
Pada akhirnya Safia harus menginap di rumah sakit untuk semalam. Mengingat tak ada keluarga di sini, ia hanya ditemani Maria. Namun, tak menyangka jika Akhmar akan datang selepas salat Magrib.
Akhmar datang tidak sendiri, melainkan dengan ibunya. Mengingat malam itu memang ada jadwal check up sang ibu di rumah sakit yang sama.
Safia terpukau melihat kecantikan ibu Akhmar. Umurnya bisa terbilang hampir menyentuh setengah abad, menurut penuturan Akhmar. Akan tetapi, kecantikan wanita paruh baya itu masih terpancar nyata.
"Ibu baru tau kalau Akhmar memiliki bawahan yang secantik kamu, Nak," puji Bu Kartini pada Safia.
Maria diam, berdiri di samping kanan ranjang rumah sakit. Sementara Akhmar dan Bu Kartini ada di samping kiri.
Safia malu. "Saya wanita biasa, Bu." Tidak menyangka atasannya ternyata lahir dari seorang ibu yang lembut dan penuh cinta. Pantas saja lelaki itu terkadang memperlakukan wanita begitu lembut. Memang peran pengasuhan sejak kecil akan berdampak di waktu besar.
Akhmar diam. Keberadaannya di sini untuk mengecek keadaan Safia, tetapi tidak mungkin meninggalkan ibunya di lantai dasar sendiri.
"Sesekali main ke rumah. Kamu juga, Nak." Bu Kartini beralih pandangan pada Maria. "Ibu pasti senang kalau ada teman atau bawahannya yang datang, apalagi perempuan. Ada teman berbicara."
Maria tersenyum. "Insyaa Allah, Bu." Terharu dengan kelembutan Bu Kartini.
"Bu, mereka ini perempuan. Tidak seharusnya berkunjung ke rumah laki-laki," ucap Akhmar.
Bu Kartini melirik Akhmar. "Di sana kan kamu juga jarang keluar kamar, Nak."
__ADS_1
Safia dan Maria saling melempar pandangan.
"Tapi, tetap saja. Sebaiknya perempuan tidak mengunjungi kediaman seorang lelaki, begitu pun sebaiknya. Kecuali memang ada hal darurat. Ibu selalu bilang kalau fitnah itu lebih kejam dari apa pun." Akhmar mengingatkan.
"Astagfirullah." Bu Kartini mengelus dada.
Safia menatap Akhmar sebentar. Wajar saja Akhmar begitu menjaga jarak dengan lawan jenis, rupanya memang Akhmar memiliki prinsip yang kuat.
"Kalau seperti itu, kapan-kapan kita makan bersama di luar saja, ya." Bu Kartini melirik satu per-satu wajah Maria dan Safia. "Ibu dan Akhmar baru pindah ke sini beberapa minggu. Jadi, belum tau banyak tempat ini."
Safia tersenyum kecil. "Insyaa Allah, Bu. Nanti saya ajak ke kedai makanan terenak di kota ini." Entah mengapa Safia merasakan ketertarikan pada Bu Kartini. Bukan tentang cinta, tetapi layaknya seorang anak pada ibu kandung.
Ponsel Maria berbunyi, ada telepon masuk dari keluarganya. Wanita itu pamit ke luar, begitu pun dengan Bu Kartini yang mendadak ingin ke kamar kecil. Kini tinggal Safia dan Akhmar saja. Suasana berubah canggung. Baik Akhmar ataupun Safia saling diam.
Akhmar tenang. "Saya melakukannya karena kemanusiaan." Lelaki itu mencoba mengalihkan pandangan ke mana pun.
Sudah Safia duga. Tidak ada alasan kuat untuk Akhmar menolongnya selain itu. "Ah, saya tau itu. Sekali lagi terima kasih."
Akhmar melirik ke kamar mandi. Ibunya belum terlihat kembali. Kemudian, beralih melihat Safia. "Saya cuma minta satu hal dari kamu. Semoga saja kamu bisa paham."
Safia mendongkakan kepala seraya berkata, "Apa itu, Pak."
__ADS_1
"Jangan menangis lagi di depan saya."
Safia tertegun.
"Seperti apa yang saya katakan tadi siang, saya tidak punya hak menghapus air matamu. Lebih tepatnya, saya tidak bisa menyentuhmu." Akhmar menjelaskan lebih detail.
"Kenapa?" Safia seolah tidak sadar mengatakan itu. Wajah Akhmar seakan menghipnotis dirinya.
Akhmar tertegun sejenak. Pertanyaan yang dirasa memiliki jawaban yang sudah pasti. Seharusnya Safia tidak perlu menanyakan itu kembali.
"Padahal saya ini wanita yang dicap gampangan. Penampilan saya mungkin berubah, tapi jejak digital saya tidak pernah hilang. Seharusnya Pak Akhmar biasa saja," ujar Safia.
Akhmar kaget, langsung menangkap dua bola mata Safia dengan manik-maniknya. "Bagi saya, perempuan itu harus dihormati. Tidak peduli di masa lalu dia seperti apa, semua tetap punya kehormatan."
Maria selesai menerima telepon, hendak masuk kembali. Namun, kedua kakinya tertahan ketika melihat interaksi antara Akhmar dan Safia.
"Kamu mau berubah, kan? Kamu mau lebih baik?" tanya Akhmar.
Safia mengangguk pelan. "Ya, Pak."
"Jangan dengarkan apa kata orang. Anggap masa lalumu itu sebagai pelajaran. Yang terpenting, jangan berubah karena manusia karena sejatinya manusia itu tempat kecewa. Niatkan semua karena Allah."
__ADS_1
Safia bergeming. Sekali lagi sebuah nasihat di dapatkannya. "Pak Akhmar." Dengan lembut Safia memanggil nama atasannya. "Selain alasan kemanusiaan. Apa ada lagi alasan Pak Akhmar begitu menggebu-gebu menolong saya? Ini terlalu berlebihan, makanya saya sedikit penasaran."