
Suasana kedai makan pun semakin ramai dengan pengunjung. Ada yang datang dengan keluarga, adapula yang datang dengan pasangan ataupun sendiri. Semua berhak menikmati keramaian serta hidangan yang bisa dipesan.
Semua yang satu meja dengan Akhmar menunggu jawaban lelaki tersebut, termasuk Safia. Hanya saja, Safia tidak berani menatap. Kembali menundukkan kepala, merasa malu. Padahal ini memang tidak ada hubungannya dengan Akhmar.
"Saya rasa itu bukan sesuatu yang perlu dijelaskan. Saya tidak suka hal pribadi diumbar ke publik," jawab Akhmar.
Sudah Safia duga, mana mungkin lelaki itu akan menjawab. Melihat dari sikap Akhmar saja sudah menjadi sebuah jawaban tepat, Akhmar bukan lelaki yang begitu mudahnya mengumbar hal pribadi dengan orang lain.
Lili tersenyum tipis, kalah. Padahal biasanya, ia akan bisa meluluhkan banyak lelaki. Benar-benar di luar dugaan. "Begitu, ya, Pak." Memilih untuk mengakhiri rasa penasarannya.
Pesanan mereka datang. Akhmar terus saja menikmati es jeruk yang ada di tangan sampai habis setengah gelas. Bukan karena haus, tetapi merasa tidak nyaman. Namun, juga tak enak jika menolak.
__ADS_1
Lili memesan steak ayam dibandingkan sapi, wanita itu kurang suka dengan hewan berkaki empat dengan badan besar tersebut. Perempuan itu hendak mengambil es jeruk miliknya yang kala itu berada di samping kanan piring Akhmar. Tangan Lili mengulur ke depan dan memang sengaja menyenggol punggung tangan kanan Akhmar yang sedang memegang piring. "Ah, maaf, Pak." Lili berekspresi dengan imut.
Akhmar terkejut, semua orang di meja itu pun memperhatikan mereka. Safia yang ada di depan Akhmar sampai mengangkat kepala lagi, mengamati reaksi lelaki itu yang terlihat sedikit risih.
"Saya tidak sengaja," ucap Lili sekali lagi.
Akhmar yang langsung menarik lengannya dari meja itu seketika berdiri. "Saya pamit ke toilet sebentar." Langsung meninggalkan bawahannya dengan sangat tergesa-gesa.
Maria menyenggol lengan Safia lagi, sehingga temannya itu menoleh. "Dia sengaja bukan?" Berbisik agar Lili tidak mendengar.
"Wah, kamu parah banget, Li. Mungkin aja Pak Akhmar ngerasa risih." Doni langsung peka dan menyalahkan Lili.
__ADS_1
Lili justru tenang, tidak merasa salah sama sekali. Mengambil gelas es jeruk miliknya. "Aku, kan, nggak sengaja. Lagian itu cuma sentuhan kecil, kenapa Pak Akhmar seperti ketakutan?" Menyeruput es jeruk dengan kening berkerut, mencari jawaban pasti.
Safia terdiam, ia teringat ketika di depan lift. Akhmar juga seakan begitu tidak nyaman ketika di depannya banyak orang. Mana mungkin cemas, bukankah Akhmar bekerja di antara banyaknya orang? Lantas kenapa?
Safia mendadak ingin buang air kecil, gadis itu berdiri dan akhirnya pamit ke toilet juga. Bukan bermaksud hendak menyusul Akhmar.
Safia berjalan melewati lorong mengarah pada toilet sambil melihat-lihat, begitu bagus keadaan di sini. Pantas saja menjadi salah satu kedai steak daging dengan pengunjung paling ramai karena interiornya pun cukup menarik, ditambah dengan fasilitas yang lumayan lengkap. Untuk rasa pun tidak diragukan lagi.
Safia terus bergerak ke arah toilet, di mana untuk lelaki dan wanita itu saling berdampingan. Perempuan dengan hijabnya itu berjalan tenang, lurus ke depan.
Langkah Safia berhenti sekitar satu meter dari toilet ketika pandangannya menemukan seseorang yang juga baru keluar dari pintu toilet. Mereka saling berpandangan dengan.
__ADS_1
Dada Safia naik turun, rasanya emosi ingin keluar meledak-ledak. Selangkah, dua langkah perempuan itu berjalan sampai akhirnya berada di depan orang yang dimaksud. "Apa yang kamu mau sebenarnya?" Tanpa basa-basi Safia langsung bertanya. Tidak peduli ada orang yang mendengar atau tidak, ia perlu menanyakan ini.