
Safia turun ke lantai empat. Bekerja seperti biasanya. Ia akan izin pulang lebih cepat karena merasa kurang enak badan. Mengingat manajer baru sudah datang, tentunya Safia harus izin pada Akhmar.
Keinginan Safia dikabulkan. Perempuan itu pulang sekitar pukul dua siang. Sebelum pulang, Safia menyempatkan diri pergi ke sebuah perbelanjaan. Hatinya tergerak untuk melihat-lihat gamis ataupun setelan panjang juga jilbab. Tekad kuatnya yang mendorong untuk hal itu.
Singkat cerita Safia sudah berada di toko khusus wanita muslimah. Banyak sekali gamis dan setelan tunik baik yang memakai celana ataupun rok dari berbagai model dan merk. Belum juga jilbab polos dan bermotif dengan warna yang beragam. Menarik hati para perempuan.
"Selamat datang, Mbak." Seorang pelayan perempuan menyapanya. Perempuan muda yang memakai jilbab hitam menutup dada lengkap dengan gamis hitam juga dengan aksen renda di bagian pergelangan tangan. Manis sekali. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"
Safia ragu, tetapi berusaha untuk tenang. Melihat sekitar, tokonya lumayan ramai dengan beberapa pelanggan yang memang adalah wanita muslimah. "Eh." Safia menelan ludah, sedikit malu. "Saya mau membeli baju juga jilbab, Mbak."
Pelayan perempuan itu tersenyum manis, menyambut dengan bahagia. "Silakan dilihat-lihat dulu koleksi kami, Mbak. Mungkin ada yang Mbaknya suka. Mari, saya temani."
Safia menurut. Dengan mengekor di belakang, ia terus mengamati setiap pakaian khusus perempuan itu dengan teliti. Semua modelnya bagus dan menarik, bahkan sangat elegan. Warnanya pun beragam dengan harga yang pastinya beragam juga.
"Mbaknya mau gamis atau setelan tunik?" Pelayan itu bertanya lagi.
Safia bimbang. Biasanya hanya memakai celana jeans ketat atau rok pendek dengan baju kemeja panjang, pendek, ataupun dres biasa. Tidak pernah memakai gamis.
"Kalau Mbaknya belum terbiasa memakai gamis, bisa pakai setelan tunik dulu," kata pelayan perempuan tersebut.
Mereka berdiri di depan patung yang sedang memakai setelan tunik rok berwarna coklat muda yang dipadukan dengan jilbab pasmina merah ati. "Ini adalah setelan tunik rok Azela yang paling best seller di toko kami. Ada juga setelan rok atau celana yang lainnya." Pelayan perempuan itu menjelaskan dengan baik agar Safia bisa mengerti.
Safia memperhatikan patung. Memang cantik.
__ADS_1
"Kalau Mbak mau, bisa dicoba dulu. Nanti saya perlihatkan varian warna lainnya. Saya juga bisa bantu carikan sekalian warna jilbabnya." Pelayan perempuan itu tersenyum manis. Berniat baik agar bisa membantu pelanggannya.
Safia berpikir sejenak, lalu berkata, "Boleh, Mbak. Kebetulan saya tidak terlalu pintar dalam memilih pakaian." Safia membalas dengan senyuman kecil lagi.
"Baik. Mari, ikut saya."
Keduanya berjalan ke arah kanan. Di sana pelayan wanita itu menunjukkan beberapa warna dari tunik yang sempat diperlihatkan. Safia memutuskan untuk mencoba warna hitam juga coklat muda. Tentunya mencoba pula jilbab yang sudah dipasangkan oleh pelayan perempuan tersebut.
Selama mengganti pakaian, tangan Safia bergetar hebat. Rasanya ada yang berbeda, debaran jantung yang bekerja lebih cepat dari biasanya. Ia grogi, tetapi juga penasaran bagaimana penampilannya. "Bismillah." Safia yakin.
Safia keluar. Pelayan perempuan itu terkesima seraya berkata, "Masya Allah, Mbak, cantik sekali." Wajah Safia terlihat lebih teduh dari biasanya. Bahkan, wanita itu sangat jauh berbeda dari pertama kali datang. "Mbak, bisa bercermin dan lihat sendiri hasilnya."
Kedua kaki Safia bergerak ke depan, menggerakkan badan ke arah depan. Tepatnya ke depan cermin dan menatap pantulan diri di sana. Safia tertegun, ini bukan dirinya. Jelas sangat berbeda.
Safia tidak bisa berkata-kata. Lekuk tubuhnya tertutupi dengan baik, lalu rambut hitam itu pun ditutupi jilbab yang sampai ke dada. Manis sekali.
"Sebagai wanita muslimah, kita memang sudah diharuskan untuk menutup aurat sepenuhnya. Saya senang sekali bisa membantu Mbak dalam memilihkan pakaian manis ini. Semoga Mbak senang juga memakainya," tutur karyawan tersebut.
Safia masih belum bisa berkata apa pun. Pantulan cermin itu benar-benar dirinya, bukan orang lain. Namun, dalam balutan yang berbeda. Pakaian yang terkadang dipakai di hari besar agamanya saja.
"Kalau Mbak sudah merasa ingin berubah ke arah yang lebih baik, itu hidayah dari Allah. Jangan ragu, saya pun dulu orang yang jauh dari ini. Saya wanita yang sering pergi ke hiburan malam dan berganti pasangan setiap malam, tapi Allah menegur saya lewat penyakit. Saya sadar, saya taubat dan memperbaiki diri. Yang saya lakukan saat itu mulai dari merubah penampilan juga belajar banyak hal. Saya yakin setiap kita di bumi ini punya salah, tapi pengampunan Allah itu luas," tutur pelayan perempuan itu.
Sejak awal melihat kedatangan Safia ke sini, pelayan itu seperti memiliki firasat tersendiri. Memilih mendampingi dengan baik agar bisa membuat Safia nyaman.
__ADS_1
"Bismillah, Mbak," kata pelayan itu lagi.
Safia baru saja akan membuka mulut ketika seorang wanita muda dengan gamis biru muda serta jilbab hitam itu menghampiri mereka.
"Maaf, Bu Amalia, sudah waktunya bertemu client," kata wanita itu.
"Sebentar, ya. Saya sedang melayani pelanggan spesial." Pelayan perempuan itu rupanya adalah owner dari butik tersebut.
Safia tersentak. Berbalik badan dan menatap lekat wanita bergamis hitam.
"Maaf, kalau saya terlalu ikut campur. Saya harap, Mbak bisa menentukan pilihan dengan bijak. Saya tinggal dulu. Assalamualaikum," kata owner perempuan itu sambil melempar senyum dan meninggalkan Safia dengan wanita yang baru datang.
Sekali lagi hati Safia tersentuh. Nasihat penuh cinta didengarnya lagi dan mampu menarik jiwanya untuk lebih memantapkan tekadnya.
"Itu owner kami, beliau orangnya baik sekali. Kalau ada pelanggan yang datang dan menurutnya spesial, pasti selalu dilayani dengan baik. Menemani pelanggan sampai bisa menentukan pilihan. Banyak sekali orang yang terbantu atas saran beliau. Dan, lebih manisnya lagi, beliau tidak pernah mengaku sebagai owner," ungkap wanita di depan Safia.
Safia terkagum. Punggung perempuan muda itu masih ada di pandangan mata, walaupun tidak terlalu jelas sekarang. Nasihatnya yang menyentuh hati bisa menjadi kenangan paling indah.
Safia memperhatikan penampilannya lagi, memang terlihat manis seperti ini. Ia pun merasa aman dan bebas. "Mbak, saya mau yang ini sama beberapa gamis juga jilbab. Apa bisa dibantu?" Safia akan mengambil uang dari tabungan untuk membeli pakaian baru. Mengubah penampilannya sambil memperbaiki diri ke jalan yang lebih baik.
"Insyaa Allah, bisa, Mbak." Wanita muda itu antusias.
Pada akhirnya Safia membeli empat potong pakaian dan empat jilbab juga. Keputusannya sudah bulat. Mulai besok akan berusaha lebih baik lagi.
__ADS_1
Setelah membayar, Safia langsung pergi dari toko itu menggunakan setelan tunik rok Azela berwarna coklat. Manis sekali.