
Akhmar memeluk lelaki muda itu tanpa peduli dengan tatapan Safia sekarang.
"Padahal aku bilang akan berangkat lebih awal, maaf," kata lelaki muda tersebut.
Safia menelan ludah. Lupa akan tujuannya datang ke sini.
Akhmar melepaskan pelukan. "Aku sudah bilang kalau tidak perlu khawatir. Aku di sini pun bersama keluarga."
"Aku bisa gila kalau terus memikirkanmu."
"Jangan bilang seperti itu. Apa kamu tau akan ada orang yang salah paham?"
Safia melongo. Pendengarannya tidak salah. Begitu santai Akhmar berbicara dengan lelaki tersebut. "Pak Akhmar, ini tidak benar, kan?" Lagi-lagi mulut Safia berbicara sembarangan.
Akhmar dan lelaki muda itu seketika menoleh ke belakang, tepatnya pada Safia.
"Siapa dia?" Telunjuk kanan lelaki itu menuding Safia.
Akhmar terdiam sejenak, lalu berkata, "Apanya yang tidak benar? Apa kamu terbiasa berbicara dengan tidak jelas?" Akhmar menatap Safia.
Safia menelan ludah. Kali ini otaknya berfungsi dengan baik, menyaring lebih dahulu kata-kata yang akan keluar dari mulut. "Eh, maksudnya itu …" Safia bingung. Jika langsung mengatakan isi hatinya, pasti disangka menuduh. Namun, jika diam saja, hanya akan menjadi prasangka buruk juga. Sungguh membingungkan.
"Kamu baru di sini seminggu sudah pindah ke lain hati? Jahat sekali!" Lelaki muda itu melirik sinis Akhmar. Jelas saja reaksi ini semakin memperkuat prasangka Safia. "Padahal aku setia."
Akhmar menggelengkan kepala. "Jangan berbicara aneh. Sebaiknya kita segera masuk. Ibu, tidak bisa ikut. Tiket ini aku buang saja." Akhmar hendak menyobek satu tiket.
__ADS_1
"Jangan!" Lelaki itu berteriak, menarik perhatian beberapa pengunjung. Ekor matanya melirik Safia. "Aku sudah bilang kalau sesuatu itu jangan dibuang sembarangan, sakit!" Lelaki itu memegang dada kanan dengan ekspresi seperti kesakitan. "Berikan saja ke dia!" Menunjuk Safia.
Safia kaget. "Kenapa aku?" Bertanya tanpa ragu.
"Karena sepertinya kamu juga mau menonton film yang sama. Lagian, lihat saja loker di depan sudah memasang tulisan kalau tiket habis," jawab lelaki muda itu.
Kepala Safia langsung menoleh ke arah loket. Benar saja. Ini semua karena terlalu fokus pada Akhmar. Sebenarnya bukan sepenuhnya salah Akhmar karena memang itu juga terjadi atas rasa penasaran Safia. Sekarang, lenyap sudah keinginannya untuk menonton film bergenre action yang baru saja launching beberapa minggu lalu. "Padahal aku pengen nonton."
Lelaki muda itu berjalan ke depan, berdiri di samping Safia. Kemudian, berkata, "Jadi, kamu mau ambil penawaran menarik ini atau tidak?" Dua sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk senyuman kecil. "Kesempatan menarik tidak datang dua kali, lho."
Safia terdiam. Berpikir keras. Penasaran itu memang menarik, tetapi membayangkan satu deretan dengan Akmar saja sudah menakutkan. Setidaknya Safia harus bisa bernapas bebas ketika jam kerja berakhir, salah satunya tidak bersama dan melihat Akhmar. Penyebab utama kemarahannya selalu memuncak.
Akhmar ikut melangkahkan kaki ke depan, melewati Safia dan lelaki muda itu. "Sudahlah, jangan meminta seseorang untuk bersama kita." Dengan enteng Akhmar mengatakan itu sambil berjalan ke depan.
"Sayang sekali tiketnya, kan?" Lelaki itu mengekor di belakang Akhmar. Siapa pun yang melihat, sudah pasti yakin jika keduanya memang memiliki hubungan sangat dekat. Bahkan terlalu dekat. "Kamu takut aku cemburu, ya?" Lelaki itu mengejek Akhmar.
Safia memperhatikan Akhmar. Kertas tiket itu akan segera di sobek dan terbuang begitu saja. Itu artinya, satu orang akan kehilangan kesempatan menonton film tersebut malam ini. Tidak!
"Tunggu, Pak Akhmar!" Safia memberanikan diri berteriak. Langkah Akhmar dengan lelaki itu pun terhenti. Perempuan itu menelan ludah dengan keringat dingin terasa keluar tanpa diminta. Padahal hanya berbicara saja, bukan hendak berperang.
"Kamu mau tiket ini?" tanya Akhmar sambil mengacungkan tiket di tangan.
Safia bergeming. Mulutnya kaku.
"Cepatlah! Saya dan Gani sudah menunggu waktu berharga ini!" Akhmar kembali berjalan.
__ADS_1
Safia tertegun. Rupanya lelaki itu bernama Gani. Sebelum berjalan lagi, Gani sempat mengukir senyum manis padanya. Sekali, tetapi mempesona. Kemudian, dengan cepat Gani kembali berjalan bersama Akhmar menuju pintu bioskop.
Safia menghela napas kasar. Situasi macam apa ini? Rasanya susah untuk dimengerti. "Aku jatuhnya suudzon, tapi lihat mereka tadi justru menggiring opiniku semakin kuat. Astagfirullah, sadar Safia!"
Dengan cepat Safia menghampiri Akhmar dan Gani. Kesempatan ini jangan sampai dilewatkan. Terlebih, ia sudah jauh-jauh ke gedung tinggi ini. Tidak mungkin juga pergi lagi.
Singkat cerita mereka sudah ada di dalam bioskop. Safia duduk tepat di sebelah kanan Akhmar dan Gani ada di sebelah kiri Akhmar. Sedari tadi Gani terus saja mengajak berbicara pelan Akhmar. Mereka terlihat bukan seperti teman dekat, tetapi pasangan kekasih. Melihat Gani yang begitu cerewet dan Akhmar yang sabar menjawab. Berhasil membuat Safia merasa iri dan terus berpikiran aneh.
"Kamu yakin tidak mau pindah lagi ke sana?" tanya Gani yang belum menerima kepindahan Akhmar.
"Aku tidak bisa menolak. Ini tugas dari atasan," jawab Akhmar.
Safia cukup mendengarkan. Mungkin untuk orang yang ada di depan atau belakang, tidak bisa mendengar dengan baik. Akan tetapi, untuk orang yang dekat seperti Safia dan deretan bangku yang sama, sudah pasti bisa mendengar.
"Kamu bukannya bisa meminta orang lain yang dialihkan. Aku kesepian di sana." Gani seperti seorang kekasih yang tengah merajuk.
"Jangan berbicara aneh. Lebih baik fokus menonton." Akhmar melirik Safia sebentar, kemudian fokus lagi ke depan. Ingat perkataan sang ibu ketika harus pergi menemui Gani karena sudah janji. Rasanya akan sulit menepati keinginan ibunya. Mungkin bukan sulit, hanya saja belum bisa dipastikan. Lebih tepatnya, ini perihal pilihan dan juga hati.
Safia mulai berkeringat dingin. Film di depannya lumayan menegangkan, tetapi perbincangan Akhmar dengan Gani lebih menegangkan. Berperang dengan pemikiran sendiri itu menguras emosi dan tenaga. Terlebih tenggorakan Safia mulai kering, ia pun lupa membawa botol minum. Habis sudah. Demi bisa menonton film, ia bahkan rela berada di kondisi yang tidak bisa dipahami ini.
"Aku berharap ini cuma mimpi." Safia memijat kening. Sakit juga.
***
Maria cemas. Ia yang sedang menikmati waktu dengan keluarganya di sebuah wisata alam di kota sebelah pun tidak bisa menghubungi Safia semalam. "Dia kebiasaan kalau udah lupa sama HP. Padahal ini info penting banget!" Maria lelah.
__ADS_1
"Kakak!" Seorang anak lelaki berusia lima tahun berteriak. "Cepat ke sini! Kata Ibu, kita mau ambil foto keluarga."
"Iya, sebentar! Umur udah mau dua puluh lima tahun, tapi masih aja piknik keluarga. Astagfirullah, pengen juga kencan sama pacar." Maria pasrah. Kembali menyimpan ponsel di tas kecil. lupakan tentang Safia, barangkali wanita itu sedang menikmati waktu sendirinya.