang teman kerja mereka menegur. Lily tak takut, sambil menoleh ke arah temannya itu. Lily menjawab. "Jangan ikutan, deh! Kamu itu nggak diajak."
Maria ikut tertawa. Lily memang terkenal jutek jika sedang kesal atau serius, tetapi wanita muda itu bisa menakutkan jika dalam keadaan marah. "Benar juga apa kata Lily. Kalau di sini kan kita nggak bebas juga gosipin Pak Akhmar. Kalau di tempat lain, beda lagi dong." Maria melirik Lily.
"Astagfirullah, kalian ini." Safia tak ingin ikut campur.
Percakapan mereka berakhir karena adzan Dzuhur berkumandang. Dengan artian, waktu istirahat pun tiba. Hampir semua orang menghentikan kegiatannya dan bergegas turun ke lantai bawah menuju kantin. Adapula yang berniat makan siang di luar, itu hak masing-masing.
Safia sendiri masih bergelut dengan komputer sejenak ketika Maria mengajaknya ke mushola. "Sebentar, ini aku mau klik salin dulu. Kamu duluan aja."
Safia masih di meja. Berkas ini harus segera dilaporkan ke Akhmar. Oleh sebab itu, ia perlu melakukannya secepat mungkin.
"Akhirnya selesai. Aku sholat dulu aja." Safia meregangkan kedua tangan sambil berdiri. Tak lupa mematikan komputer lebih dahulu. Menyambar mukena traveling yang selalu ada di laci meja untuk menghindari fase menunggu terlalu lama di mushola. Mengingat karyawan muslimah di perusahaan ini cukup banyak. Dengan begitu, semua yang akan shalat harus mengantre mukena. Cara satu-satunya hanyalah membawa alat shalat sendiri.
Safia baru melangkah dua kali ke depan ketika Akhmar juga keluar dari ruangan. Tatapan mereka bertemu. Safia langsung menunduk.
"Kamu belum turun?" tanya Akhmar sebagai bentuk basa-basi.
__ADS_1
"Saya baru saja menyelesaikan berkas, Pak." Safia menjawab sesuai pertanyaan.
Baik Akhmar ataupun Safia tidak bergerak lagi sekitar dua menit. Keadaan menjadi hening, memberikan ketenangan sejenak.
Safia lebih dahulu sadar. Ini tidak baik. "Kalau begitu, saya permisi." Secepat mungkin Safia mengambil langkah. Berbelok ke kanan menuju lift.
Akhmar menatap punggung Safia. Merasakan aura beda dari perempuan itu. "Berkas laporan keuangan mingguan harus segera di tangan saya tepat pukul satu siang ini. Apa kamu sudah menyelesaikannya?"
Langkah Safia langsung terhenti. Selalu saja begini.
"Kamu tau kalau saya tidak suka sesuatu yang telat," tambah Akhmar.
Safia mengangkat kepala dan menghela napas kasar. Ada saja topik yang harus dibahas ketika mereka bertemu. "Seperti minggu biasanya, saya pastikan ada di tangan Pak Akhmar lima menit dari deadline. Tenang saja."
Akhmar mengambil langkah ke depan dua kali. Berhenti, lalu berkata, "Tapi, sayangnya kamu melakukan kesalahan di laporan minggu kemarin. Nominalnya selisih lumayan."
Kedua pupil mata Safia membesar. Apa ini? Seingatnya semua dilakukan dengan benar.
"Saya berpura-pura tidak tau dan membenarkannya sendiri karena melihat kamu percaya diri." Akhmar mengambil langkah lagi. Sekarang pria itu ada di depan Safia. Otomatis Safia bisa melihat punggungnya. "Padahal saya ingin tenang, tapi kamu itu terlalu ceroboh. Tolong jangan diulangi lagi, ya."
__ADS_1
Safia tertegun tatkala melihat Akhmar melangkah lebih jauh darinya. Lelaki itu bertindak seolah dirinya butuh perlindungan. "Istighfar, Fia. Pak Akhmar itu manusia. Kalau hantu, udah pasti aku usir pakai ayat Kursi."