
Perubahan Safia ini menyebar ke seluruh penjuru gedung. Biasanya, gosip terbaru akan cepat menyebar di kalangan para karyawan perempuan. Ini sudah biasa.
Safia sendiri diberikan dukungan oleh banyak pihak, termasuk temannya, Maria.
Gadis berusia satu tahun lebih tua dari Safia itu sangat mendukung dan memberikan semangat.
"Kamu cantik dan kamu pasti bisa," kata Maria.
Hal ini berhasil membuat semangat Safia menggebu. Memang dikatakan cukup sulit ketika memakai hijab di cuaca ibu kota yang panas cetar membahana. Rasa ingin membuka, membiarkan rambut panjang terurai menjadi godaan terbesar. Namun, Safia berusaha sebisa mungkin agar bisa kuat.
Safia bertugas membuat laporan keuangan mingguan. Ini sudah dilakukan sejak manajer lama bekerja. Namun, biasanya Pak Suseno memberikan jeda sekitar dua hari untuk menyelesaikannya. Akan tetapi, kali ini manajer baru itu berbeda. Satu hari harus selesai. Tentu menjadi beban tersendiri dan hampir membuat Safia sulit diajak bicara ketika sedang fokus bekerja.
"Fia, kamu mau makan siang di mana?" Maria iseng bertanya ketika arloji di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Safia tak bergeming, kedua matanya fokus pada setiap ratusan angka yang hampir membuat kepala gadis itu terasa pecah. Gila memang.
Maria yang duduk di samping kanan meja Safia melirik sekilas, memperhatikan temannya itu yang sejak pertama duduk di bangku pagi ini tak bersuara sedikit pun. Hening sekali. "Fia, kamu mau makan di mana?" Sekali lagi Maria bertanya, barangkali Safia kurang mendengar.
Nihil, Safia tak menjawab. Mari memutuskan menggeserkan kursi dorong ke samping kiri, menengok apa yang sedang dikerjakan temannya itu, kemudian berkata, "Kamu fokus banget kerjanya. Bukannya laporan ini bisa diserahkan besok siang?" Suara Maria tepat di telinga Safia, sengaja.
Sontak saja Safia menjauhkan kursi, menoleh ke arah Maria. "Astagfirullah, Maria." Safia menatap lekat mata Maria.
__ADS_1
Maria terkekeh geli. "Kamu itu serius banget kalau kerja. Ini bukannya bisa diserahkan besok siang?" Setahunya begitu. Jika setiap minggunya, tepatnya di hari Jumat siang semua laporan keuangan akan diserahkan. Dan, ini baru saja hari Kamis.
Safia inginnya begitu. Namun, kenyataannya justru terbalik. Mengingat Akhmar memintanya dengan tegas saja, cukup membuat bulu kuduk berdiri. Merinding. Safia menggeser lagi kursi ke tempat semula, kembali melihat layar komputer yang rasanya sangat membosankan. "Kalau manajer yang lama, sih, ya. Tapi, kan, kamu tau sendiri manajer kita baru."
Kening Safia berkerut kencang. "Apa peraturannya dirubah?" Rasanya tidak mungkin. Jika pun akan diubah, harus ada persetujuan direktur dahulu.
Kedua pundak Safia terangkat ke atas. "Aku nggak tau pastinya, yang jelas tadi pagi Pak Akhmar minta aku untuk selesaikan laporan keuangan mingguan di sore ini. Astagfirullah, orang itu!" Safia kesal.
Maria memperhatikan ekspresi Safia yang menunjukkan kekesalan. Semua orang pasti akan mengalaminya, ia pun akan melakukan hal yang sama. Padahal membuat laporan itu memang cukup melelahkan dan menyita waktu juga pikiran. Apalagi jeda waktu yang diberikan tidak longgar, sama saja dengan uji nyali.
Tangan Safia mengoreksi beberapa kesalahan yang dilakukan, inilah pentingnya pengecekan secara berkala. "Sebenarnya Pak Akhmar ini tujuannya baik, biar anak didiknya bisa disiplin. Cuma, kalau seperti ini apa nggak menyiksa namanya? Dia pikir bikin laporan itu gampang!" Safia terus berceloteh. Memang aslinya Safia tidak sependiam itu, hanya saja gadis itu tidak banyak bergaul dengan banyak orang demi menghindari banyaknya perbedaan pendapat. Cukup bersama Maria saja.
Maria menepuk pundak kanan Safia dan berkata, "Tapi, kalau dipikir lagi, manajer baru kita itu bisa bikin semangat kerja tau." Maria tersenyum ketika membayangkan wajah Akhmar. Bagaimana tidak, dengan postur tubuh yang tinggi ditambah wajah Akhmar tampan rupawan dan penampilannya yang selalu dijaga, Akhmar mampu mencuri banyak perhatian karyawan perempuan. Termasuk juga anak buahnya. "Dibandingkan tim lain, kita beruntung dapat manajer yang masih muda. Kamu nggak tau, ya, manager tim pemasaran. Udah tua." Maria tertawa seenaknya.
Maria melirik sinis Ronald, si anak paling rajin dan berkacamata hitam itu memang menjadi anak kesayangan Pak Suseno dari dulu.
"Ketahuan Pak Akhmar, habis kamu!" Ronald memperingatkan Maria.
"Dih, bentar doang." Maria memanyunkan bibir, kesal.
Safia fokus lagi ke depan sambil berbicara dengan Maria. Ini bisa sedikit mengurangi rasa stres ketika dikejar deadline.
__ADS_1
Maria kembali ke perbincangan dengan Safia. "Kalau aku jadi kamu, setiap minggu bisa masuk ke ruangan manajer untuk menyerahkan laporan. Pastinya aku bakal cari kesempatan."
Safia melirik Maria. "Kesempatan untuk apa?" Rasanya Safia kurang mengerti.
Maria semakin mendekati Safia, memperhatikan sekitar. Barangkali ada tanda-tanda kedatangan Akhmar dari arah yang tidak terduga. Setelah dirasa aman, barulah Maria berbisik di telinga Safia. "Kesempatan buat dekat sama Pak Akhmar dong. Kamu, kan, tau sekarang Pak Akhmar jadi incaran para cewek di kantor ini, bahkan yang sudah menikah saja masih mengincar."
Safia kaget, hampir salah menginput.
"Jangan bilang siapa-siapa, ya, katanya Pak Akhmar ini masih lajang." Maria meneruskan kalimatnya. Informasi yang didapatkannya dari seseorang yang terpercaya.
Safia melirik ke kanan ketika Maria sedikit memberikan ruang di antara mereka. Maria ini memang bisa dikatakan sering sering menampung banyak gosip di sekitar gedung. Hanya saja Safia tidak terlalu ingin tahu. "Kamu ini kebanyakan ikut bergosip sama tim marketing, ya?" Semua penghuni gedung tahu kalau karyawan perempuan tim marketing itu paling cepat tahu satu gosip. Terlebih mereka memang sangat cantik dan manis, terutama wanita manis yang menjadi idola para karyawan lelaki di gedung ini. Safia lupa namanya.
"Ini juga bisa jadi informasi paling menarik. Kan, berguna juga." Maria tersenyum kecil.
"Astagfirullah, Maria, nggak boleh lho." Memang Safia bukanlah wanita yang alim, tetapi berusaha menghindari perkumpulan yang sering bergosip. Tidak suka saja.
Maria melirik ke kanan dan ke kiri. "Mereka saja mau mengincar Pak Akhmar, katanya ada yang pengen dialih tugaskan ke tim keuangan demi bisa dekat sama Pak Akhmar," kata Maria lagi. Hal ini ia dapatkan beberapa jam sebelum masuk dari salah seorang temannya.
Safia tak habis pikir. Namun, tidak heran juga. Ketika dirinya dimabuk cinta terhadap Faiz pun, rela merogoh banyak uang demi kencan dengan pria itu. Membelikan banyak hadiah untuk Faiz tanpa peduli seberapa mahal barang tersebut.
Di tengah kesenangan keduanya yang tengah berbincang-bincang, Akhmar datang dari arah kanan. Memperhatikan Safia yang sibuk berbicara dengan Maria, tetapi Maria sudah memergokinya.
__ADS_1
"Aku kalau jadi mereka, mana mau dekat sama Pak Akhmar. Orangnya menyebalkan dan selalu ingin tau urusan orang lain." Safia memijat kening, pusing.
Maria menelan ludah, melihat kedatangan Akhmar yang tinggal empat langkah lagi ke depan mereka. "Fia." Maria mencolek paha kanan Safia sambil mengedipkan mata kanan, memberikan isyarat.