Menunggu Cincin Di Jari Manis

Menunggu Cincin Di Jari Manis
Koridor Sepi


__ADS_3

"Tidak ada." Akhmar menjawab cepat.


Safia mengangguk pelan. "Begitu, ya." Perempuan itu menunduk, malu juga sudah menanyakan.


Tak berapa lama Bu Kartini dan Maria kembali. Mereka berbicara lagi tentang banyak hal sampai setengah jam. Setelah itu, Akhmar dan Bu Kartini pamit ke lantai bawah. Tentunya harus menemui dokter.


***


Esok harinya, berita tentang Akhmar yang menggendong Safia ke parkiran ini menyebar ke seluruh penjuru perusahaan. Begitu pun sampai ke telinga Faiz. Lelaki itu geram. Bekerja pun tidak bisa konsentrasi. Sejak kedatangan Faiz ke kantor sampai pukul sepuluh pagi, ia sama sekali tidak bisa mengerjakan pekerjaan. Hanya terus melihat ponsel, melihat apa ada balasan pesan dari Safia.


Nihil. Tak ada balasan apa pun. Gadis itu sudah tak menganggapnya lagi. "Beraninya dia!" Faiz marah. Memukul meja kencang sehingga beberapa rekan kerjanya menegur.


"Kalau kamu lagi kurang baik, mendingan pulang aja deh!"

__ADS_1


"Kerja itu harus fokus!"


Beberapa sindiran didapati Faiz. Mendengar itu, hati Faiz kian panas. Ingin menemui Safia, tetapi ini bukan jam istirahat. Larangan karyawan menemui sesama rekan di jam kerja, kecuali memang ada keperluan adalah sebuah peraturan kantor. Terlebih itu hanyalah tentang masalah pribadi. Bisa jadi bahaya sekali untuk posisi si karyawan.


Faiz memutuskan untuk membeli kopi saja. Mungkin otaknya bisa bekerja sama ketika sudah diberikan asupan yang sedikit baik. Faiz bergerak ke dekat lift, memencet tombol satu dan akhirnya lift itu pun terus turun. Selama di dalam lift, Faiz terus saja mengirimkan pesan spam pada Safia. Berharap wanita itu membalas atau sekadar membukanya. "Padahal aku udah bilang kalau nggak mau putus! Kenapa dia keras kepala banget!" Faiz semakin kesal.


Lift mengantarkan Faiz sampai ke lantai bawah. Begitu kedua kakinya menetap di lantai bawah, ekor mata kanan mendapati sosok yang sedari tadi ingin ditemui. Tentunya Safia, wanita itu berbelok ke koridor kanan. Di mana koridor itu terbilang cukup sepi karena mengarah pada gudang kantor yang dipakai untuk menyimpan arsip-arsip penting saja.


Bergegas Faiz mengikuti. Jangan sampai ada yang mengetahui. Faiz perlu berbicara dengan Safia perihal kejadian kemarin. Begitu mereka ada di koridor tersebut, Faiz langsung bergerak lebih cepat dan akhirnya menarik lengan Safia.


Sorot mata Faiz penuh dengan kemarahan. Kedua tangannya mengepal di bawah. "Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu sampai mau dibopong sama manajer barumu itu?" Faiz menatap tajam. "Ah, apa jangan-jangan alasan kamu minta putus itu karena manajer baru itu. Kamu selingkuh sama dia, kan?"


Safia melongo. Pembicaraan ini di luar nalar. "Gila kamu, ya?" Beberapa kali perempuan itu menggelengkan kepala. Arsip di tangan kanan Safia digenggam kencang, jangan sampai dijadikan alat untuk menampar pipi Faiz.

__ADS_1


"Kamu yang gila, Fia!" Amarah Faiz meledak-ledak. Kecemburuan menjadi faktor utama saat ini. "Kamu itu masih status pacarku, jadi kamu nggak berhak ngasih izin siapa pun buat lakuin hal itu seperti kemarin."


"Astagfirullah, Faiz!" Safia ikut terpancing emosi. Kalimat Faiz sudah melampaui batas. "Kita ini udah nggak ada hubungan apa pun. Kita berpisah secara baik-baik dan aku juga udah jelaskan alasannya. Apa kamu nggak sadar juga?"


"Nggak! Kamu tetap pacarku!" Faiz terlalu terobsesi. Safia merasa takut. Tanpa diduga Faiz mengambil langkah ke depan dua kali dan bersamaan dengan Safia yang mundur. Sayangnya, punggung Safia justru sudah sampai ke tembok. Tak bisa berkutik lagi. "Jangan uji kesabaranku, Fia! Kamu pikir semua orang bakal mikir kalau kamu itu perempuan baik-baik setelah apa yang tersebar?"


Kedua bola mata Safia membesar.


Faiz mengikis jarak di antara mereka. Bahkan kini tangan Faiz mengulur ke depan, hendak menyentuh pipi lembut nan mulus yang dulu sering dihujani dirinya kecupan. Rindu sekali.


Belum sempat tangan Faiz sampai, ia sudah tersungkur ke belakang karena Akhmar datang tiba-tiba dari belakang.


Safia terkejut. Entah kapan atasannya itu sudah ada di sini.

__ADS_1


"Jangan sembarangan menyentuh perempuan kalau kamu belum menghalalkannya!" Akhmar geram. Berdiri membelakangi Safia seolah sedang melindungi perempuan itu. "Perbuatanmu melanggar hukum. Saya bisa menuntutmu, termasuk tentang apa yang tersebar sekarang."


Faiz terperanjat. Berdiri secepat mungkin. "Seharusnya Anda tidak perlu ikut campur. Anda cuma seorang atasan, tidak ada hubungannya dengan Safia!" Faiz terlalu marah dan lupa situasi. "Jangan jadi pahlawan kesiangan kalau memang Anda juga mengincar Safia!"


__ADS_2