
Weekend datang bersamaan dengan keremukan badan Safia. Gadis itu tak ingin beranjak dari kasur sebentar pun. Bahkan, jika bisa semua hal dilakukan di atas kasur saja.
"Aku harus ikut kajian. Kemarin ada info kalau sabtu sore," ujar Safia sambil merebahkan badan di kasur.
Arloji di tangannya masih pukul sepuluh pagi. Sangat lama untuk bisa ke sore. Ingin keluar, tetapi malas. Tidak keluar, rasanya suntuk. Dua hal yang membingungkan.
Safia meraih ponsel. Sejak semalam, grup online yang dibuat untuk perusahaan begitu ramai. Namun, Safia sama sekali tidak mengintip. Lelah jika harus memanjat pesan terlalu banyak. "Banyak banget pesannya. Mereka lagi ngomongin apaan, sih?" Safia penasaran. Hanya saja, tidak ingin memberikan pekerjaan keras untuk jari jemarinya.
Pada akhirnya Safia melewatkan hal itu. Ia sibuk membaca buku novel dari salah satu penulis yang paling digemari. Gadis itu pun sesekali melirik ponsel yang terus saja berbunyi. Sebagai seorang karyawan perusahaan, Safia merasa lelah dengan segala aktivitas. Terutama, memegang alat komunikasi seperti laptop dan ponsel. Oleh sebab itu, ia terkadang lebih suka menyimpan kedua benda itu ketika weekend dan menikmati waktunya dengan membaca buku.
"Mereka kadang lebih suka bergosip lewat grup dibandingkan langsung bertemu. Mungkin karena di sana banyak orang." Safia menebak sendiri. Sekali pun dirinya juga terkadang ikut andil ketika ada topik yang memang lumayan hangat dan darurat. Namun, Safia menyesali akan hal itu.
Safia membiarkan ponsel berbunyi terus menerus sampai masuk waktu Dzuhur. Gadis itu langsung mengambil wudu dan salat, tidak lupa juga mandi karena sejak pagi hanya tiduran saja. Setelah salat, Safia membaca Al-Quran. Menenangkan jiwa dari berbagai tekanan pekerjaan dan dunia. Usai semuanya berakhir, wanita itu bersiap ke luar rumah. Mungkin dengan menonton film bisa membuat otaknya sedikit fresh.
"Aku siap." Safia mengamati pantulan diri di cermin setelah memakai pashmina berwarna biru muda dengan motif bunga tulip serta gamis berwarna coklat muda. "Katanya ada film baru, aku harus nonton."
Safia menyambar tas selempang. Tak lupa memasukkan ponsel, dompet dan perlengkapan salat traveling juga make up kecil.
Singkat cerita, Safia sudah siap di luar rumah. Kali ini dirinya harus berjalan sebentar ke arah kanan untuk bisa sampai ke halte bus. Ini semua dilakukan untuk menghemat pengeluaran bensin yang lumayan cukup menguras kantong bulan ini, sedangkan untuk ongkos halte bus setelah dihitung-hitung tidak lebih dari dua belas ribu rupiah. Cukup menghemat karena Safia hanya memiliki satu tujuan saja.
__ADS_1
Begitu sampai di halte bus, keadaan di sana cukup ramai. Banyak orang yang mungkin memiliki tujuan yang sama dengannya yaitu mencari hiburan di tengah kepadatan bekerja. Ada yang hendak pergi ke rumah keluarga, teman, atau mungkin berjalan-jalan. Pada hakikatnya semua orang berhak melakukan apa pun, asalkan masih dalam batas wajar.
Bus datang, semua orang di sana naik satu persatu, begitu pun dengan Safia. Perempuan berhijab itu memilih duduk di bangku pojok kanan belakang. Memandangi jalanan yang panasnya cetar membahana cukup lumayan memberikan pengalaman sendiri. Ya, sekali pun tidak dipungkiri rasanya tidak enak juga.
Bus berjalan sesuai rute. Dari banyaknya penumpang, yang tersisa hanya tiga orang saja. Tak ada yang naik lagi. Heran juga.
Sampailah bus di halte tujuan Safia, ia bergegas turun. Sebab, film yang diincarnya akan mulai sekitar setengah jam lagi. Belum lagi antre membeli tiket, cukup melelahkan.
Di antara deretan gedung tinggi, Safia berjalan dan memasuki salah satunya. Keramaian di pusat perbelanjaan ini lebih banyak dibandingkan saat di halte bus. Weekend memang banyak digunakan orang untuk menikmati waktu bersama pasangan dan keluarga. Itu pun berlaku jika memiliki dua hal tersebut. Jika seperti anak perantauan, jelas saja hanya ada teman. Dengan catatan, jika memiliki teman juga. Menyedihkan.
Safia tidak ingin membuang waktu, langsung naik ke lantai empat. Di mana bioskop paling lengkap dan besar ada di mall tersebut.
Safia berdiam diri, memperhatikan beberapa pengunjung yang sedang berkerumun. Menunggu temannya mengantre. Ingin pulang. Namun, sayang ongkos. Tidak mungkin menyerah begitu saja ketika sudah ada di depan mata.
Safia memegang tali depan tas selempang sambil terus memperhatikan antrean. Meyakinkan diri dan akhirnya mengayunkan kaki kanan ke depan. Baru sekali melangkah, ia justru tertabrak seseorang. "Astagfirullah!" Safia kaget. Orang yang menabraknya ikut kaget. Kepala Safia mengangkat ke atas, terlalu tinggi orang itu. Kedua mata Safia membesar, ini tidak mungkin. "Pak Akhmar!"
Rupanya Akhmar yang menabrak. Entah akan pergi ke mana lelaki itu.
"Bapak di sini juga?" Suara Safia sedikit kencang, sehingga menarik perhatian orang-orang.
__ADS_1
"Kamu bisa berbicara dengan suara pelan? Saya merasa orang sekitar melihat kita." Akhmar cukup malu dengan suara cempreng Safia.
Safia menelan ludah. Ini bukan jam kantor. Itu artinya, ia bukan bawahan Akhmar dan berhak berbicara apa pun, selama itu tidak menyimpang. "Itu hak mereka untuk lihat siapa pun. Lagian, Pak Akhmar juga kenapa melihat jalan?" Sekali pun hari biasa, Safia tidak bisa berbicara santai. Mengingat Akhmar ini terbiasa dengan kalimat yang formal. Entah karena pembawaan atau memang sudah terbiasa, Safia juga tidak ingin tahu.
"Saya minta maaf untuk itu," kata Akhmar dengan kedua matanya memperhatikan sekitar. Seperti sedang mencari seseorang.
Safia ikut mengamati sekitar juga, tak ada yang aneh. "Pak Akhmar sedang cari siapa?"
Akhmar diam.
Safia mengerutkan kening. Entah mengapa pemikirannya hanya terfokus pada Akhmar, padahal niatnya sekarang hendak pergi ke antrean kasir. "Seharusnya Pak Akhmar itu menjawab kalau ditanya orang lain!" Safia mulai kesal.
Mata Akhmar masih melihat sekitar sambil memegang dua tiket yang sudah di pesannya lewat online.
Safia memperhatikan Akhmar. Pertama kalinya, Safia melihat manajer barunya itu memakai baju tanpa setelan kantor. Lelaki tersebut memakai celana jeans hitam panjang dengan baju kaos berwarna abu muda yang dipadukan bersama jaket jeans berwarna hitam juga. Akhmar tampak jauh lebih muda dan kharismanya bertambah-tambah.
"Saya sedang mencari seseorang dan itu sesuatu yang bukan ranahmu untuk tau." Akhmar menjawab dengan singkat.
Kalimat ini menyinggung hati Safia, walaupun memang benar adanya. Di sini, Safia tidak punya hak. Namun, Akhmar tidak perlu menjawab dengan kalimat penuh dengan kekerasan. "Saya juga tidak mau tau, untuk apa?" Safia melangkah ke depan dua kali, melewati Akhmar yang berdiri di samping kanan. Ketika kedua kaki Safia akan melangkahkan ketiga kalinya, ia mendengar Akhmar berteriak. "Aku di sini," teriaknya.
__ADS_1
Safia berhenti. Membalikkan badan dan terkejut. Melihat seorang lelaki yang sama mudanya berlarian menghampiri Akhmar, bahkan saat Safia melirik atasannya itu. Akhmar begitu senang menyambut pria itu. "Nggak mungkin." Safia menggelengkan kepala. Ini gila kalau memang benar.