
Safia mengangkat kepala, menatap Faiz tajam. "Maaf, sesayangnya aku ke kamu, tapi harga diriku lebih penting!" Dengan tegas perempuan itu menolak mentah-mentah Faiz. "Kita putus!"
Faiz hampir naik darah. Safia tidak bisa dikendalikan. "Sayang, aku beneran menyesal. Kamu bisa paham, kan?" Mencoba meraih lagi lengan kanan Safia, tetapi nihil.
Safia mundur dua langkah ke belakang. Tetap pada pendiriannya. "Kamu kira aku anak remaja yang mabuk cinta? Nggak!" Safia tak peduli berapa orang yang memperhatikan mereka. Bahkan, perempuan itu sengaja berbicara keras agar setiap telinga yang mendengar bisa mencerna dengan baik. "Aku katakan sekali lagi kalau mulai sekarang, kita putus!" Kedua tangan Safia membentuk huruf X. Dadanya naik turun menahan amarah yang semakin menggebu-gebu.
Faiz tidak terima, ia menarik paksa tangan kiri Safia sambil berkata, "Aku nggak mau, ya, Fia! Kamu nggak bisa putus begitu saja!"
Safia kaget, berusaha untuk melepaskan diri dari Faiz. Mendadak area depan kantor sepi, karyawan tidak ada yang keluar kecuali satpam kantor. "Lepaskan!" Tenaganya tidak terlalu kuat untuk melawan Faiz yang pastinya lebih kuat.
Satpam kantor hendak mendekati mereka, Faiz dengan cepat melepaskan Safia. Sebelum satpam itu sampai, ia sempat menegaskan pada Safia. "Aku pastikan kamu nggak akan bisa hidup tenang!" Faiz pergi meninggalkan Safia dan satpam itu menghampiri Safia.
"Ada apa, Mbak Safia?" tanya satpam yang khawatir juga, terlebih melihat wajah Faiz penuh dengan kemarahan.
Safia tersenyum paksa. "Nggak ada apa-apa, Pak. Kami cuma bertengkar dan masalah pribadi."
Satpam lelaki itu terdiam sejenak, kemudian berujar, "Apa Mbak sama Mas Faiz putus? Tadi saya mendengarnya."
Safia mengangguk cepat, syukurlah ada yang mendengar. "Ya, Pak."
"Yang sabar, ya, Mbak. Hubungan itu memang rumit. Coba ditenangkan dulu hatinya, baru diskusikan lagi."
__ADS_1
"Nggak perlu, Pak. Saya rasa kami nggak bisa bersama." Safia lelah, memilih untuk berpisah saja. Ini jauh lebih baik.
"Kalau seperti itu, saya nggak bisa kasih saran lagi. Semoga saja Mbak Safia bisa dapat gantinya yang lebih-lebih. Aamiin."
"Aamiin." Safia tak memikirkan pengganti, trauma lebih pasti. "Saya ke cafe dulu, Pak. Mau beli kopi."
"Silakan, Mbak."
Safia melangkah maju ke depan. Dadanya masih sesak, tetapi ia tak menyesali keputusan ini. Sebab, apa pun yang dilakukan adalah hal yang sudah dipertimbangkan matang-matang.
Seperti yang sudah direncanakan, Safia membeli satu cup kopi. Hari ini berjalan sedikit menyedihkan karena ternyata kejadian kemarin cukup menakuti jiwa dan pikiran. Bayangan Faiz yang memaksanya menari-nari di mata, mengusik pikiran. Siang ini Safia tidak melaksanakan salat karena tadi pagi kedatangan tamu. Perempuan itu juga tidak ingin makan siang, memilih naik ke rooftop. Menyendiri di sana menjadi pilihan terbaik. Barangkali ada ketenangan yang bisa didapat.
Safia naik ke lantai delapan. Kemudian, perempuan itu menaiki tangga sebentar, dan sampailah di atas atap gedung tinggi tersebut.
Safia seakan terhipnotis. Kesadarannya hilang dan hanya ada angan-angan ketenangan yang dipersembahkan oleh bisikan gila itu. Kedua kaki Safia semakin dekat dengan ujung atap dengan pandangan perempuan itu kosong. Angin itu terus menerbangkan rambut Safia hingga wajah Safia sesekali tertutup.
Hanya tinggal dua langkah lagi menuju ujung, Safia masih belum sadar. Sampai akhirnya seseorang datang dengan niat yang sama, menarik lengan kanan Safia. Membawa Safia menjauh dari bahaya.
"Itu bahaya!" Orang itu berteriak.
Safia tersentak. Berdiri menjauh dari ujung rooftop.
__ADS_1
"Kamu mau bunuh diri?" Sosok itu bertanya lagi. Safia berbalik badan, menatap lekat sosok tersebut. "Jangan lakukan hal yang Allah benci." Napas orang itu tersenggal-senggal, sepertinya kaget.
"Aku kenapa?" Safia bertanya balik. Memperhatikan sekitar. "Astagfirullah, apa yang aku lakukan?"
Sosok yang ternyata Akhmar menolong Safia. Lelaki itu datang dengan maksud menenangkan diri di rooftop karena belum beradaptasi dengan padatnya kantor pusat. Lebih mengenal lagi ibu kota yang menjadi pusat negara tercinta. "Tadi pagi, saya melihatmu seperti selesai menangis. Apa itu yang menjadi alasanmu ingin mengakhiri hidup?"
Safia mengerutkan kening. "Maksud Pak Akhmar?" Ia kurang mengerti. Memang betul Akhmar melihatnya dalam keadaan menyedihkan. Mata sembab setelah habis menangis di toilet.
Akhmar memberi jarak satu meter dari Safia, melihat angin kembali menerbangkan rambut wanita itu sampai menutupi wajah manisnya. "Saya tidak tau apa yang terjadi sama kamu, tapi saya harap kamu tidak sampai melakukan hal yang Allah benci. Apa kamu pikir bunuh diri itu baik? Apakah kamu tidak bisa mencari jalan keluar terbaik selain ini?"
Safia menyalipkan rambut ke telinga kanan. Kini tak ada lagi rambut nakal yang menutupi wajahnya. "Saya tidak berencana bunuh diri, Pak."
"Lalu, apa yang sedang kamu lakukan tadi?" Akhmar sedikit menaikkan nada bicaranya. Ia takut salah satu karyawannya berbuat di luar kendali. "Apa kamu bisa jelaskan?"
Safia bingung. Ia saja tidak tahu, apalagi Akhmar.
Akhmar menghela napas kasar. "Sudahlah, jangan dibahas lagi." Mengakhiri perbincangan ini. Biarkan itu menjadi rahasia Safia, yang terpenting perempuan itu bisa terselamatkan dengan baik. "Saya harap kamu tidak sampai melakukan hal itu lagi, bahaya!" Akhmar berbalik badan, melangkah dua kali ke depan. Kemudian, berhenti lagi. "Soal di lorong toilet tadi, saya tidak ingin tahu sebenarnya. Tapi, kalau memang ada hal yang kamu rasa berat. Mendekatlah ke Yang Maha Kuasa. Sebaiknya memperbaiki diri dibandingkan menyalahkan takdir."
Akhmar berjalan semakin menjauh dari Safia. Bayangan ketenangan itu hanyalah khayalan semata, padahal ia sedang ingin sendiri. "Sepertinya aku harus keluar gedung saja." Lelaki itu membuka pintu dan turun.
Sementara itu Safia tertegun mendengarkan nasihat Akhmar. Pria itu datang sebagai manajer baru, tetapi seolah-olah berperan menjadi teman lama yang tahu segalanya. "Pria itu. Dia nggak tau apa yang sudah aku lewati." Safia memejamkan mata, berjalan mendekati bangku panjang yang ada di sana. Duduk diam mengamati kepadatan kota dari atas. Setelah berdiam sekitar lima menit, Safia terus menimbang nasihat Akhmar. Perkataan pria itu tidak sepenuhnya salah, Safia memang seharusnya memperbaiki diri. Ia memperhatikan penampilannya, merogoh ponsel di saku blazer. Kemudian, melihat postingan beberapa teman yang sudah hijrah. "Mereka terlihat manis." Ada sebagian hati kecil Safia tergerak untuk mencoba. Namun, sebagian hatinya lagi sedikit ragu. Apakah ini teguran dari Allah lewat kejadian kemarin? Mungkinkah kehadiran Faiz itu sebagai pengingat Safia bahwa dirinya sudah melangkah ke arah yang salah.
__ADS_1
"Aku harus berubah. Bismillah," ujar Safia.