Menunggu Cincin Di Jari Manis

Menunggu Cincin Di Jari Manis
Salah


__ADS_3

Safia terdiam dengan kening mengerut kencang. Kemudian, tersadar. "Maaf, Pak, maksudnya apa, ya? Saya kurang paham." Keadaan menjadi semakin canggung.


Akhmar terdiam beberapa detik, lalu memijat pelipis kanan. "Ah, maaf, sepertinya saya terlalu lelah sampai salah berbicara." Lelaki itu memang sedang tidak enak badan sejak masuk kantor.


Safia semakin penasaran. "Tunggu, salah bicara. Jadi, maksud Pak Akhmar sebenarnya ini apa, ya?" Jangan sampai mereka salah paham.


Akhmar menghela napas kasar. "Begini ..." Kembali menjeda perkataannya agar bisa memberikan waktu untuk bisa berpikir. "Maksud saya itu, apa kamu mau berjanji sama saya?"


"Janji seperti apa, Pak?" tanya Safia.


"Kalau suatu saat ada orang yang melakukan hal yang sama seperti lelaki tadi. Seharusnya kamu melawan. Jangan hanya membiarkan harga dirimu dimainkan begitu saja." Akhmar menjelaskan secara detail.

__ADS_1


"Ah, begitu, ya." Safia menelan ludah. Hampir saja berpikir ke arah gila. Mana mungkin juga.


Akhmar memperhatikan Safia seolah bisa menebak apa yang ada di batas pikiran wanita itu. "Kamu salah paham dengan perkataan saya yang pertama?" Langsung bertanya.


Safia tertegun. Ternyata ketahuan juga.


Akhmar menyunggingkan senyum kecil. "Sudah saya duga. Sebelumnya saya minta maaf, tapi perlu saya luruskan di sini kalau saya tidak tertarik dengan namanya pacaran."


Akhmar mengangguk-angguk. Memang salahnya juga. Akan tetapi, untuk mempertegas kalimatnya. Tentu Akhmar perlu membeberkan penjelasan secara detail. "Saya akui, itu kesalahan saya. Mohon maaf."


Safia tak bisa berkata-kata lagi. Itu hak Akhmar. Untung saja Safia belum larut dalam kesalahan Akhmar. Jika sudah terbang, sudah dipastikan dirinya akan terjatuh dari ketinggian beribu-ribu kaki sampai bisa saja hancur lebur. Semesta masih menyelematkan.

__ADS_1


"Tidak masalah. Anggap saja kita impas karena melakukan kesalahan." Safia tidak ingin memperpanjang masalah. Ia menghela napas lelah dan berkata, "Saya permisi lebih dulu, Pak." Kaki kanan Safia melangkah ke depan, melewati Akhmar dengan perasaan tak karuan. Terlalu lama bersama lelaki itu, rasanya sulit bernapas.


"Selain tidak ingin berpacaran, saya juga tidak percaya dengan pernikahan." Mendadak Akhmar mengungkapkan isi pikirannya. Pantas saja Safia menghentikan langkah, kaget. "Mungkin bukan tidak percaya, tapi saya tidak tertarik."


Saat ini yang ada di dalam pikiran Safia adalah keingintahuannya tentang alasan Akhmar. Namun, mulut Safia sulit menanyakan hal itu. Ah ... menyebalkan.


Akhmar hanya bisa menatap punggung Safia. "Kamu pernah tanya apa ada alasan lain karena saya selalu menolongmu? Sebenarnya ada," tambah Akhmar.


Jantung Safia diberikan kejutan lagi. Sepertinya Akhmar akan berterus terang kali ini. Oleh sebab itu, Safia membiarkan lelaki yang berstatus manajernya tersebut untuk menguasai waktu. "Seperti yang sudah saya duga, perhatian Pak Akhmar ini terlalu berlebihan. Jadi, saya rasa ada alasan lain di balik itu." Safia memberanikan diri untuk berbicara, sekali pun keadaannya kurang bagus sekarang.


"Kamu benar." Akhmar tidak menyangkal. Sepandai apa pun bersembunyi, jelas saja akan tertangkap juga jika sudah waktunya. "Saya pernah kehilangan seseorang yang saat itu bisa dikatakan cinta pertama. Saya bukan belum bisa menerima kenyataan, tapi posisi kamu saat ini sama seperti yang dirasakan dia dulu," jelas Akhmar.

__ADS_1


__ADS_2