Menunggu Cincin Di Jari Manis

Menunggu Cincin Di Jari Manis
Jurus Karate


__ADS_3

Safia mundur lagi dua langkah sampai mentok ke badan mobil. "Jangan berani melakukan apa pun, ya, Pak! Saya bisa karate." Kedua tangannya ke atas dan mengepal.


Akhmar tertawa lepas. Tentu saja Safia kebingungan.


"Cepatlah masuk mobil. Saya antarkan kamu pulang." Akhmar berbalik badan sambil berkata demikian. Tidak langsung berjalan. "Sebaiknya simpan jurus karate kamu untuk hal-hal yang lebih berguna."


Safia menurunkan kedua tangan yang mengepal sambil menatap punggung Akhmar. Terdiam sejenak.


"Cepat! Saya harus mampir beli pesanan Ibu." Akhmar kembali berteriak dari depan mobilnya.


Safia segera mengambil tas dari mobil dan menyusul Akhmar. Masuk ke jok belakang serta memasang sabuk pengaman.


"Jangan lupa kencangkan sabuk pengaman. Petualangan akan segera dimulai." Akhmar menyunggingkan senyum kecil. Paling senang melihat wajah cemas dan terkejut Safia.


"Eh, Pak, jangan mengebut. Itu melanggar lalu lintas. Bapak mau saya laporkan ke polisi?" Baru saja Safia mengatakan seperti itu, mobil sudah berjalan pelan ke depan.


Akhmar sekali lagi menyunggingkan senyum. Di balik penatnya pekerjaan, ia bisa mendapatkan sedikit hiburan dengan sikapnya Safia.

__ADS_1


***


Keesokan harinya kesibukan di kantor tetap berjalan normal. Tim keuangan dikejutkan dengan satu rumor jika ada dari mereka yang melakukan kecurangan. Tentu semua yang ada di sana saling mencurigai satu sama lain, termasuk Doni yang lebih condong pada Lily. Mengingat Lily itu terlihat gaya hidupnya terlalu berlebihan.


"Kalian seharusnya mengamati dengan cermat siapa pelakunya," kata Doni ketika Maria dan empat orang lainnya berkumpul.


Safia sendiri belum datang ke kantor, masih di perjalanan.


"Ah, mana mungkin Lily. Dia itu baik, kok." Maria menyangkal. Selama berteman, Lily memang sangat baik. Sekali pun memang gaya hidupnya cukup di atas orang lain. "Kalian itu jangan suka menuduh. Lagian itu rumor siapa juga yang nyebarin?" Maria penasaran.


Maria berdecak kesal. "Udahlah, kita tunggu konfirmasi dari Pak Akhmar dulu aja."


Doni seketika berdiri dari tempat duduknya. "Bisa jadi Pak Akhmar sendiri pelakunya."


Bersamaan dengan itu Safia masuk ruangan. Ia berdiri di depan pintu sambil berkata, "Pelaku apa?"


Semua orang melihatnya.

__ADS_1


"Pak Akhmar jadi pelaku apa? Tadi kalian lagi membicarakan Pak Akmar, kan?" tanya Safia.


Maria mengerjapkan mata dua kali, sedangkan yang lainnya menunduk. Safia heran. "Kenapa kalian semua diam? Memangnya Pak Akhmar jadi pelaku atas kejahatan apa?" Sekali lagi Safia bertanya.


"Hm." Tiba-tiba suara Akhmar terdengar jelas di telinga Safia. Perempuan itu seketika tertegun. Tertangkap basah lagi, padahal ia juga baru datang. "Kalau kalian mau menggosip, sebaiknya cari waktu yang pas. Ini sudah waktunya masuk kerja." Akhmar melewati Safia begitu saja.


Doni melirik Safia, sedangkan Maria masih saja tak bergerak.


Akhmar berdiri di hadapan mereka semuanya. "Mengenai rumor yang beredar pagi ini. Sebaiknya kalian cerna dengan bijak. Kita belum tau kebenaran tentang ini, jadi tidak perlu saling menuduh!" tegas Akhmar. Kemudian, pria berjas hitam itu segera masuk ruangannya.


Lega. Safia bisa bernapas santai lagi. Ia pun mendekati Maria dan berbisik, "Mar, sebenarnya gosip apa yang beredar?" Rupanya Safia tidak tahu tentang hal itu.


Maria menghela napas kasar. "Katanya ada tim keuangan yang melakukan kecurangan. Nggak tau siapa, yang pasti gosip ini sudah tersebar ke seluruh penjuru kantor."


Safia bergeming. Ia sendiri baru mendengarnya. Dari sekian tim yang ada dan sudah lama bekerja, baru kali ini ada rumor tersebut. Semua orang bekerja dengan jujur selama ini.


Safia menoleh ke arah ruangan Akhmar. Mengamatinya dari dinding kaca. Terlihat jelas pria itu termenung dengan memegang kening. Masalah ini pasti mengguncang diri Akhmar sebagai pemimpin.

__ADS_1


__ADS_2