Menunggu Cincin Di Jari Manis

Menunggu Cincin Di Jari Manis
Jangan Tidur


__ADS_3

Mood Safia berantakan setelah keluar dari ruangan Akhmar. Perempuan berhijab itu menempelkan pipi kanan di meja, diam sejenak dari pekerjaan. Maria melirik Safia, sesekali mengelus punggung Safia seolah sedang menenangkan. "Kalau misal nggak dosa, aku pengen banget sumpal mulutnya pakai kertas yang banyak. Nyebelin banget!"


Apa yang dikatakan Akhmar memang benar. Begitu Safia keluar, ia langsung diberikan tatapan kurang menyenangkan dari beberapa teman perempuannya, termasuk Lili.


Maria terkekeh geli sambil menatap layar komputer. Masih ada satu laporan yang perlu segera diselesaikan sebelum pulang. "Kalau kamu bisa, kenapa nggak coba aja?" Menantang kembali Safia.


Safia melirik Maria. "Bisa, sih, tapi itu namanya nggak sopan. Cuma ...." Safia terdiam.


Maria menoleh, jari jemarinya berhenti mengetik. "Cuma apa? Kamu takut?" Sudah bisa menebak.


Safia memperlihatkan deretan gigi bersihnya, lalu berkata, "Itu salah satunya." Perempuan itu memejamkan mata. Merasakan kebisingan ruangan yang hanya senyap ketika lembur saja. Itu pun tidak setiap hari karena untuk lembur perlu persetujuan atasan. "Aku lelah banget hari ini." Ekor mata kanan Safia melirik jam dinding. "Masih ada waktu dua jam lagi buat pulang. Pekerjaanku selesai. Boleh tidur nggak, ya?"

__ADS_1


"Jangan!" Maria berteriak. Sontak saja beberapa temannya memperhatikan mereka. Maria sadar. "Ah, maaf." Merasa menjadi tempat sasaran empuk teman sekantornya.


Safia kembali memejamkan mata. Malas sekali untuk bekerja. Kehadiran Akhmar di kantornya jelas jadi sumber kekesalan Safia.


Maria kembali fokus pada Safia. Menepuk pundak kanan perempuan itu seraya berkata, "Kalau kamu ketahuan tidur di kantor. Kamu bukan cuma dapat omelan aja, tapi juga nasihat tujuh hari tujuh malam dari Pak Akhmar."


Sontak Safia membuka mata. Kalimat Maria ini seperti ancaman yang bisa membuat Safia sadar sekaligus ketakutan. "Kamu benar!" Perempuan itu langsung melek. Jangan sampai hal itu terjadi. "Pak Akhmar nggak keliatan keluar, kan?" Safia celingukan. Takutnya ada Akhmar tiba-tiba datang seperti kemarin.


"Astagfirullah, yang benar?" Safia membenarkan posisinya. Jangan sampai ketahuan Akhmar. "Kerja, Fia!" Menampar pipi sendiri.


Maria melirik Safia, tersenyum kecil. Pada hakikatnya Safia ini tipe wanita yang baik, tetapi kadang kecerobohannya membuat Safia sering melakukan kesalahan.

__ADS_1


"Nah, harus semangat dong!" Maria memberika motivasi.


Tanpa mereka sadari, dari jendela kaca Akhmar memperhatikan keduanya sejak tadi. Terdiam sambil memegang cup kopi pemberian Safia. Dilihat dari segi mana pun, Safia itu tetaplah perempuan ceroboh. Namun, pikiran Akhmar kini bukan tertuju pada orangnya, melainkan sesuatu yang pernah dilihat kemarin. "Aku yakin dia masih anak kantor ini."


***


Faiz selesai bekerja. Masih teringat percakapan lelaki yang bersama Safia. Setelah ditelusuri ternyata sosok itu adalah manajer baru dari tim keuangan. Faiz sempat curiga atas hubungan mereka. Benarkah hanya sekadar antara atasan dan bawahan? Atau bahkan melebihi itu? Semakin dipikirkan, kepala Faiz semakin sakit. "Ah, perempuan itu!"


Obsesinya terhadap Safia memang sudah berada di level paling tinggi. Faiz masih menyayangi. Lebih tepatnya sangat menginginkan Safia. Terlebih penampilan wanita itu pun semakin menarik.


Faiz terdiam ketika ruangan bercat putih polos itu hening. Semua orang sudah pulang bersamaan dengan jam kantor yang berakhir. Pria itu masih memikirkan cara mendapatkan kembali hati Safia. Mencoba memikirkan bagaimana bisa memilikinya lagi.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya Faiz menemukan cara. Ia mengeluarkan laptop pribadi dari tas. Menatapnya beberapa menit, lalu berkata, "Jangan salahkan aku, Fia." Lelaki itu tersenyum tipis sembari jari jemarinya bermain di keyboard.


__ADS_2